Kertas adalah kawan, sahabat, bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan kita sejak dulu. Sejak kita kecil kita telah mengenal kertas, ia yang dulu sering kita sobek kala sedang kesal, ia yang dulu sering kita corat-coret bahkan sebelum kita mengenal bagaimana menulis dengan benar, kertas menjadi media bermain kita sejak masih kanak-kanak, dan bisa jadi tanpa kertas mungkin kita takkan menjadi orang-orang yang gemar menulis seperti sekarang.

Jika didefinisikan menurut KBBI, kertas adalah barang lembaran yang dibuat dari bubur rumput, jerami, kayu, dan sebagainya yang biasa ditulisi atau untuk pembungkus dan sebagainya. Dalam perkembangannya kertas kini bukan hanya digunakan sebagai media tulisan, melainkan juga telah berkembang digunakan untuk berbagai keperluan. Macam-macam wijud kertas, dan hampir selalu ada menghiasi sudut-sudut tempat tinggal kita.

Kertas dalam hal ini sebagai media tulis sangatlah berharga, tanpa kertas mungkin kita akan sulit untuk mempelajari huruf karena dikertas kita menuliskannya, tanpa mempelajari huruf kita akan sulit mempelajari kata, begitupun tanpa mempelajari kata kita akan sulit untuk menciptakan sebuah kalimat. Dan tanpa kertas, kita akan jauh dari pergaulan dimasyarakat, tanpa kertas seseorang dimasa lalu akan kesulitan untuk saling mengenal.

Resapi ini, Kita semua percaya pada hal yang suci, begitupun saat kita percaya dan menempelkan kertas putih kewajah kita, mungkin hanya sekedar untuk bercanda, ataupun sedang menutupi rasa canggung, bahkan untuk menghindar dari pandangan orang lain. Kita selalu percaya pada selembar kertas putih dan tak merasa bahwa permukaannya mungkin bisa saja kotor.

Seberapapun kita memperlakukan kertas, ia tetap saja diam dan selalu ada untuk kita tulisi. Kertas tak pernah menolak saat ia akan menjadi buku dan dibaca oleh siapapun, kertas tak pernah protes, saat ia akan di tulisi dengan berbagai tulisan yang begitu kasar dan menghujat sekalipun. Kertas terlihat baik-baik saja dan menerima apa adanya.

Saya tidak sedang membicarakan sesosok makhluk yang polos dan lugu, saya sedang mencoba berbagi rasa, mencoba menyampaikan falsafah, atau nilai-nilai kertas yang sering kali kita sepelehkan. Bukankah kita sepakat, kertas itu berasal dari makhluk Tuhan juga?. Sehingga menjadi sebuah kepastian bahwa di balik eksistensi kertas masih terdapat jiwa mahkluk Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, mau ataupun tidak, kertas akan selalu ada. Seberapapun kerasnya sekelompok orang untuk yang menolak atau mengesampingkan kertas dengan alasana berbagai alasan, bahkan untuk pelestarian lingkungan sekalipun, bahkan sampai menciptakan gagasan tatanan masyarakat tanpa kertas (paperless society), itu tidak akan pernah terwujud dalam tatan masyarakat luas.

Manusia sebagai makluk rasional, dalam kaitannya dengan kertas tentu tidak mungkin melepaskan kertas, secanggih apapun gadget dan secanggih apapun teknologi saat ini, manusia akan selalu kembali pada kearifan, mencari ketenangan, kesederhanaan. Bagaimanapun mudahnya mengakses informasi melalui gadget namun cinta akan bacaan dari kertas akan selalu tumbuh, toh dari sisi kesehatan hampir dapat dipaskikan bahwa membaca melalui gadget/laptop tidak akan lebih baik dari membaca melalui kertas/buku dalam waktu yang lama.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan menggunakan kertas terus menerus, juga akan mengakibatkan pengrusakan pohon dan lingkungan secara umum yang berkepanjangan?, Ini yang kadang disebut sebagai dilema yang disebabkan oleh kertas, disisi lain kertas mendukung kemudahan aktifitas manusia, namun disis lain produksi kertas yang tinggi tentu cenderung mengabaikan kelestarian lingkungan karena bahan bakunya dari pohon.

Menurut data yang saya kutip dari website kementrian perindustrian (Kemperin), bahwa peningkatan bahan baku kertas (pulp) setiap tahunnya tidak bisa dihindari dikarenakan rata-rata permintaan kertas dunia juga meningkat sekitar 2.1% tiap tahunnya.

