Baru-baru ini saya membaca esai White Negro karya Norman Mailer. Di antara semua esainya yang lain, White Negro termasuk yang paling diingat, tersebar luas, dan dicetak ulang berkali-kali di berbagai media.

Dalam esai sembilan ribuan kata ini, Norman menjabarkan filosofi Hipster dalam enam bagian. Ada bagian-bagian yang kontroversial, yang tentu saja menjadi salah satu faktor reputasi tulisan ini. Namun yang juga tak terbantahkan adalah kedalaman dan keluasan penjabaran mengenai Hipster dalam esai ini.

Dan, di samping itu, kejeniusan dan keanehan yang menguar saat anda membaca tulisan tersebut.

Jelas, Norman menulis White Negro dalam kondisi heightened-awareness (kondisi kesadaran dan keawasan terelevasi). Melihat rekam jejak tulisan dan produktivitas yang luar biasa dari Mailer, kondisi ini seperti merupakan bakat alaminya.

Dan merokok marijuana, salah satu kebiasaannya, mungkin saja ikut berperan dalam mengeksponensialkan kondisi alami Norman. Tapi mari lupakan faktor-faktor potensial penyebab ‘keanehan’ ini dan lebih baik fokus pada tulisan itu sendiri.

Selesai membaca esai luar biasa ini, saya teringat pada beberapa karya lain yang mengandung edge (keunikan otentik yang menjadi kelebihan) seperti White Negro, di antaranya adalah novel Dune karya Frank Herbert dan Supernova, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (selanjutnya ditulis KPBJ) oleh Dewi Lestari.

Sekilas soal Dune. Dune adalah novel fiksi ilmiah legendaris yang diakui sebagai salah satu yang terbaik, bahkan tak sedikit yang menganggapnya sebagai yang terbaik sepanjang sejarah fiksi ilmiah.

Dune bagi fiksi ilmiah adalah seperti Lord of The Rings (selanjutnya ditulis LoTR) dan Game of Thrones (selanjutnya ditulis GoT) bagi fantasi. Kualitas terbaik dan naik level menjadi legenda yang tahan ujian waktu.

Namun, tidak seperti LoTR dan GoT, Dune secara unik tidak merasuki kesadaran kolektif massa internasional dan menjadi ikon budaya populer. Ada dua sebab utama akan hal ini.

Pertama, adaptasi. LoTR diadptasi oleh Peter Jackson menjadi trilogi yang betul-betul luar biasa dan terasa skala dan aura epos legendarisnya. Demikian juga GoT, adaptasi serial televisinya juga amat bagus dan memikat serta meraih berbagai penghargaan seperti LoTR.

Alasan kedua lebih esensial. Tidak seperti LoTR dan GoT, Dune terasa sangat alien dan ‘kurang manusiawi’ bagi masyarakat umum. LoTR memiliki banyak aspek manusiawi semisal persahbatan Frodo dan Sam, humor penyegar suasana dalam sosok Merry dan Pipin, dan lain-lain.

GoT juga amat manusiawi. Tak seperti fantasi lain yang fokus pada sihir, GoT fokus pada manusia dan dinamika antar manusia sehari-hari semisal keluarga, ekonomi, sosial, budaya, politik, agama, kekuasaan, dan sebagainya. Aspek sihir dan fantastis semacam white walkers dan naga hanya mendapat porsi kecil.

Singkat kata, LoTR dan GoT amat manusiawi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanya keduanya amat relatable dengan audiens luas.

Dune tidak demikian. Para protagonis dan tokohnya amat jauh dari aspek manusiawi sehari-hari. Hampir semua karakter utama luar biasa terkendali dan memiliki keawasan situasional gila-gilaan. Dan emosi sehari-hari juga sulit didapati di dunia Dune.

Saat ayahnya meninggal, Paul Altreid – protagonis utama – sama sekali tidak menangis dan malah menilai situasi sekitar dan langsung mulai memikirkan rencana balas dendam pada pelaku di balik kematian ayahnya.

Kalau atmosfer dan para karakter di Dune dibahasakan, istilah yang mendekati adalah ultra awareness (kondisi keawasan dan kendali diri level ekstrem). Ini, tak terbantahkan lagi menjadi faktor esensial mengapa Dune tidak memasuki kesadaran kolektif budaya populer. Bukannya saya mengeluh, sih. Saya tetap ngefans berat pada kualitas Dune.

