Sebagai seorang perempuan yang tertarik kepada isu perempuan (women issues), saya sering kali melakukan penelitian tentang perempuan. Beberapa kali saya mendapat kesempatan untuk menjadi presenter dalam forum akademik maupun diskusi nonformal.

Tetapi, dalam kegiatan tersebut, saya sering kali mendapat pernyataan yang menurut saya "kurang" elok didengar. Peserta dalam forum sering kali "menjustifikasi" bahwa saya anti laki-laki, sehingga mengarah ke persoalan personal pribadi saya yang memilih hidup single hingga kini.

Justifikasi sosial tersebut bukan sekali dua kali saya alami, bahkan hampir dalam banyak kesempatan saya mendapatkan pengalaman yang serupa. Umumnya yang bilang seperti itu biasanya peserta laki-laki. Ironisnya, itu adalah kaum terpelajar dari kalangan mahasiswa pascasarjana dan bahkan dosen sekalipun.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa mereka memberikan penilaian yang demikian? Tahukah mereka bahwa feminis terbagi menjadi beberapa golongan dan pemikiran yang berbeda-beda? Bisakah membedakan antara feminisme sebagai kajian ilmu dan feminisme sebagai gerakan sosial?

Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan kutipan hasil jawaban ketika forum ilmiah, dengan tiga perempuan feminis Indonesia yang berstatus sebagai istri, dosen, peneliti, seniman, dan memiliki jabatan struktural di kampusnya masing-masing.

Memang, Budi Wahyuni (15/03/2019) dari Komnas Perempuan mengatakan bahwa perempuan ketika berstatus sebagai istri, maka ia akan tidak memiliki kuasa (powerless). Hal itu karena angka kematian ibu (AKI) meningkat, itu terjadi karena perempuan melahirkan. Perempuan melahirkan karena ia hamil, dan perempuan hamil karena ia melakukan hubungan seksual, hubungan seksual terjadi karena perkawinan.

Perkawinan itulah yang menjadikan perempuan powerless dan tersubordinasi. Tetapi itu hanya pendapat satu feminis saja, dan pasti berbeda pendapat dengan feminis Indonesia yang lainnya.

Kekeliruan berpikir 

Pada hari Jumat (19/04/2019), saya menghadiri sebuah acara bedah buku "Feminisme Muslim di Indonesia" karya Alimatul Qibtiyah, Ph.D. Dalam forum tersebut, sebagai pembicara adalah sang penulis buku.

Berdasarkan hasil penelitian disertasi Alim, ditemukan bahwa feminis muslim mengganggap bahwa laki-laki sebagai partner. Dari anggapan itu, banyak ditemukan perempuan feminis muslim Indonesia yang memiliki keluarga, suami dan anak-anak dengan cara pandang yang berbeda.

Cara pandang berbeda tersebut dipahami oleh Alim sebagai cara pandang yang berbeda antara feminis Barat dengan feminis muslim Indonesia. Feminis muslim Indonesia meyakini bahwa feminis muslim Indonesia diharapkan tidak hanya aktif di wilayah publik, tetapi juga mampu menjaga keharmonisan dan kebahagiaan keluarga. 

Paradigma feminis muslim Indonesia yang demikian terjadi, karena anggapan umum (common sense) bahwa keluarga adalah lokus dari negosiasi antara konteks budaya, pemikiran feminisme, dan ajaran Islam yang dipegang teguh oleh umat Islam Indonesia.

Tetapi kemudian, anggapan feminis muslim Indonesia yang menganggap bahwa keluarga adalah lokus kebahagiaan, menjadi berbeda dalam pengetahuan masyarakat umum terkait feminis laki-laki dan feminis perempuan. 

Umumnya, masyarakat menilai bahwa feminis muslim laki-laki di Indonesia adalah seseorang yang perhatian, penyayang, lemah lembut, sabar, dan berbagai penilaian positif lainnya yang dilekatkan kepada feminis laki-laki.

Tetapi itu berkebalikan dengan anggapan umum masyarakat kepada feminis muslim perempuan yang memiliki cara pandang feminisme. Umumnya masyarakat memberikan penilaian yang negatif, bahkan perempuan feminis diasosiasikan dekat dengan kelompok Gerwani di era Orde baru, sehingga feminis perempuan lebih beresiko secara sosial daripada feminis laki-laki.

Padahal feminis laki-laki dan perempuan muslim di Indonesia memiliki cara pandang yang sama terkait kesetaraan dan keadilan, tetapi kemudian masyarakat menilai (stigma) berbeda sehingga ada dua penilaian, negatif dan positif, suka dan tidak suka, berbahaya dan tidak, hitam dan putih, dan pengkotakan stigma lainnya.

