Tidak dapat dipungkiri bahwa era digital telah mengurangi konsumsi manusia terhadap kertas. Aktivitas membaca dan menulis telah terdisrupsi. Orang tak lagi harus membeli banyak kertas untuk menulis, karena ada laptop atau komputer. Bahkan di handphone pun orang dapat menulis.

Begitupun dengan aktivitas membaca yang dahulunya menggunakan buku, koran, atau majalah telah berganti berita online yang dengan sangat mudah dapat diakses melalui handphone.

Demikianlah dampak dari kemajuan teknologi. Tidak hanya bidang infrastruktur dan ekonomi yang berubah, namun semua lini. Siap tidak siap dan mau tidak mau, kita harus beradaptasi dengan perubahan jika tidak mau tertinggal.

Namun, sebelum kita memutuskan untuk benar-benar beralih ke era digital, ada baiknya kita perhatikan dulu fakta-fakta yang menunjukkan keunggulan melakukan aktivitas menulis dan membaca menggunakan kertas.

Nilai Lebih Tinggi

Ada perbedaan antara menulis menggunakan kertas dan media digital. Dengan menulis menggunakan kertas, materi yang kita baca atau pelajari akan lebih mudah diingat. Selain itu, pemahaman kita terhadap materi jauh lebih baik dibandingkan dengan menggunakan media digital.

Saya masih ingat ketika SMA, catatan merupakan bagian penting dalam proses belajar. Dengan catatan, materi yang dipelajari akan terasa lebih mudah dan menarik. Menulis catatan di kertas akan lebih cepat dan ringkas. Kita dengan mudah dapat membuat pola-pola atau jalur penghubung antara satu konsep ke konsep yang lain.

Biasanya, bagi yang telah terbiasa menulis di kertas, catatan akan dipenuhi dengan simbol-simbol atau warna yang menandakan bagian penting atau keterkaitan antara konsep.

Percaya atau tidak, meskipun tulisan tangan kita tidak terlalu rapi atau bagus, namun ketika kita membuka bagian demi bagian akan lebih mudah ingat dan paham.

Catatan di kertas dapat dengan mudah membantu memanggil rekaman materi yang tersimpan di otak kita. Inilah yang tidak ditemui pada media digital. Kepraktisan media digital kadang kala tidak dapat membangkitkan rasa atau jiwa dalam tulisan.

Jadi wajar saja jika orang yang telah terbiasa menulis menggunakan media kertas akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan yang menggunakan media digital.

Fakta ini didukung oleh hasil Wakefield Research yang melakukan studi pada generasi Z (generasi yang lahir pada 1995-2015) di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa 95 persen generasi Z yang mencatat di kertas mendapatkan nilai yang lebih tinggi (Stillman dan Jonah, 2019).

Ekspresi Jiwa

Menulis di atas kertas adalah ekspresi jiwa. Jika pada media digital tulisan dapat diedit dengan berbagai macam bentuk huruf dan ukuran, namun tulisan tangan di atas kertas memerlukan kehati-hatian yang tinggi dan perasaan yang stabil.

Emosi seseorang dapat terlihat dari coretan yang dihasilkan di atas kertas. Sifat tergesa-gesa, rapi, dan teliti akan sangat mudah diketahui dari tulisan tangan di atas kertas.

Oleh karena itu, secara tidak langsung, menulis menggunakan media kertas adalah salah satu cara untuk berlatih mengatur emosi seseorang.

Saya memiliki seorang teman laki-laki yang memiliki tulisan sangat rapi. Karena keterampilannya, banyak orang yang menggunakan jasanya untuk menulis di ijazah, sertifikat, dan lain sebagainya.

Jika dilihat dari tulisan dan penampilan menunjukkan hubungan yang selaras. Teman saya ini memiliki kebiasaan berpakaian rapi dan bersih. Wajar saja jika tulisannya pun rapi dan indah. 

Itu hanyalah contoh sederhana yang mewakili pandangan bahwa menulis di atas kertas adalah ekspresi jiwa.

Berpikir Mendalam

Meskipun pada media digital menyajikan banyak fitur seperti grafik, audio, gambar, dan lain sebagainya, namun semuanya hanya sebatas informasi singkat dan tidak detail. Oleh karena itu, informasi yang diperoleh juga hanya berupa informasi umum.

Walaupun banyak juga e-book yang jumlahnya sama persis seperti buku cetak, namun untuk membacanya menggunakan media digital terdapat kendala.

Membaca menggunakan media digital dalam waktu yang lama dengan jumlah halaman yang banyak akan cepat lelah. Mata akan mudah terasa panas dan berair. Hal inilah yang membuat orang tidak tahan lama-lama membaca menggunakan media digital.

Akibatnya, orang akan memilih-milih bahan bacaan yang hanya dianggap penting dan melewatkan bagian-bagian yang penting lainnya.

Melalui media digital, dengan akses informasi yang sangat cepat dan luas, memungkinkan orang untuk tahu banyak, tetapi hanya berada di permukaan.

Kebiasaan ini tentunya kurang baik, karena yang diperlukan dari proses belajar adalah berpikir mendalam. Untuk apa kita tahu banyak, tetapi hanya setengah-setengah. Akan lebih baik jika kita mampu menyerap informasi atau ilmu dengan baik dan mendalam.

Berpikir mendalam hanya dapat diperoleh melalui proses membaca buku. Bukan buku online atau e-book, melainkan buku cetak. Selain lebih mudah paham, juga dapat lebih menjaga kesehatan mata.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, menggunakan media digital sebagai alat menulis dan membaca merupakan suatu kepastian. Namun, munculnya media digital bukanlah alat menghilangkan kebiasaan menulis dan membaca menggunakan kertas.

Media digital dan kertas bukanlah dua alat yang saling menggantikan, melainkan dua alat yang saling melengkapi. Kita dapat menggunakan media digital untuk menelusuri informasi apa saja yang kita inginkan. Namun, untuk tahu secara lebih detail, kita memerlukan untuk waktu membaca bukunya.

Bagaimanapun canggihnya teknologi, kertas akan tetap ada. Karena kertas bukan hanya alat menulis dan membaca, namun juga sebagai bentuk ekspresi jiwa. Bukan hanya lewat tulisan, ekpresi jiwa juga dapat ditunjukkan dari berbagai kreasi yang muncul dari ide-ide kreatif dalam memanfaatkan media kertas.

Maka kesimpulan yang dapat dipetik, jika ingin tahu banyak, pakailah media digital. Jika ingin tahu secara mendalam dan berekspresi, pakailah kertas.