Jika kita bandingkan karya-karya yang disebutkan di atas berdasarkan level ‘kemembumian’, ‘keterhubungan’ serta ‘familiaritas’ dengan manusia umum, maka peringkatnya adalah KPBJ oleh Dee, Dune oleh Frank Herbert, lalu White Negro oleh Norman Mailer.

White Negro terasa paling ‘aneh’ dan ‘alien’ karena kontennya sekaligus bentuknya, yakni esai penjabaran logis terstruktur dan bukan cerita. Dune menempati posisi kedua karena bentuknya adalah novel. Cerita. Fiksi. Dalam ceritanya masih ada elemen manusiawi dan dinamika antar manusia, walau masih terasa asing bagi masyarakat umum.

Dan yang paling berhasil ‘membumi’ adalah KPBJ karya Dee. Setidaknya di Indonesia. Namun itu pun sudah luar biasa. Keberhasilan KPBJ ini terjadi karena kesetimbangan kritis dari berbagai elemen yang sekilas bertentangan, namun menyatu sangat halus sepanjang cerita.

Bentuknya adalah novel atau cerita, otomatis ada elemen manusiawi dan dinamika antar manusia. Soal emosional dan lain-lain.

Level keawasan diri dan konteks situasi dibuat sebagai rentang yang diwakili oleh karakter. Level avatar enigmatik ekstrem diwakili oleh Diva. Level menengah diwakili oleh Dimas dan Reuben, yang sekaligus menjembatani dan menjelaskan level Diva ke kalangan awam.

Di level umum sehari-hari ada berbagai karakter yakni Rana, Ferre, Ale, dengan berbagai permasalahan mereka yang amat umum dan universal semisal romansa, perselingkuhan, karir, dan sebagainya.

Level ekstrem dari Diva dan penjelasan sains level kuantum dari Reuben Dimas diimbangi secara sama kuatnya dengan berbagai puisi yang bertebaran sepanjang cerita. Indah, padat, esensial, universal. Betul-betul bukan puisi kacangan.

Nah, di sini kita masuki bagian menariknya.

Ketiga karya di atas sama-sama memiliki berbagai bentuk ‘keanehan’ dan edge. Umumnya karya-karya seperti ini, kalau menulisnya tidak ahli, dari perspektif konvensional akan dicap sebagai sok pintar dan sedang masturbasi intelektual belaka.

Dan, secara alami, pekarya yang memiliki elemen ‘aneh’ dan edgy tentu akan melemah semangatnya karena sebutan sok pintar ini. Padahal edge itu bisa jadi justru adalah kelebihan utama dan identitas otentiknya sebagai pekarya.

Tentu ini tak terlepas dari selera.

Namun, yang hendak saya tuturkan di sini adalah, jangan patah semangat. Sok pintar atau tidak tergantung dari banyak hal. Tepat tidaknya forum karya tersebut diposting, level keahlian si penulis pemilik edge, perkembangan ketepatan komunikasinya atas karyanya ke khalayak, dan sebagainya.

Jadi jangan langsung dibuang edge itu. Itu bisa jadi malah seperti membuang potensi penggiringan bola sehebat Messi. Jangan dibuang atau disembunyikan, melainkan ekspresikanlah terus-menerus dalam jangka panjang, sehingga secara alami akan ditemukan kesetimbangan komunikasi yang memungkinkannya tersampaikan ke khalayak.

Jangan takut salah.

Biar saja salah, sehingga bisa lebih cepat dievaluasi dan perkembangannya tidak termutilasi.

“Gagallah dengan cepat, gagallah lebih awal,” kata Andrew Stanton. “Salahlah secepat mungkin,” dengan variasi yang lain.

Mentalitas takut ‘salah’ dan takut gagal sebenarnya sangat beracun. Potensi di masa depan jadi terbatasi tanpa sadar sehingga probabilitas peningkatan keperajinan juga menurun tajam.

Dalam bukunya yang berjudul Creativity, Inc, Ed Catmull mennerangkan kenapa kegagalan itu bukanlah aib.

“Jika anda tidak mengalami kegagalan, maka anda membuat kesalahan yang jauh lebih berbahaya : yakni termotivasi untuk menghindarinya. Dan, terutama bagi pemimpin, strategi ini – mencoba menghindari kegagalan dengan mengakalinya – ditakdirkan untuk tidak bekerja,” ujar Catmull.