Saya belum mengetahuai bagaimana grafik ketersediaan bahan baku kertas jika dibandingkan dengan kebutuhan akan kertas itu sendiri, namun disebutkan bahwa beberapa negara sudah tidak bisa mengembangkan industri pulp ini, sehingga dianggap sebagai peluang baik untuk Indonesia dalam membangun industri pulp. Menurut data tersebut, negara yang menjadi saingan Indonesia hanya dominan dari Negara-negara amerika latin.

Dalam menghindari persoalan terkait benturan antara pemanfaatan kertas dengan upaya pelestarian lingkungan, harus tetap menjadi tanggung jawab bersama. Karena semua pihak terlibat dalam penggunaan kertas, maka konsekuensi logisnya adalah semua orang juga harus bertanggung jawab untuk memperlakukan kertas dan lingkungan dengan adil dan bijaksana.

Namun di negara-negara maju, bahkan telah ada sebuah teknologi yang mampu memproduksi kertas dari bahan baku abu batu bara. Dan tentu tidak menutup kemungkinan, di masa depan kita tidak akan lagi menggunakan kayu sebagai bahan baku utama pembuatan kertas. Sehingga eksistensi kertas bisa tetap dipertahankan tanpa khawatir akan dampaknya terhadap lingkungan.

Betapapun modernnya, keberadaan gadget ataupun media lain yang tidak membutuhkan kertas dalam penyampaian informasi adalah sebuah kemunduran dalam perspektif kearifan kala melihat dampak dari teknologi itu di masa sekarang. Ketergantungan pada teknologi modern sebagai mana yang terjadi hari ini jelas menjadikan sebuah ras individualis di dunia nyata, karena mereka kini menjadi makhluk sosial di dunia maya.

Kertas betapapun juga mampu menciptakan kondisi tertutup dan kesendirian, misalnya ketika seseorang membaca buku, namun tidak akan sampai membuatnya bersikap individualis sebagai mana yang disebabkan oleh gadget. Pun dalam hal ini saya juga tidak mengatakan untuk meninggalkan gadget namun yang perlu ditekankan adalah bagaimana memposisikan gadget ini secara lebih bijak.

Kertas menurut saya mampu menghapus dominasi gadget, bukankah dimasa lalu hal paling indah dari sebuah pemberian ucapan adalah dengan menggunakan kartu ucapa, ya, kartu ucapan terbuat dari kertas. Bukankah ada kesan tersendiri saat membacanya ketimbang membaca dari gadget kita?. Kesan yang tentu hanya mampu dirasakan oleh mereka yang pernah mengalaminya.

Kertas mesti kita tempatkan kembali pada posisinya yang indah dan menentramkan. Bukan sebagai pelengkap dari dokumen-dokumen administratif belaka. Kertas adalah simbol yang termaknai jauh di atas semua.

Bukankah kertas juga turut menyelamatkan eksistensi firman Tuhan hari ini?. Bukankah kertas-kertas itu jugalah yang membawa pemikiran orang-orang hebat di masa lalu sebut saja Aristoteles dan Plato untuk bisa sampai kepada kita di zaman ini?, dan bukankah Kertas sebagai media penyambung cinta di masa lalu?.

Kertas senantiasa baik dan perhatian, tulus dan rela menemani, menjaga dan menyimpan perasaan dalam diari-diari penulisnya. Dengan segenap curahan hati kertas selalu tersenyum melihat penulisnya, walau kadang si penulis menitikkan air mata ketika sedang menulis.

Salam atas nama-nama Tuhan yang tertulis dengan indah di atas lembaran-lembaran kertas yang menjadikannya suci. Karena derajat kertaspun dapat berbeda-beda bergantung tulisan yang ada di atasnya. Dengan tulisan ini, saya harapkan kita mampu memahami bersama hakikat selembar kertas. Ialah si tipis yang selalu pengertian.

Mari tetap menjaga eksistensi kertas di era modern ini. Saat generasi millennial sedang dekat-dekatnya dengan teknologi internet. Mereka yang terlahir dan langsung bersentuhan dengan teknologi perlu dipahamkan, bahwa di masa lalu selembar kertas adalah cahaya bagi ide dan merupakan benda berharga.

Mungkin yang membuat kita kurang bijak dalam menggunakan kertas di masa sekarang ini karena kita kurang memahami hakikat dari selembar kertas. Tentu ini bisa kita perbaiki bersama, membangun pengertian pada diri sendiri, kemudian menularkannya pada orang-rang terdakat dan tentunya pada generasi muda.

Saya rasa, tujuan kesempurnaan pohon-pohon atau apapun yang menjadi bahan baku untuk dibuat ketas adalah ketika eksistensinya diubah menjadi selembar kertas dan di atas kertas itu ditulisi tulisan yang baik dan bermanfaat bagi semesta.