Jakarta - "Viral" dalam minggu ini, mendengar dari sosial media bahwa gaji anggota DPR RI sekitar ratusan juta perbulannya. Sungguh hebat dan luar biasa serta salut dengan anggota Dewan perwakilan rakyat republik Indonesia.

Setelah melihat wawancara anggota dewan "Krisdayanti" menyatakan bahwa memang benar penghasilan setiap bulan yang diterima berkisar ratusan juta itu sudah digabungkan dengan gaji pokok, tunjangan anggota dewan setiap bulannya, biaya dan dana lainnya. Ini sangat mengharukan masyarakat Indonesia, yang selama ini menunggu dan menebak-nebak berapa ya gaji DPR RI sebenarnya?

Krisdayanti membongkar sejumlah pendapatan yang diterimanya sebagai anggota perwakilan rakyat Indonesia dalam "wawancara dengan Akbar Faizal yang berlangsung juga di kanal Youtube Akbar Faizal Uncenapred" yang kononnya beliau mantan anggota DPR republik Indonesia periode tahun lalu. Perbincangan antara kridayanti dengan Akbar faisal boleh dikatakan sangat santai sembari canda tawa dengan membicarakan penghasilan sebagai anggota dewan setiap bulannya?
*** 
Sengaja maupun tidak "krisdayanti" membeberkan semua penghasilnya dengan rincian "gaji pokok sebesar Rp.16 Juta diterima setiap tanggal 1, tunjangan Rp. 59 Juta diterima setiap tanggal 5, dana aspirasi Rp. 450 Juta 5 kali dalam satu tahun, kunjungan ke Dapil Rp. 140 Juta 8 kali dalam satu tahun" kutipan dari laman kompas.com melalui kanal tiktok.
*** 
Sedangkan sumber diterima dari "tvone" Krisdayanti memversikan penghasilan tambahan dari yang sudah disampaikan diatas seperti "gaji dan tunjangan tetap sekitar Rp. 19 Jutaan, tunjangan beras sekitar Rp. 30.090 per jiwa/bulan, penerimaan lainnya sekitar 34 Jutaan, fasilitas kredit mobil Rp. 70 juta/orang per periode, biaya perjalanan daerah tingkat 1 dan 2 sekitar Rp. 900 ribu/hari, uang representasi daerah tingkat 1 dan 2 sekitar Rp. 700 ribu/hari, pemeliharaan rumah jabatan RJA Kalibata-Jaksel sekitar Rp. 3 juta/tahun dan rumah jabatan RJA Ulujami-Jakbar sekitar Rp. 5 juta/hari.

Sebetulnya sangat "sensitif dan privasi" sekali, bila berbicara atau ditanya tentang penghasilan seseorang baik pejabat pemerintahan maupun non pemerintahan artinya terkadang orang memiliki rasa malu karena pendapatan setiap bulannya terlalu kecil, ada juga sharing dengan teman dekat dan keluarga untuk motivasi dari penghasilan yang diterimanya dan memang dirahasiakan tidak seorang pun yang tau berapa penghasilan seseorang tersebut. Berbeda halnya dengan anggota dewan Krisdayanti memberanikan diri untuk membuka gaji setiap bulannya depan publik, mungkin tujuannya positif namun pasti beda pula dengan pandangan netizen atau masyarakat Indonesia lainnya.
*** 
"Transparansi atau keterbukaan" ini menjadi sorotan dari anggota dewan lainnya karena tidak semestinya dibeberkan depan umum. Setiap tindakan dan perbuatan pasti ada dampak positif dan negatifnya yang bisa memberikan edukasi kepada masyarakat Indonesia bahwa ini perlu diberitahukan juga, karena pada dasarnya secara tidak langsung yang "membayar gaji anggota dewan adalah rakyat Indonesia melalui APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)". Keringat hasil kerja keras rakyat Indonesia dari proses "pembayaran pajak yang ikut menyumbang untuk Negara dan salah satunya untuk membayar gaji anggota Dewan republik Indonesia".

"Adapun dampak positif yang timbul" bahwa hal ini sebagai motivasi anak-anak remaja atau milenial lain ikut berpertisipasi dan mempunyai keinginan menjadi anggota dewan baik pusat maupun daerah dengan asumsi dari penghasilan yang diterima setiap bulannya. Memang tudak mudah "menjadi anggota dewan tentu membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan yang paling utama modal yang besar dan harus memadai". Tidak hanya itu, penting juga popularitas sehingga nama sudah banyak dikenali publik umum atau masyarakat tempat pemilihan setiap anggota dewan tersebut.
***
Dengan mudahnya memenangkan pemilihan di tempat tertentu bila sudah "dikenali publik seperti menjadi selebriti Indonesia, menjadi anak pejabat atau mantan pejabat dan relawan yang sudah berkontribusi terhadap lingkungannya". Selain terkenal atau dikenali publik, secara finansial pasti sudah cukup untuk bertarung di kursi legislatif yang boleh kasih nama "kursi panas" karena diperebutkan melalui suara rakyat. Bila sebaliknya tidak mempunayi modal dan belum dikenal banyak orang "mimpi buruk" bila terpilih menjadi anggota dewan perwakilan rakyat Indonesia.

"Sedangkan dampak negatif" pasti menjadi cibiran atau cloteh publik yang pastinya rakyat Indonesia "pasti semakin ramai komentar netizen setelah mengetahui besarnya pendapatan anggota dewan" karena sebelumnya juga dikomentari yang pedas seperti tidak memihak kepada rakyat, tidak mendengarkan suara rakyat, terjadi penyalahgunaan dan penyimpangan anggaran, dan lain sebagainya. Ini mah, hanya persepsi masyarakat saja, bila benar mohon maaf bukan bermaksud menyudutkan anggota dewan atau yang mewakilinya.
***
"Walaupun hanya oknum anggota dewan" yang dinyatakan bersalah atau tidak sesuai dengan norma dan etika atas perbuatannya, namun pandangan masyarakat selalu terbenam seolah-olah semuanya tidak benar. Ini bukan hanya semata-mata karena kualitas kerja anggota dewan, masih belum maksimal yang di nilai oleh masyarakat umumnya. Hanya muncul persepsi yang kurang memuaskan saja dari kegiatannya yang belum mewakili hak dan kewajiban masyarakat.
*** 
"Jika melihat arus politik di masa kampanye yang selalu berhubungan dengan banyaknya pengeluaran, maka dari itu dalam waktu satu tahun masa kerjanya, ya paling fokus dengan untuk mengembalikan biaya kampanye sebelum terpilih menjadi anggota dewan". Masyarakat yang memilih, seharusnya bukan karena sesuatu atau intervensi orang lain untuk memilih anggota dewan yang bukan pilihannya. Bijak lah dalam memilih sesuaikan hati nurani maaing-masing jangan hanya karena pemberian atau imbalan apapun.

Tapi berbeda dengan komitmen oleh anggota dewan "Krisdayanti" bahwa "dari rakyat untuk rakyat" maksudnya akan lebih peduli terhadap kebutuhan dan kepentingan masyarakat terutama saya akan menggunakan "dana aspirasi" tepat sasaran atas dasar permintaan dan keluhan masyarakat "ungkap Krisdayanti". Sehingga uang negara lebih bermakna untuk masyarakat yang dibawah "daerah pemilihan" di waktu kampanye dan menunaikan janji-janji politik yang pernah disampaikan.
*** 
Tanggung jawab ini tentu sangat berat bila bekerja secara sendiri, namun Krisdayanti dibawah "anggota Komisi IX yang membidangi masalah kesehatan dan ketenagakerjaan periode 2019 - 2024". Peran ini terprogram dalam bentuk kegiatan agar lebih transparan, akuntabel, keadilan dan asas kemanfaatan untuk masyarakat Indonesia sesuai pilihan daerah masing-masing. Tentunya melalui reses yang digunakan baik secara kelompok maupun secara individu dan akan dibuktikan dengan laporan kepada pimpinan sesuai dengan yang dibidanginya.

Dengan ulasan diatas semoga seluruh anggota dewan selalu "berkontribusi untuk rakyat dan mendengarkan apa kepentingannya". Sehingga jangka panjang masyarakat semakin makmur dan sejahtera dari semua sektor dan sebaliknya jangan sampai juga semuanya diwakili oleh anggota dewan seperti "mau jalan-jalan keluar negeri sudah diwakili oleh anggota dewan, mau mempunyai kendaraan  sudah banyak sudah diwakili oleh anggota dewan, mau memiliki rumah mewah sudah diwakili oleh anggota dewan, mau punya tanah dimana-mana sudah diwakili anggota dewan, dan seterusnya.

"Tetaplah menjadi wakil rakyat yang baik, walaupun tidak bisa memberikan yang sesuai harapan, setidaknya tidak melakukan penyimpangan".