Takut membuat anda ragu bergerak. Anda menjadi stagnan, bagai genangan air. Dan kita tahu sifat air. Jika ia menggenang ia akan membusuk. Jika mengalir, ia bisa menjadi jernih. Dan sudah jelas manusia itu bagai gentong air berjalan, karena sebagian besar komponen biologisnya adalah cairan.

Dalam diam situasi mampet. Terperangkap status quo. Dalam pergerakan ada kemungkinan, ada perpindahan diri dan pergeseran situasi. Dan kumpulan probabilitas itu jauh lebih baik daripada stagnansi yang mencekik.

Ini bahkan dijabarkan oleh Mailer dalam bagian III dari White Negro, yang sebagiannya saya terjemahkan di sini :

“Gerakan selalu lebih disukai ketimbang inaksi. Dalam pergerakan orang punya kesempatan, tubuhnya hangat, instingnya gesit, dan saat krisis tiba, entah soal cinta atau kekerasan, dia bisa berhasil, bisa menang, bisa melepaskan energi lebih untuk dirinya karena kini ia lebih sedikit membenci diri sendiri.

Ia bisa membangun sistem saraf yang sedikit lebih baik, untuk lebih mungkin untuk bangkit, lebih cepat di lain kesempatan dan menghasilkan lebih dan mengalir bersama lebih banyak orang.”

Ada banyak contoh konret pekarya yang berhasil mempraktekkan hal ini, salah satunya adalah mangaka Jepang bernama Yusei Matsui.

Karyanya yang terkenal dan tersebar luas - dalam pengertian seperti KPBJ – adalah Ansatsu Kyoshitsu (Kelas Pembunuhan) . Manga ini menceritakan soal gurita humanoid super yang menjadi guru bagi para pelajar.

Kisah ini memiliki kesetimbangan harmonis yang amat baik antara edge dan common. Sisi otentik dari Yusei Matsui muncul dalam sosok monster gurita tengil yang amat kaya ekspresi. Sedangkan sisi masyarakat umum diwakili oleh berbagai muridnya dan karakter lain.

Bersama mereka melewati berbagai isu sehari-hari yang relatable baik di Jepang maupun di sekolah lain di dunia. Semisal perisakan, putusnya kepercayaan antar guru dan murid, beda perlakuan berdasar performa akademis, dan sebagainya.

Fusi harmonis ini hanya mungkin terjadi karena Yusei Matsui terus berkarya sejak lama dan terus berniat mengkomunikasikan karyanya secara membumi. Keberhasilan Ansatsu Kyoshitsu adalah kulminasinya, bagaikan berlian yang terbentuk melalui proses panjang penuh panas dan tekanan.

Kita bisa melacak progres dari proses kreatif Matsui.

Manga panjang pertamanya adalah Neuro : Supernatural Detective (Neuro Nogami si Detektif Iblis). Jika anda baca bab-bab awal manga ini, anda akan menyadari level ‘keanehan’, edge, serta keunikan dari Matsui masih sangat kuat dan ‘belum terjinakkan’ di sini.

Kesan-kesan saat membaca bab-bab awal dari manga Neuro di antaranya adalah : bizarre, grotesque, super weird, hellish, ‘inhuman’, dan sebagainya.

Namun, ini dia : seiring waktu berlalu, kita bisa melihat perkembangan dari manga Neuro ini. Semakin bab-nya berlanjut, karyanya semakin manusiawi. Emosi dan hubungan antar karakter semakin kaya dan ‘wajar’. Kehalusan ilustrasinya berkembang. Trik-trik makin dalam, dan sebagainya.

Dan ini semua sama sekali tidak menghilangkan keunikan kelam nan pekat dari manga Neuro.

Ini bisa dicapai karena Matsui tidak menyerah berkarya dan terus berlatih dengan prinsip extended deliberate practice, yang amat cocok, mengingat menulis manga termasuk disiplin sepuluh ribu jam.

Proses serupa juga dijalani Mbak Dee. Novel KPBJ berhasil mencapai kesetimbangan kritis yang halus serta keberhasilan pengkomunikasian otentisitas diri karena Mbak Dee sudah berproses lama. KPBJ diterbitkan pada usianya yang pertengahan dua puluhan, dan Mbak Dee sudah mulai menulis sejak kecil.

Terlihat kan hasil prosesnya?

Proses yang butuh waktu dan tidak mudah itu.

