11 Maret 2018, Women’s March Feminisme Yogyakarta kembali mengeluarkan aspirasi-aspirasi dari kaum feminis. Banyak perempuan yang turut ikut turun jalan di sepanjang jalan Malioboro untuk menggelar aspirasinya tentang pembelaan-pembelaan hak wanita dan laki-laki yang terdiskriminasi. 

"Kami di sini untuk membela kaum wanita yang tertindas. Karena kami tahu banyak wanita yang didiskriminasi, banyak wanita yang mengalami pelecehan tetapi hanya diam. Kami hadir di sini untuk membela," Jelas Ayu saat berorasi di titik 0 km jalan Malioboro.

Saat saya mengikuti sebuah kajian di Map Corner UGM, saya bertemu dengan seorang pejuang hak-hak wanita, Ibu Nurul seorang feminis Cirebon. "Masalah-masalah sosial yang dihadapi kaum wanita yaitu saat mereka disubordinasi, adanya kekerasan seksual, peran ganda, termarjinalisasi, serta adanya streotipe,” ujar beliau

Dalam agama Islam, sudah tentu masalah ini sudah sangat seksi untuk diperbincangkan. Bu Nurul mengatakan bahwa konsep keadilan dan kesetaraan antara relasi perempauan dan laki-laki tertuang dalam konsep muasyarah bil ma’ruf

Kemudian saya bertanya kepada beliau, "Siapakah tokoh feminisme dalam Islam?" Pertanyaan saya dijawab beliau dengan begitu apik, "Nabi Muhammad adalah tokoh feminisme Islam. Beliau membela dan membebaskan budak-budak perempuan, menentang kebiasaan-kebiasaan jahiliyah mengubur bayi perempuan hidup-hidup."

Dalam dunia ini, Allah menciptakan manusia manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling bertakwa di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan Allah maha mengenal

Manusia yang diakui sebagai makhluk yang memiliki sebagai-baik bentuk memiliki dua jenis "laki-laki dan perempuan". Kedua jenis ini menguasai jagat raya alam semesta ini. Namun, tidak salah juga bahwa keduanya juga memiliki masalah-masalah ketimpangan yang luar biasa. Dalam perkembangannya, laki-laki menguasai perempuan dalam berbagai bidang:ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya.

Dalam suatu pengertian selalu ada sesuatu perspektif feminis, di mana pun perempuan disubordinasi. Dan mereka hampir selalu disubordinasi di segala tempat, mereka tampak telah menyadari dan memprotes situasi itu dalam suatu bentuk. Sementara bukti-bukti dapat dilacak pada tahun 1630-an, titik-titik puncak kegiatan dan tulisan feminis terjadi pada momen-momen liberasionis sejarah modern Barat. 

Akan tetapi, dari waktu ke waktu, sebuah karya dari perempuan akan dipinggirkan, dicaplok, diabaikan atau disisihkan dari laporan publik. Saya sebagai mahasiswa sosiologi juga merasakan dari sebuah karya sosiologi kebanyakan berasal dari tokoh laki-laki seperti Durkheim, Weber. Padahal banyak tokoh sosiologi perempuan beserta pemikirannya yang bersifat menabjubkan seperti Jane Addams, Anna Julia Copper.

Kesetaraan dan keadilan gender selalu menjadi isu menarik di zaman modern ini. Beragam pendapat golongan pro dan kontra mewarnainya. Sejumlah ayat Alquran telah menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama di hadapan Allah. Sehingga dalam pandangan Islam, antara laki-laki dan perempuan memiliki akses yang sama dalam berpartisipasi, wewenang, dan tanggung jawab sebagai makhluk Allah serta mendapatkan balasan atas perbuatannya.

Lantas kodrat perempuan itu harus bagaimana? Sering kali saya mendengar kodrat perempuan dijadikan alasan di berbagai peran dalam keluarga maupun masyarakat. Kaum laki-laki sering dianggap lebih dominan dalam memainkan peran, sementara perempuan memperoleh peran terbatas dalam lingkup domestik. Hal ini didukung oleh kebudayaan masyarakat bahwa perempuan itu makhluk yang lemah, halus, emosional, penakut, dan pemalu. 

