Tahun 2012 adalah tahun pertama kali saya membeli telepon genggam pintar (Smartphone). Waktu itu, saya sangat senang karena Smartphone memiliki banyak kelebihan. Selain fungsi umum sebagaimana telepon genggam lainnya, juga terdapat banyak aplikasi yang bisa diunduh. Saya hanya bisa tertegun kagum melihat canggihnya telepon genggam terbaru yang saya miliki waktu itu.

Sepuluh tahun sebelumnya, tahun 2002, telepon genggam masih sangat sederhana. Ringtone seadanya dan tidak memiliki banyak aplikasi. Hp dengan merek Nokia adalah yang paling keren dan canggih. Tapi bila ditarik lebih jauh lagi, tahun 1992, jangankan Smartphone, keberadaan Telepon genggam pun masih jauh dari khayalan (atau mungkin waktu itu saya masih sangat kecil).

Hanya dalam tempo dua puluh tahun, saya menyaksikan perubahan telepon genggam yang luar biasa. Sering kali saya melihat kemajuan teknologi demikian sebagai suatu hal yang taken for granted. Jarang memikirkan bagaimana teknologi itu bisa sampai ke tangan kita; atau apa implikasi jauh dari teknologi terbaru tersebut? Padahal, memikirkan hal-hal demikian akan sangat membantu kita memahami dunia di sekeliling kita dengan baik.

Telepon genggam, hanya satu dari sekian banyak kemajuan teknologi yang bisa dinikmati oleh generasi saya sekarang. Jika almarhum kakek saya masih hidup, tentu beliau akan sangat terkejut dengan berbagai kemajuan teknologi yang saya temui setiap hari. Smart watch, Contactless card, Skype, robot penyedot debu, Drone, Tinder dan masih banyak lagi.

Kemajuan teknologi, menurut pakar, akan terus berlangsung dengan lebih cepat lagi. Jadi, jika kita sudah merasa ‘Wow’ dengan kemajuan teknologi sekarang, tunggu beberapa dekade lagi. Akan ada banyak lagi kejutan-kejutan lainnya yang sedang menunggu di masa yang akan datang.

Ambil contoh misalnya 3D printing organ, IoT, Quantum Computer, CRISPR/Cas9, Reverse Aging, Designer babies, Nanobots, Graphene dan seterusnya. Sebagian dari teknologi tersebut sudah ada. Namun masih dipergunakan dalam lingkup yang terbatas atau masih dalam percobaan.

Tapi mungkin sebagian dari kita akan bergumam “and then what?”. “Kemajuan teknologi terjadi setiap hari, so what?”.

Kemajuan teknologi bukan hanya sekedar perubahan dari Hp jadul ke Smartphone. Tetapi ia merupakan refleksi betapa jauhnya capaian kemajuan peradaban manusia. Sampai-sampai, Tekno-entrepreneur seperti Elon Musk sempat beropini bahwa tidak menutup kemungkinan kehidupan manusia adalah sebuah program simulasi dalam komputer, mirip dalam film The Matrix. Ia beropini demikian karena melihat betapa pesatnya kemajuan teknologi sekarang.

Adalah Nikolai Semenovich Kardhasev, seorang pakar Astrofisika dari Rusia yang mencetuskan ide tentang tingkat kemajuan teknologi sebuah peradaban. Idenya terkenal dengan sebutan skala Kardashev.

Kardashev berpendapat bahwa kemajuan sebuah peradaban bisa diukur dari jumlah energi yang mereka gunakan dalam berkomunikasi. Tentunya masuk akal, semakin maju sebuah peradaban, maka semakin banyak pula energi yang dibutuhkan untuk menyokong peradaban tersebut.

Kardashev membagi peradaban manusia kedalam tiga jenis: Peradaban Tipe I atau Planetary Civilisation dimana spesies tertentu sudah mampu memaksimalkan penggunaan seluruh sumber energi yang ada di planetnya.

