Ujian nasional merupakan syarat utama kelulusan seorang siswa. Walaupun kelulusan seorang siswa tidak ditentukan oleh ujian nasional. 

Kecemasan tidak hanya datang dari pihak siswa yang menghadapi ujian nasional, namun juga datang dari pihak guru mata pelajaran ujian nasional yang bersangkutan. Nilai siswa tersebut menjadi penentu sukses tidaknya guru dengan angkatan tersebut.

Karena ujian nasional diartikan sebagai puncak dari segala proses belajar di bangku sekolah yang sangat menentukan bagaimana dan apa yang diperoleh selama siswa belajar dan menerima pelajaran dari para guru.

Di balik kecemasan, banyak pula siswa yang berusaha mencurangi sistem ujian dengan memanfaatkan kunci jawaban yang beredar dan juga menggunakan contekan. Hal inilah yang lantas mendorong pemerintah untuk membuat sebuah sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

Seperti di muat pada laman http://unbk.kemdikbud.go.id, UNBK singkatan dari Ujian Nasional Berbasis Komputer yang berasal dari istilah Computer Based Test (CBT).

UNBK adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT).

Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut berhasil dengan baik dan makin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online, yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya, hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online.

Namun, tidak sedikit keluhan dan kritik yang membanjiri akun official Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga menjadi headline pemberitaan nasional menjadikannya menarik.

Pertama, jika dalam ujian konvensional yang masih menggunakan kertas, bisa melakukan coretan untuk mempermudah menyelesaikan soal. Namun, sistem UNBK mengharuskan kita untuk fokus menatap layar komputer untuk menyelesaikan soal.

Tentu saja tidak sedikit siswa yang greget ingin mencoret-coret soal ujian nasional. Alasannya simple, agar tidak membaca bacaan berulang kali.

Namun hal ini sebenarnya hanya masalah kebiasaan saja. Bisa diantisipasi dengan meminta kertas kepada pengawas untuk mencoret-coret.

Kedua, komputer yang tiba-tiba mati atau sistem komputer yang lambat. Hal ini mengharuskan pindah-pindah komputer sementara waktu terus berjalan.

Namun hal ini sebenarnya tergantung kepada kesiapan tenaga teknis. Apakah komputer tersebut sudah diatur sedemikan agar tidak mati saat UNBK berlangsung.

Ketiga, pelaksanaan UNBK dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dilakukan pada pukul 07.30-09.30, sesi dua pada 10.30-12.30, dan sesi tiga pada 14.00-16.00.

Hal ini menyebabkan banyaknya protes terkait jatah sesi. Bahagia mereka yang mendapat sesi pagi. Mengantuk mereka yang mendapat sesi siang.

Sebenarnya tidak masalah mendapatkan sesi ke berapa, asal sudah siap menghadapi ujian nasional. Juga diimbangi dengan istirahat yang cukup sehingga jika mendapat sesi tiga, siswa tidak akan mengantuk yang dapat membuyarkan fokus mengerjakan soal ujian nasional.

Keempat, soal UNBK terutama di tingkat SMA mendapat kritik dari berbagai pihak dikarenakan soal-soalnya menggunakan soal High Order Thinking Skills (HOTS) yang tidak sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan guru dan pelajaran yang diterima siswa di sekolah.

Hal ini menyebabkan siswa merasa dirugikan karena apa yang dipelajari selama tiga tahun tidak keluar saat ujian nasional tiba. Seperti berjuang, namun sia-sia.

Mengapa soal UNBK menggunakan soal HOTS?

Menurut saya, karena UNBK bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Nantinya diharapkan nilai kelulusan bisa dijadikan patokan untuk jenjang pendidikan berikutnya.

Sehingga tak perlu lagi adanya tes penerimaan siswa atau mahasiswa baru agar dapat menghemat biaya karena semuanya mengacu pada nilai akhir kelulusan.

Hal ini sangat membantu keluarga dalam finansial. Lumayan bisa dipakai syukuran lulus nilai yang bagus uangnya. Kapan lagi bisa makan enak karena nilai bagus?

UNBK sangat mendukung integritas siswa, mereka bisa menyelesaikan UN dengan kejujuran tinggi karena peserta tidak bisa mencontek terkait paket soal yang diberikan pada siswa berbeda dengan siswa lainnya. Kalaupun paketnya sama, nomornya pasti yang berbeda.

Karena fungsi UNBK, yaitu meredam kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Oleh karena itu, siswa tidak lagi bisa mengandalkan ‘bocoran’ kunci jawaban pada saat mengikuti ujian nasional. Sehingga siswa harus berusaha lulus dalam ujian nasional secara jujur.

Tentu hal ini menyebabkan anak-anak golongan pemalas mengalami kesulitan menjelang ujian nasional. Mereka tidak dapat mengandalkan kunci jawaban yang dijual oleh oknum-oknum perusak bangsa.

Namun fungsi ini harusnya membuat kita kembali mengingat mengapa kita sekolah menggunakan seragam. Karena sekolah itu tentang kebersamaan, tidak ada pembedaan anak orang kaya dan anak orang miskin.

Kalau anak-anak orang kaya membeli kunci jawaban, toh kasihan anak-anak orang miskin yang tidak mampu membeli kunci jawaban. Boro-boro beli jawaban, bayar SPP aja harus nunggak dulu.

Dengan demikian, UNBK dapat menjadi solusi dan menjawab permasalahan kecurangan ujian nasional serta menjadi tolok ukur pemahaman peserta didik selama tiga tahun di bangku sekolah. Karena, seperti kata pepatah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Siswa awal masuk sekolah, masuknya barengan. Kalau susah, susahnya barengan. Kalau senang, senangnya barengan. Kalau lulus, lulusnya barengan. Kalau ada yang gak lulus? Coba lagi tahun depan.