Biografi Singkat Max Scheler

Max Scheler lahir pada 22 Agustus 1874 dari keluarga Yahudi yang ortodoks di Munich. Scheler muda memiliki semangat di filsafat terutama mengenai Nietzsche, sosial-demorasi dan Marxist. Pada 1894 ia belajar di Munch dan setahun kemudian di Berlin. Pada 1896 Scheler pindah ke Jena dan dibimbing oleh Rudolf Eucken. Scheler tertarik pada ide hidup spiritual setiap manusia dari Eucken. 

Scheler bertemu dengan Edmund Husserl pada 1901. Ia mendirikan lingkaran “Fenomenolog Munich.” Filsuf Lingkaran Fenomenologi Munich antara lain Alexander Pfänder, Moritz Geiger, Theodor Conrad, Dietrich von Hildebrand, Hedwig Martius, Herbert Leyendecker, dan Maximillian Beck.

Bersama dengan Husserl, pada tahun 1912 Scheler bergabung dengan Lingkaran Fenomenologi Göttingen. Tokoh Lingkaran Fenomenologi Göttingen: Adolf Reinach, Hedwig Martius, Roman Ingarden, Alexandre Koyré dan Edith Stein.

Scheler terpengaruh Lebensphilosophen (philosophers of life) yang menolak pola pikir reduktif dari ilmu pengetahuan positif dan pragmatisme yang melihat manusia sebagai alat (homo faber – tool maker). Di akhir hidupnya, Scheler menulis tema pokok dari pikiran dan tulisannya yaitu mengenai pertanyaan makna manusia. Pertanyaan ini tidak hanya menjadi petunjuk untuk memahami filsafatnya, tetapi juga pendekatannya terhadap filsafat dan pemahamannya mengenai filsafat.

Manusia Praktikal

Manusia, bagi Scheler, adalah makhluk yang praktikal. Manusia mencari cara untuk memanipulasi lingkungannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan menghindari penderitaan. Pengetahuan praktis (practical knowledge) dan kesadaran prakatis (practical consciousness) adalah bentuk pertama dari pengetahuan individual. Filsafat bagi Scheler adalah “loving act of participation by the core of the human being in the essence of all things.”

Cinta Kasih sebagai Kunci

Satu kata kunci khas dari Scheler adalah mengenai cinta atau kasih (love). Banyak hal dalam sistem filsafat Scheler dikaitkan dengan cinta atau kasih. Rasa heran adalah perhatian yang penuh kasih bagi dunia sebagaimana hal itu menandai perpindahan dari hal praktis menuju filosofis. 

Manusia adalah makhluk yang mengasihi sekaligus filosofis. Manusia tidak digerakkan oleh rasa yang kurang (seperti eros). Manusia digerakkan oleh makna yang penuh bahkan berlebihan mengenai dunia. Modernitas membawa etos kontrol dan dominasi yang mentransformasi dunia menjadi objek dari kegunaan. Scheler mengajukan pembenahan makna keutamaan, secara khusus keutamaan kemanusiaan.

Tiga Bentuk Pengetahuan

Ada tiga bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan praktis, Bildungswissen atau erudition dan pengetahuan wahyu. Setiap pengetahuan memiliki kekhasan dan tidak dapat direduksi satu sama lain. 

Setiap pengetahuan jug memiliki asal dan dimotifasi dengan perasaan yang berbeda. Pengetahuan praktis dimotivasi oleh sakit fisik atau takut atau rasa salah. Eruditiondimotivasi oleh rasa heran. Pengetahuan wahyu dimotivasi oleh rasa kagum. Filsafat termasuk dalam erudition.

Pengetahuan bagi Scheler adalah relasi antara pengada-pengada (beings), sebuah relasi di mana sebuah pengada berpartisipasi dengan pengada lainnya. Pengetahuan bukanlah tindakan merekonstruksi (sebagaimana yang diajukan oleh neo-Kantian). 

Pengetahuan adalah bentuk dari penemuan – penemuan yang membutuhkan kerendahan hati seseorang untuk membuka dirinya kepada yang lain dan mengandaikan adanya keinginan untuk membuka diri pada yang lain.

Emosi dan hidup afektif adalah fondasi dari berbagai macam pengetahuan. Sebelum dunia diketahui, emosi diberikan terlebih dahulu. Cinta adalah sesuatu yang membuka mansuia kepada dunia dan kepada yang lain. Keterbukaan ini menunjukkan bahwa ada sebuah prasyarat moral bagi pengetahuan. 

Pengetahuan hanya mungkin bagi a loving being – pengada yang penu hkasih. Kasih adalah gerakan transendensi, sebuah gerakan melampaui dirinya sendiri, dan membuka pada makna yang lebih kaya. Cinta selalu diarahkan kepada relasi yang tak terbatas, sampai nilai absolut dan being. Pengetahuan pada akhirnya adalah berasal dari yang ilahi dan bagi yang ilahi. 

Scheler vs Husserl

Bagi Scheler, fenomenologi tidak hanya metode, tetapi perilaku. Perilaku fenomenologis tidak menegasi pengetahuan praktis ataupun saintifik, tetapi menunda putusan. Penundaan ini digerakkan oleh cinta akan dunia agar menemukan makna terlebih dahulu. Fenomenologi mengasumsikan adanya rasa percaya kepada dunia dan kepada pengalaman. 

Dunia memberikan diriny akepada intuisi, memberi isyarat kepaa kita untuk berpartisipasi lebih penuh dalam maknanya. Berdasarkan kepercayaan ini, dunia terberi. Sikap fenomenologis adalah ekspresi akan kepercayaan dan pencarian untuk mendeskripsikan objek sebagaimana adanya dsebagaiamana itu diberikan kepada diri ktia secara terberi.

Karya Fenomenologi Scheler antara lain Phenomenology and Theory of the Feeling of Sympathy and of Love and Hate (1913), Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Value (Part 1 1913, Part 2 1916), The Genius of War and the German War (1915). Topik -topik lain filsafat Scheler antara lain personalisme, komunitas, solidaritas, teori sosial-politik, antropologi, metafisika, dan etika. 


Sumber: 

Davis, Zachary dan Anthony Steinbock, Max Scheler, dalam https://plato.stanford.edu/entries/scheler/#BioSke diunduh pada Selasa, 19 Februari 2019 pukul 20.50 WIB.