Mendekati pemilihan umum, April tahun 2019, kegaduhan yang biasanya terjadi dalam kontestasi politik di Indonesia mulai menyeruak. Kegaduhan ini bisa dilihat dari fenomena terpolarisasinya masyarakat pada masing-masing kubu yang membuat konflik tidak terhindarkan. Muncul istilah baru yang sangat populer dan tentunya sensitif serta mengundang konflik. 

Julukan 'cebong' adalah sebutan bagi pendukung capres petahana, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin oleh para pendukung Prabowo. Sedangkan,  'kampret' adalah julukan para pendukung Jokowi bagi oposisi, yaitu Prabowo dan Sandiaga Uno. Polarisasi berujung konflik ini tak lain dan tak bukan timbul dari narasi politik masing-masing kubu. Narasi politik yang tidak substantif cenderung bersifat destruktif untuk bangsa kita sendiri.

Di media sosial, tidak sulit kita temui terjadi keributan. Masyarakat seakan tidak jemu memperjuangkan pilihan politiknya pada comment section masing-masing. Jari menari menuliskan sumpah serapah dengan marah menyerang pihak lain membabi buta.  Media tinggal menikmati pundi-pundi yang mengalir semakin deras karena traffic website yang melejit. Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari pertikaian yang seakan tanpa ujung ini?

Dalam bukunya yang berjudul Media Control, Noam Chomsky, filsuf dan aktivis politik kawakan Amerika Serikat berkata bahwa masyarakat kelas bawah adalah subjek dari kontrol media. Media, baik cetak maupun elektronik, menyajikan berita yang mendistorsikan realita untuk kepentingan siapa yang menungganginya. Jelas, siapa yang tidak cerdik dalam mengolah informasi akan menjadi sasaran empuk media-media ini.

Chomsky berujar bahwa uneducated citizens atau masyarakat yang tidak teredukasi dengan cukup adalah "kaum pandir", atau bisa disebut domba yang sedang digembalakan oleh penguasa atau oleh orang yang ingin berkuasa. Dan penguasa atau yang berkuasa pada media memiliki tujuan untuk menjaga uneducated citizens ini tetap uneducated. Agar apa? Agar tetap seperti domba, penurut. Tidak seperti serigala ataupun kancil, julukan bagi kaum intelektual yang mengganggu kekuasaan atau jalan menuju kekuasaan.

Bila diambil benang merah dari semua ini, fanatisme buta yang dihasilkan narasi-narasi politik tidak berbobot akan menimbulkan dampak serius pada persepsi masyarakat. Timbul ketidakmawasan diri akan informasi yang didapat. Semua ditelan habis, asal itu sesuai dengan pilihan politiknya. Semua ditolak mentah-mentah, apabila itu adalah hal-hal yang berhubungan dengan oposisi. Hal ini melahirkan intoleransi serius yang kemungkinan akan memecah belah. Mereka tidak sadar, bahwa narasi politik yang dilakukan elit politik hanyalah sebagai sarana menarik suara, sarana untuk naik tahta.

Para elit politik tahu betul bahwa uneducated citizens adalah suara yang paling berharga, sekaligus paling mudah diraih. Karena sulit untuk meraih suara mereka dengan prestasi (atau karena elit politik tersebut tidak punya prestasi berarti), mereka menarik suara dengan sensasi. Menggoreng isu-isu SARA, memutar balikkan fakta menjadi berita-berita yang seksi untuk menyerang lawan. 

Semua itu dilakukan secara sistematis dan strategis. Ada timing disetiap penggorengan isu. Ini yang disebut Chomsky the art of media control. Sekali lagi, opini rakyat digiring ke tempat yang sangat tidak pantas; septic tank. Kenapa saya bilang septic tank? Karena tempat itulah tempat yang tepat untuk kebohongan dan kemunafikan elit politik.

Maka hasilnya adalah, jika nanti elit politik berkuasa, tidak akan ada kecurigaan akan terjadinya praktik KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme) yang dilakukan penguasa. Janji-janji politik yang digaungkan pada masa kampanye juga tidak akan dikritisi habis-habisan, jika janji tersebut hanya mangkrak tidak terlaksana. Fanatisme buta membuat mereka sulit mengkritisi, karena sikap tersebut lahir dari akumulasi kepercayaan tinggi yang motornya adalah hoax yang dikenakan pada oposisi. Sikap keterkungkungan dan fanatisme buta akan melahirkan anak jadah berupa kebodohan. 

Kebodohan berujung kemiskinan. Mengutip dari pikiran seorang profesor ekonomi Harvard University, Daron Acemoglu, bahwa majunya sebuah negara terletak pada bersihnya institusi pemerintahannya, bukan terletak pada sumber daya alam, banyak populasi, maupun ras dan agama. Tentunya elit politik perlu memperhatikan hal ini dan stick to the rule.

Maka, mari kita jeli menghadapi narasi politik. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada koalisi yang sempurna, dan tidak ada capres-cawapres yang sempurna. Narasi politik yang terjadi harus diolah dan dikritisi. Perbedaan yang muncul dalam pilihan berpolitik harus disikapi dengan arif. Harapan bahwa politik bisa menjadi ajang pendewasaan masyarakat menurut saya bukan lah cita-cita yang utopis. Dua kubu harus saling merangkul, berpolitik secara sehat dan bersama merumuskan ide-ide untuk Indonesia yang lebih baik lagi menyongsong 100 tahun Indonesia emas 2045.


Referensi :

Chomsky, Noam.Media Control.New York:Seven Stories Press,1991.Google books.Web.18 November 2018.books.google.com

Acemoglu, Daron, and James A Robinson. 2012. Why Nations Fail:The Origins of Power, Prosperity and Poverty (1st).