Sementara lelaki digambarkan masyarakat sebagai sosok yang kuat, pemberani, dan kasar. Anggapan-anggapan masyarakat ini diyakini sebagai kodrat pemberian Tuhan. Barangsiapa yang berusaha menubahnya dianggap menyalahi kodrat bahkan menentang pemberian Tuhan. Alquran tak mengajarkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Munculnya Alquran adalah sebagai usaha untuk mencairkan budaya status quo patriarki. 

Peran dan status perempuan sering dikaitkan dengan keberadaan laki-laki. Sebagai seorang anak, ia berada di bawah perlindungan seorang ayah atau kakak laki-laki. Jika ia menjadi istri, ia berada di bawah perlindungan seorang suami. Islam menetapkan seorang istri sebagai penenang seorang suami, dan seorang ibu sebagai pemberi kasih sayang kepada anak-anaknya.

“Dalam kenyataannya perempuan memang ada yang menjadi pemimpin, menurut saya tidak apa-apa kalau dia mampu dan bisa bersaing dengan laki-laki ya gak apa-apa maju saja . Perempuan tak perlu dipaksa-paksa untuk menjadi pemimpin, dan tak usah dilarang kalau siap ya maju saja. Hadis itu bukan masuk kategori ibadah tapi muamalah, jadi urusan yang bisa dipahami konteksnya”. 

Realitasnya, perempuan banyak yang sukses mempimpin. Dalam Alquran sendiri, Allah yang menyatakan bahwa Ratu Balqis itu juga sukses dalam memimpin rakyatnya. Jadi Hadis itu bukan termasuk justifikasi larangan perempuan menjadi pemimpin.

Islam sebenarnya tidak menempatkan wanita berada di dapur terus-menerus. Namun jika ini dilakukan, maka ini adalah sesuatu yang baik. Hal ini yang dinyatakan oleh imam Al-Ghazali bahwa pada dasarnya istri tidak berkewajiban melayani suami dalam hal yang memasak, mengurus rumah, menyapu, menjahit, dan sebagainya. Sebenarnya suamilah yang berkewajiban untuk memberinya atau menyiapkan pakaian yang telah dijahit sempurna

Sebenarnya hanyalah permainan kaum feminis saja yang menyatakan bahwa laki-laki superior dibandingkan dengan wanita, agar mereka dapat melakukan hal-hal yang melampui batas, dengan dalih bahwa wanita dapat hidup tanpa adanya laki-laki, termasuk dalam hal seks, sehingga muncullah fenomena lesbian percintaan sesama jenis, banyaknya fenomena kawin cerai karena sang istri menjadi durhaka terhadap suami.

Padahal dalam hal rumah tangga pemimpin keluarga adalah laki-laki, sedangkan dalam hal berpolitik tidak ada larangan dalam Islam untuk berpolitik dan berkarier.

Bolehkah perempuan memimpin?

Topik gender yang paling diperdebatkan adalah bolehkah perempuan menjadi seorang pemimpin? Dalam buku karya Dr. Hj. Mufidah Ch, M.Ag., "Gender di Pesantren Salaf Why Not?" (hlm. 108):

“Menurut Fiqh, kepemimpinan perempuan termasuk fiqh muamalah dengan landasan ‘al-aslu fi al-mu’amalah al-ibahah”nketika ada kasus muamalah harus ditanyakan dulu adakh dalil yang melarangnya perempuan menjadi perempuan? kalau tidak ada yang melarang artinya boleh saja perempuan jadi pemimpin. Hadis yang sering digunakan sebagai landasan dasar teologis larangan perempuan menjadi pemimpin adalah ‘la yuflih al qaum wallau amrahum imra’atun? 

Hadis ini ada sebab wurudnya, yaitu kisah Kisra Persia yang meninggal kemudian anak perempuannya yang tidak memiliki kemampuan memimpin diangkat menggantikan ayahnya. Kemudian nabi mengatakan demikian.

Menurut saya kepemimpinan dulu dengan sekarang berbeda. Kalau dulu kepemimpinan dipegang satu orang seperti model khilafah, kerajaan, tetapi sekarang pemimpin di Indonesia dilaksanakan secara kolektif saling mengontrol bersifat demokratis sehingga ada peluang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin.