Tentu saja publik sangsi terhadap kemampuannya. Modal menjadi khatib dan kesalehan yang diklaim bukan jaminan. Mereka yang punya gelar mentereng pun kerap kali terjerumus.

Tapi biarlah. Kita doakan semoga Fachrul Razi cukup gagah dan berkompeten untuk menjawab keraguan publik. Ini tugas berat. Toh dia sendiri yang bilang menyukai tantangan.

Namanya resmi masuk dalam pos menteri, mengisi satu dari tiga puluh empat kementerian di Kabinet Indonesia Maju periode 2019 - 2024. Walau banyak suara sumbang, tak menghalangi Jokowi untuk menetapkan pilihannya pada sosok yang dianggap pas untuk membidangi urusan keumatan-kebangsaan.

Kementerian Agama. Fachrul Razi, figur yang bukan seorang rohaniawan. Atau setidak-tidaknya berasal dari pegiat Nahdlatul Ulama (NU) atau dari Muhamadiyah, dua ormas terbesar yang biasanya mendapat jatah untuk mengisi pos kementerian itu. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum.

Sekali lagi, berbagai penolakan terhadap Fachrul Razi sebab latar belakangnya sudah selesai. Nasi telanjur jadi bubur, sudah dihidangkan pada kita. Jadi, nikmati saja bubur itu.

Memang terpilihnya Fachrul Razi, hemat saya, lebih kepada pertimbangan politis. Bukan berdasar keahlian.

Fachrul, sebagaimana yang kita ketahui, menjadi bagian penting dalam kemenangan Jokowi-Amin. Dirinya tergabung bahkan bertindak sebagai kepala dalam Tim Bravo 5, sebuah badan pemenangan yang berisikan Purnawirawan Jenderal-Jenderal. Luhut Binsar Panjaitan salah satunya.

Dalam politik, tidak ada makan siang gratis. Praduga saya, jabatan Menteri Agama adalah semacam balas jasa Presiden Jokowi terhadap Fachrul Razi.

Namun, dalam berbagai kesempatan, Fachrul menampik kalau dirinya tak punya kemampuan. Ia menjawab pertanyaan mengapa seorang pensiunan militer diangkat menjadi Menteri Agama.

Denga enteng beliau menjawab, "Mungkin Pak Presiden berpikir kalau saya adalah orang yang tepat. Belakangan ini potensi-potensi radikalisme cukup kuat, dan saya dianggap mungkin punya terobosan-terobosan untuk menangkal radikalisme itu.”

Mari kita tarik sedikit ke belakang. Saat diperkenalkan oleh Presiden Jokowi pada 23 Oktober silam, yang diucapkan Presiden pertama kali adalah kata radikalisme. Ya, menangani radikalisme baru kemudian urusan lain mengikuti; ekonomi umat, industri halal, dan haji.

Radikalisme diserahkan pada Kementerian Agama? Dan kabarnya, ini menjadi tugas utama.

Apakah radikalisme hanya terjadi pada hal-hal yang berbau agama? Tidakkah lebih baik urusan itu diserahkan pada Menkopolhukam, Menhan, dan lembaga non-kementerian seperti BIN dan BNPT?

Tapi, lupakan itu. Mari kita cermati sejauh mana kerja-kerja dan terobosan terbaru Fachrul Razi dalam memberantas radikalisme. Sudahkah tepat atau justru salah kaprah?

Menyikapi Salah Kaprah Fachrul Razi

Belakangan ini Fachrul Razi sering hilir mudik di layar televisi. Belum genap satu bulan menjabat, pensiunan Letnan Jenderal bintang empat itu banyak memberikan statement yang tidak mengenakkan bagi sebagian pihak. Kata-kata yang ia lontarkan dirasa tendensius dan berhasil menuai banyak komentar.

Misalnya, dalam kesempatan konsolidasi visi-misi bersama sejumlah kementerian dan lembaga lain yang diselenggarakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, 31 September yang lewat, dalam pidato singkat itu, Fachrul berpendapat, semua orang wajib memiliki pandangan yang sama tentang pemberantasan radikalisme.

Persoalannya menjadi pelik ketika radikalisme yang dipahami oleh Fachrul diilhami dari pemaknaan yang sempit dan berangkat dari asumsi satu dua peristiwa. Walhasil, warna pidato Fachrul sangat jelas terbaca, dengan berapi-api khas tentara ia berujar, "Celana cingkrang itu tidak bisa dilarang dari aspek agama, tapi dari segi aturan pegawai bisa."

Ia menambahkan, bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tak bisa patuhi itu, baiknya keluar. Lalu, sekonyong-konyongnya Fachrul bicara mengenai khilafah, "Kalau ada yang mendukung khilafah, keluar kamu dari PNS, Tentara dari BUMN."

Lain soal celana cingkrang, lain pula pendapatnya mengenai cadar. Fachrul berani bilang bahwa pemakaian cadar bagi perempuan muslimah tidak ada dasar hukum agamanya; tidak di Alquran, tidak juga di kitab-kitab hadis. Ini jelas pernyataan yang kelewat berani.