Inilah yang saya maksud dengan kekeliruan berpikir masyarakat di negara kita. Meski seseorang telah memiliki pengalaman pendidikan menjulang ke "langit" sekalipun dan pengalaman akademik yang cemerlang, tidak menjamin seseorang memiliki cara pandang "keadilan" yang sama terkait perempuan dan laki-laki. Sehingga bias gender itu selalu ada dan ada.

Tidak Semua Feminis Membenci Perkawinan

Argumentasi ini saya kutip dari Dr. Wening Udasmoro ketika mengisi acara bedah buku "Dari Jokowi ke Harari" (10/03/2019). Menurut Wening, memberikan penjelasan melalui skema gelombang feminisme di Barat menjadi penting dalam konteks feminis membenci perkawinan.

Feminisme terbagi menjadi empat gelombang. Gelombang pertama adalah feminisme liberal; mereka menuntut perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan, karena secara potensial laki-laki dan perempuan sama secara rasio, sehingga mereka harus sama dengan apa yang mereka inginkan.

Karena jika perempuan diperlakukan tidak sama, maka perbedaan perlakuan tersebut terhadap laki-laki dan perempuan akan membentuk gender streotip dan merendahkan harga diri perempuan.

Gelombang kedua feminisme adalah feminisme radikal. Feminis radikal mengkritik feminis liberal karena melihat perbedaan sebagai akar penindasan terhadap perempuan. Feminis radikal melihat bahwa akar dari eksploitasi perempuan adalah budaya patriarki.

Budaya patriaki dibentuk karena persoalan pekerjaan domestik yang tidak dibayar, kemudian eksploitasi tubuh perempuan dalam pernikahan, perbudakan seksual, pornografi, reproduksi, dan perkosaan terhadap perempuan. 

Gelombang ketiga feminisme adalah feminisme marxis, yaitu melihat penindasan terhadap perempuan dari soal hubungan kelas sosial dan struktur ekonomi kapitalis. Bahwa penindasan hanya dialami oleh buruh perempuan. Sehingga kapitalisme dan patriaki sama-sama menjadi penyebab posisi perempuan tersubordinat.

Gelombang keempat, yaitu feminis sosialis-marxis yang menginginkan perubahan struktur eksploitasi perempuan dalam kapitalisme. Feminis ini menginginkan agar pemerintah membayar pekerjaan rumah tangga dan membayar perempuan yang merawat anaknya. Bayaran tersebut menjadi penting agar perempuan tidak bergantung kepada laki-laki.

Tetapi kemudian, feminis sosial-marxis menjadikan perempuan bergantung kepada negara, dan negara melakukan kontrol atas tubuh perempuan.

Dari keempat gelombang feminisme di atas, dapat diketahui bahwa pemikiran feminisme berbeda-beda dalam setiap gelombang, dan tidak bisa disamaratakan.

Secara sederhana, dapat diartikan bahwa tidak semua feminis membenci perkawinan. Seperti feminis muslim Indonesia yang tidak hanya aktif di ruang publik, tetapi juga bagaimana menjadikan keluarga yang bahagia (sakinah, mawaddah wa rahmah).

Menjadikan isu feminisme sebagai kajian ilmu 

Jawaban pertanyaan ketiga di tulisan ini saya kutip dari diskusi dengan Dr. Phil. Dewi Candraningrum (26/11/2018). Menurutnya, tidak suka dengan gerakan feminisme atau tidak suka dengan perempuan feminis itu tidak menjadi persoalan, tetapi kita harus menyadari bahwa feminisme adalah bagian dari kerangka ilmu, dan perjuangan mencapai keadilan dan kesetaraan adalah perjuangan gerakan sosial feminisme.

Feminisme sebagai bagian dari kerangka ilmu pengetahuan inilah yang tidak diketahui oleh masyarakat secara umum. Faktanya, ketika ada perempuan berbicara kesetaraan dan keadilan, masyarakat otomatis memberikan stigma negatif dan bahkan memberikan argumentasi legitimasi agama (Islam).

Padahal, keinginan seseorang dan ilmu adalah dua entitas yang berbeda. Dalam artian, tidak suka adalah urusan personal. Tetapi ilmu adalah pengetahuan umum yang membutuhkan uji kebenaran dengan dialog ilmiah.

Harapannya, tidak ada lagi kontra terhadap perempuan yang memiliki cara pandang feminisme dan memberikan judgmen dan stigma negatif dengan labeling yang bermacam-macam. Saatnya kita membuka mata dan hati bahwa usaha untuk mencapai keadilan dan kesetaraan adalah perjuangan kemanusiaan. 

Selamat hari Kartini untuk perempuan feminis Indonesia.