Ini juga bisa kita lihat pada diri Guillermo del Toro, sutradara terkenal super keren itu. Di masa kecilnya beliau adalah anak yang amat menggemari hal-hal terkait horor, monster, makhluk dan hal aneh, dan sejenisnya. Intinya yang dekat dengan bizarre, grotesque, super weird, hellish, ‘inhuman’, dan lain-lain.

Namun keluarganya tidak mematikan kegemaran dan minat kreatif del Toro. Dan setelah melalui proses kreatif panjang juga, del Toro berhasil mencapai level yang mantap baik secara teknis-kritis maupun komersial, tanpa kehilangan otentisitas kepribadian dan karyanya.

Contoh jelasnya amat terlihat dalam film Pan’s Labyrinth dalam desain berbagai monster, atmosfir gelap, serta tema kelam, namun ada sebentuk keindahan artistik dan aspek manusiawi tak terbantahkan di sana.

Dalam film Hellboy ini juga mewujud di antaranya dalam monster tanaman yang seakan menjadi penubuhan keganasan serta keindahan hijau dari alam. Dalam Pacific Rim muncul dalam berbagai monster keren.

Dan dalam The Shape of Water muncul dalam makhluk amfibi humanoid (keunikan del Toro) yang berhubungan dengan seorang wanita (masyarakat umum).

The Shape of Water menerima pengakuan kritis dan memenangkan Singa Emas di Festival Film Internasional Venesia ke 74, serta Direktur Terbaik bagi del Toro di Penghargaan Golden Globe ke 75.

Di sini terlihat jelas bahwa ‘keanehan’ bukanlah suatu aib yang harus dibuang dan disembunyikan. Ia tergantung pada konteks dan berbagai variabel.

Dan ada satu lagi aspek menarik dari ‘keanehan’ ini, yakni memang merupakan bagian alami tak terpisahkan dari pekaryanya.

Kita kembali ke Norman Mailer.

Ia adalah penulis yang luar biasa produktif, super niat dan tidak malas dalam berkarya. Ada berbagai aspek dari banyak karyanya yang kontroversial, menantang persepsi umum dari massa, dan tak jarang menimbulkan kritik tajam penuh angkara murka.

Contoh gampangnya adalah berbagai aspek kontroversial dalam White Negro. Anda bisa membaca sendiri esai tersebut, dan pasti tidak sulit menemukan bagian pemancing amarah yang dimaksud.

Mailer sendiri tidak malu-malu dalam menyatakan pendapatnya. Dalam berbagai kesempatan ia utarakan secara gamblang, baik lisan maupun tulisan, ekspresi dan pandangannya akan banyak isu. Salah satu ucapannya yang berulang adalah terkait revolusi kesadaran.

“Kebenaran pahitnya adalah aku terpenjara dalam persepsi dimana aku takkan puas pada hasil di bawah revolusi kesadaran di era kita,” kata Mailer dalam Advertisements for Myself (1959).

Berbagai hal ini juga menimbulkan berbagai respon terhadapnya. Machismo beracun, narsistik, kelewat ambisius, merendahkan perempuan, pengguna bahasa sok indah dan sok berbunga-bunga, sok pintar, dan lain-lain. Berbagai gelar dan kritikan ini dialamatkan kepada Mailer dari berbagai pihak.

Kesemuanya ini mengandung benang merah tersirat, yakni seakan Mailer melakukan berbagai tindakan dan ucapan serta menulis berbagai hal kontroversial dengan sengaja dan terukur untuk mencari perhatian.

Namun ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini.

Bagaimana kalau semua itu adalah ekspresi dari bagian alami tak terpisahkan dari seorang Norman Mailer?

Ada berbagai fakta yang mengindikasikan bakat dan kejeniusan alami pada diri Mailer. Ia masuk Universitas Harvard pada usia enam belas tahun. Ia menerbitkan novel mantap pertamanya, The Naked and the Dead, pada usia 25 tahun, berdasarkan pengalamannya di Resimen Kavalri ke 112 di masa Perang Dunia 2.

Novel itu meraih kesuksesan komersil luar biasa dan diakui secara kritis dengan meraih posisi ke 51 di daftar 100 novel berbahasa Inggris terbaik pada abad ke dua puluh.

Sekali lagi, pada usia 25 tahun!