Pendapat lain mengatakan bahwa Peradaban Tipe I adalah peradaban dimana manusia menjadi 'Tuan' (Master) di Planet Bumi. Manusia bukan cuma mampu memanfaatkan sumber energi yang sudah ada, tetapi juga membalikan efek pemanasan global, mengontrol cuaca, badai, gunung vulkanik, bahkan gempa.

Michio Kaku dalam bukunya Physics of The Future, dengan sangat elegan memprediksi bahwa umat manusia akan sampai pada peradaban Tipe I di penghujung abad ini.

Lalu dimana posisi kita sekarang? Menurut Carl Sagan, peradaban umat manusia, bila dilihat dari jumlah energi yang digunakan, baru mencapai skala 0.7 pada tahun 70-an. Cukup jauh jika dibandingkan dengan nenek moyang kita yang tinggal di gua. Tetapi masih tergolong primitif jika dibandingkan dengan peradaban selanjutnya. Kita masih tergantung pada bahan bakar fosil dan belas kasih alam.

Selanjutnya adalah Peradaban Tipe II, dimana spesies tertentu mampu menggunakan energi secara maksimal dari induk bintangnya. Dalam konteks tata surya adalah matahari. Peradaban Tipe II tidak sama dengan penggunaan panel surya yang lazim dipakai sekarang. Para ilmuwan berhipotesis tentang kemungkinan dibangunnya megastruktur yang menyelimuti matahari atau yang sering disebut Dyson Sphere. Megastruktur tersebut digunakan untuk menyerap seluruh energi yang dipancarkan oleh matahari.

Sedikit intermezzo, sejak tahun 2015 kemarin para ilmuwan disibukan dengan adanya bintang yang berperilaku aneh. Bintang tersebut, yang dinamakan KIC8462852,  memancarkan pola cahaya yang tidak lazim. Mereka berhipotesis tentang kemungkinan adanya Alien megastructure yang menyelimuti bintang tersebut.

Peradaban terakhir yang dijelaskan oleh Kardashev adalah Peradaban Tipe III. Spesies yang sampai pada tahap ini mampu mengontrol seluruh energi yang ada pada galaksi tempat ia tinggal.

Tidak banyak ilmuwan yang bercerita panjang lebar tentang peradaban Tipe III. Karena mereka tahu, sulit membayangkan peradaban yang sudah sampai ketahap ini. Yang terbayang adalah peradaban seperti yang tergambar dalam film Star Trek atau Star Wars. Meski kata para ahli, jika kita sampai pada tahap ini, kemungkinan besar kita bukan lagi mahluk yang pure organik seperti sekarang.

Sebenarnya masih ada Tipe peradaban lain yang ditambahkan oleh para ahli, peradaban Tipe IV dan V. Tapi lagi-lagi akan sangat sulit membayangkan jenis peradaban tersebut karena sudah borderline dengan sifat-sifat ketuhanan. Bayangkan jenis spesies apa yang bisa menguasai alam semesta, memanipulasi ruang dan waktu, dan menembus multiverse?

Sampai sekarang saya masih sering menarik nafas. Mungkinkah manusia sampai pada tahap kemajuan seperti itu? Mengingat bagaimana destruktifnya umat manusia terhadap alam atau bahkan sesama manusia. Tetapi, semakin banyak dipelajari, semakin besar pula keyakinan saya tentang kemungkinan kita mencapai peradaban yang lebih maju. Tentunya kalau Planet Bumi tidak dihantam meteor seperti 65 juta tahun yang lalu.

Nenek moyang kita yang tinggal di era Mataram, Pajajaran dan Majapahit mungkin tidak pernah membayangkan keturunannya akan mengendarai kendaraan mentereng dan berkilat buatan Jepang. Pun mereka tidak membayangkan peralatan kesehatan modern yang tersedia di zaman ini.

Jika dari kecebong kita bisa menjadi mahluk yang menjejakan kaki di Bulan; maka tidak menutup kemungkinan di masa depan kita akan menjadi Spacefaring civilisation, penjelajah alam semesta. Sebagaimana ide yang sekarang digagas oleh Elon Musk dan lainnya.