Modernisasi yang ditandai dengan proses transformasi dalam transaksi jual-beli barang dan jasa berkembang sangat pesat pada perjalanan abad dua puluh satu saat ini. Hal tersebut berdampak terhadap existensi pasar-pasar tradisional yang sejak dulu menjadi salah satu penopang kesehteraan masyarakat pada berbagai daerah di Indonesia.

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya.

Pertumbuhan pendudukan yang dibarengi dengan pemekeran wilayah-wilayah administrative baru memberikan peluang pelaku bisnis kelas kakap untuk mengekspansi pasar-pasar local hingga ke seluruh wilayah di Indonesia.

Fasilitas,kenyamanan dan kemudahan berbelanja yang ditawarkan pasar modern,berbanding kontras dengan pasar tradisional yang infrastrukturnya ‘apa adanya’ dan terkesan sangat kumuh dengan bangunan-bangunan tua yang rentan terhadap situasi darurat seperti kebakaran ataupun bencana alam lainnya seperti gempa bumi dan banjir.

Kondisi real pasar tradisional pada umumnya yang jauh dari perhatian pemerintah daerah setempat terkait kebijakan renovasi fisik bangunan pasar berdampak terhadap minat konsumen untuk berbelanja dipasar. Minat konsumen yang menurun drastic untuk berbelanja di pasar tradisional mempengaruhi menurunnya jumlah pasar tradisional di Indonesia.

Menurut data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), jumlah pasar tradisional menurun drastis dari angka 13.540 menjadi 9.950 pasar dalam kurun waktu 4 tahun (2007-2011) dengan total jumlah pedagang pasar tradisional berkisar 12.625.000 orang. Pada tahun 2011 terdapat 144 pasar terkena konflik akibat revitalisasi dan 161 pasar hangus karena kebakaran.

Sedangkan untuk pasar modern menurut Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan, saat ini jumlah pasar modern yang ada di seluruh Indonesia mencapai 23.000 unit. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 14 persen dalam tiga tahun terakhir.

Kondisi ini sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah pusat dimasa pemerintah Jokowidodo melalui program revitalisasi pasar NAWACITA sebagaimana tertuang dalam RPJMN tahun anggaran 2015-2019, yaitu sebanyak 5000 pasar yang didukung oleh pemberdayaan secara terpadu. Penyaluran dana revitalisasi pasar melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Tugas Pembantuan (TP).

Prioritas pasar yang direvitalisasi adalah pasar-pasar yang berada di daerah tertinggal, terluar, dan perbatasan, pasar yang sudah berusia lebih dari 25 tahun, pasar yang mengalami bencana, pasar darurat serta pasar di daerah yang memiliki potensi perdagangan besar. Ada empat prinsip revitalisasi pasar yang dilakukan, yaitu revitalisasi fisik, revitalisasi manajemen, revitalisasi ekonomi, dan revitalisasi sosial.

Revitalisasi fisik meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, sistem tanda/reklame dan ruang terbuka kawasan. Perbaikan kondisi fisik pasar sangat diperlukan untuk memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi pembeli, layaknya berbelanja di supermarket atau department store. Perbaikan yang dapat dilakukan meliputi sistem kebersihan gedung pasar, tata letak toko/kios/los, penyediaan fasilitas-fasilitas bagi pembeli dan penjual misalnya tempat parkir yang memadai, rest area, pengaturan suhu ruangan dan sebagainya.

Konsep revitalisasi pasar tradisional yang dicanangkan Pemerintah Pusat idealnya diimplementasikan pula oleh Pemerintah Provinsi,Kota Madya dan Kabupaten di seluruh Indonesia untuk mendukung keberlanjutan dan menjamin existensi pasar tradisional sebagai tempat ‘bergantung hidup’ masyarakat menengah kebawa.

Revitalisasi Pasar tradisional perlu juga didukung dengan konsep keamanan yang baik untuk menjamin kenyamanan konsumen dalam berbelanja sebab pasar tradisional di beberapa wilayah masih rentan terhadap kasus-kasus pencopetan dan premanisme.

Selain itu konsep satu harga pedagang pasar perlu menjadi perhatian pemerintah daerah setempat dengan rutin melalukan operasi harga barang, untuk memberikan kepastian berbelanja konsumen sehingga memperoleh harga yang layak dan merata disetiap pedagang di pasar tradisional.

Revitalisasi pasar modern tampil dengan bentuk fisik yang modern,harga barang yang merata disemua penjual(Satu harga) serta keamanan berbelanja setiap konsumen dapat menjadi ‘senjata’ pasar tradisional untuk tetap exist dan bersaing dengan pasar modern.

Substansi dari ‘pemberdayaan’ pasar tradisional melalui renovasi fisik dan manajemen yang baik dapat menjadi solusi tidak langsung terhadap masyarakat yang hidp dari proses transaksi yang terjadi di pasar tradisional.

Pasar tradisional yang telah menjadi bagian dari program revitalisasi pemerintah pusat membutuhkan peran serta kita semua sebagai konsumen untuk menjadikan pasar tradisional sebagai tujuan berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Berbelanja dipasar tradisional menurut penulis ada dua manfaat timbal balik yaitu pertama, memperoleh barang dengan harga yang relatif terjangkau tanpa ada penambahan biaya PPN dan kedua, kita secara tidak langsung sedang ‘membantu’masyakarat menengah kebawa yang menggantungkan hidupnya dengan berjualan di pasar-pasar tradisional yang ada disekitar kita.