Meski demikian, kita bisa maklum. Ia hidup lama sebagai seorang tentara. Kita berhusnudzan, Fachrul Razi belum mengaji tafsir dari surah Al-Ahzab ayat 59. Bukankah ia sendiri mengakui hanya hafal Juz Amma?

Usai acara itu, dirinya masih diberondong pertanyaan. Salah seorang jurnalis yang berdiri tepat di belakang Fachrul mengajukan pertanyaan, "Apa bukti adanya radikalisme?"

Mendengar itu, nadanya meninggi, ''Lihat Pak Wiranto, nggak?" Dengan agak kesal ia meneruskan, "Tidak usah banyak tanya. Kalian tahu, tapi pura-pura nggak tahu saja."

Dari kesemua pernyataan-pernyataan Fachrul Razi, jelas tidak ada yang bisa kita terima begitu saja, mengait-ngaitkan ekspresi keberagamaan, khilafah, terhadap keamanan dari perilaku teror, atau sikap radikal dengan cara mengambinghitamkan, mendiskreditkan hak-hak pengguna cadar dan celana cingkrang. Bagi saya , ini kontraproduktif dan tidak mencapai substansi.

Dalam benak Fachrul Razi, kira-kira begini alur berpikirnya: bercadar dan celana cingkrang adalah radikal. Kalau dia radikal, maka akan membahayakan sehingga penggunaan pakaian demikian harus dibatasi melalui peraturan.

Kacau sekali. Dalam kajian filsafat, silogisme yang dipakai Fachrul terang keliru. Ini disebut Post Hoc Ergo Prophter Host.

Radikal Adalah Buah dari Stereotip

Stereotip adalah cap. Ia bekerja memukul rata, berlebihan, dan sering kali meringkas sesuatu yang seharusnya tidak. Menyederhanakan hal-hal yang sebetulnya kompleks. Membuat sebagian menjadi keseluruhan—over generalization.

Stereotip bekerja dengan cara menghitam-putihkan, padahal sebetulnya spektrum warna beragam. Lain daripada itu, stereotip ialah bahan bakar untuk menyulut emosi publik. Ditujukan kepada siapa saja, biasanya atas dasar ketidaksukaan. Tak pandang kelompok, etnik, ras, gender, dan agama sekalipun.

Stereotip juga bekerja pelan-pelan, merangkak dari objek yang satu ke objek lainnya. Mulanya stereotip dialamatkan pada hal yang berbau kesukuan dan kedaerahan, seperti umpatan "dasar Minang pelit" atau "dasar Papua suka bikin rusuh", "dasar Sumatra pemalas", dan banyak lagi. Ya, hampir semua kelompok etnik di Indonesia memiliki stereotipnya masing-masing.

Cara stwreotip masuk dalam benak pikiran orang-orang. Yang paling efektif adalah melalui media massa; cetak, elektronik, media sosial.

Stereotip ampuh untuk mereka yang malas berpikir—terlalu cepat ambil kesimpulan. Ia mudah dipercaya. Bukankah sesuatu yang terus-menerus diulang akan terekam sebagai kebenaran di memori publik?

Formulasi stereotip yang sudah lama berkembang bertemu dengan media yang ribut, maka sempurna sudah. Jadilah cap “radikal” itu, dilekatkan pada kelompok tertentu.

Pemaknaan yang sempit lalu mereduksi fakta sebenarnya. Itulah stereotip dan begitu ia bekerja. Dalam kajian filsafat, logika berpikir stereotip dapat digolongkan ke kategori Fallacy of Dramatic Instance.

Radikalisme dan Tinjauan Ulang atas Teori Huntington

Hemat saya, gelombang narasi radikalisme adalah buah dari stereotip yang dilekatkan pada Islam, dan ini sudah berlangsung lama sekali. Sudah dari jauh-jauh hari Samuel Huntington jelaskan. Ia menulis dalam tesisnya yang kemudian terbit menjadi satu buku, The Clash of Civilization.

Agaknya teori benturan peradaban yang dimaksudkan Huntington masih relevan. Apalagi jika kita bicara soal isu-isu mutakhir, pada isu yang sedang kita bahas ini misalnya. Huntington menggambarkan pertarungan antara Barat yang disimplikasikan sebagai Kristen dan Timur sebagai Islam adalah pertarungan soal ideologis, dan hari ini mulai menemui titik terang.

Secara teologis, Islam ditempatkan sebagai musuh bersama. Islam digambarkan sebagai agresor. Sehingga cara pandang Barat terhadap Islam adalah cara pandang kecurigaan dan ketidaksenangan.

Melihat Islam sebagai aggression and hostility (agresi dan ancaman), akhirnya diciptakanlah stereotip yang bersifat simplistis. Tujuannya jelas, untuk menunjuk wajah buruk Islam.

Stereotip ini bekerja seperti hantu dan melahirkan ketakutan (phobia). Lalu dicarikanlah justifikasi dalam bentuk fisik, atribut keagamaan: celana cingkrang dan cadar.

Jadi sebetulnya yang Fachrul Razi perlihatkan adalah kerangka berpikir Barat dalam melihat Islam. Paranoid itu diterjemahkan oleh pemerintahan Jokowi melalui program deradikalisasi.