Dari sini, besar kemungkinan bahwa memang ada bagian alami dari diri Mailer yang di luar kuasa kendalinya. Bisa dibilang Mailer adalah seperti Eero Mantyranta di dunia menulis. Eero adalah atlet yang meraih medali emas karena kondisi alami dirinya.

Dan jika demikian, maka Mailer bukanlah pencari sensasi. Semua ini memang ‘bagian dari sifatnya’. Komponen tak terpisahkan dari seorang Norman Mailer.

Bukan untuk gaya-gayaan. Bukan sengaja cari masalah. Bukan untuk mencari sensasi demi reputasi.

Ini di luar baik dan jahat. Semata bagian dari kemanusiaan dirinya secara keseluruhan. Mengekspresikan semburan inspirasi alami dan jaringan lesatan informasi secepat cahaya di pikirannya. Ini terekspresikan sangat kuat di antaranya dalam White Negro.

Karena tidak sepenuhnya dalam kendali dirinya, ekspresi artistik dan jurnalistik Mailer mengalami momen-momen ‘liar’, ‘menggila’, dan naik turun.

Namun kejeniusan Mailer yang tak terbantahkan juga menemukan titik puncaknya baik dalam fiksi maupun non fiksi, yakni melalui The Executioner’s Song dan Armies of The Night. Yang pertama menggondol Penghargaan Pulitzer untuk Fiksi, yang kedua meraih Pulitzer untuk NonFiksi sekaligus Penghargaan Buku Nasional.

Semua yang akrab dengan dunia kreatif menyadari bahwa ada korelasi antara ‘keliaran’ dan ‘ketidakseimbangan’ dengan kejeniusan. Maka menelaah hal ini dari kacamata moral hitam putih adalah kesia-siaan belaka.

Lagipula kalau dilihat dari kebaikan dan kejahatan pun tidak masalah. Banyak dari aspek tulisan Mailer yang dianggap ‘beracun’. Namun racun atau tidak hanya masalah dosis dan interaksi dengan berbagai komponen lain dimana ia berada.

Contoh : anestesi pembedahan di Jepang kuno bernama Tsusensan. Komponennya adalah berbagai racun semisal datura alba, aconitum japonicum, dan lain-lain. Namun dosis dan komposisinya disesuaikan sehingga membawa manfaat bagi manusia.

Vaksin juga menerapkan prinsip serupa. Yakni hal berbahaya namun dijinakkan sehingga menguntungkan bagi manusia.

Lagipula, orang selalu saja berangapan bahwa niat baik dan cinta akan berujung kebaikan. Padahal matahari membawa kebaikan bagi manusia karena berbagai faktor. Jarak yang pas dengan bumi, adanya atmosfir, dan lain-lain.

Cahaya hangat mentari bagi Merkurius hanyalah api neraka pembakar segala. Cinta adalah energi, dan energi yang tak terkendali hanya akan menghancurkan objek energi itu. Niat baik yang salah kaprah dan tak terkendali malah akan menghancurkan.

Contoh paling konkret dari hal ini adalah kasus penelanjangan dua remaja yang dituduh berbuat mesum, padahal nyatanya tidak. Tapi terlambat, keduanya sudah mengalami trauma mental yang luar biasa.

Semua hal terkait dengan konteks. Konsep mengawang-awang yang tercerai dari kehidupan membumi manusia hanya akan membawa kehancuran. Keawasan dan keterhubungan dengan variasi situasi jelas amat diperlukan.

Percuma menilai dari baik dan buruk tapi buta konteks.

Malah akan membawa kehancuran, tapi tanpa disadari pelakunya.

Tak ada salahnya menjadi ‘aneh’. Menjadi di luar kewajaran bukanlah dosa. Karena definisi normal adalah rata-rata dan konsensus sosial manusia.

Fluktuatif.

Berganti.

Berubah seiring waktu.

Hal alami yang tak terelakkan.

P.S. : Ada produk sampingan dari penjabaran ini. Jika semburan inspirasi dan ‘keliaran’ milik Mailer sebagiannya adalah bawaan alami, maka ia memiliki antitesis, yakni Haruki Murakami.

Murakami sendiri mengaku harus terus-menerus menggali sumur inspirasinya. Bahwa ia bukan orang berbakat, dan karenanya harus terus-menerus berlatih dan berolahraga, misalnya maraton.

Jika Mailer adalah Sasuke Uchiha, maka Murakami adalah Rock Lee.

Jenius alami dan jenius berkat kerja keras.

Menarik.