Sastra bukanlah hal usang untuk dilakoni. Dengan sastra kejumudan kehidupan bisa ditelaah dan dikuliti satu persatu. Sastra kadang tak mau kalah dengan senapan panas aparat hingga belati tajam preman. Sastra lebih dari itu. 

Seperti sinar surya yang begitu mentereng, sastra menerangi manusia disamping peranan rasionalitas yang manusia miliki. Aku tak tahu, sampai titik mana sastra bergulat di era populis hari ini.

Bukan bersikap hiperbolis, sastra mampu menuangkan gagasan dan gambaran problematika yang tengah dihadapi manusia. Eufemisme sering digunakan dalam penggunakan kata, kadang kala ditujukan untuk melemahkan pendapat secara halus. UU ITE memaksa rakyat agar tak main-main dengan namanya kritik. Kritik dipaksa luwes atau bahkan mati bila melihat keburukan.

Lalu bagaimana dengan kebebasan berpendapat? Dibatasi kah atau hanya sebatas formalitas agar dipandang lebih demokratis? Etika juga disisipkan kala mendedah perihal kebebasan. John Stuart Mill (1806-1873) dalam Dutie of Perfect Obligation and Duties Of Imperfect Obligatio. Kadang gagasan Mill disalahtafsirkan kala subjektifitas dipaksakan kepada golongan atau kelompok tertentu dengan etika.

Pemahaman akan etika sering kali memiliki perbedaan antar golongan satu dengan lainnya. Etika dijadikan sebagai garis pemisah dengan dikolaborasikan pada aturan regulasi resmi, semakin membuat kebebasan itu menjadi gelap. 

Menariknya, meraka yang mempunyai relasi kuat akan mempermainkan makna etika selincah mungkin, hingga maraknya kebebasan berekspresi kembali dikebiri karena terkungkung etika yang dimanipulasi.

Eufemisme bisa dipahami sebagai bentuk pengurangan dalam penggunaan kata agar enak didengar, bahkan agar bisa mendapat pujian dari sebuah gagasan yang telah di filter melalui konsep eufemisme.

Kasta dalam ungkapan Bahasa Jawa misalnya, adalah salah satu contoh eufemisme. Kata “Mangan” tidak mungkin digunakan untuk orang dewasa kecuali berani di cap tak sopan.

Represifitas dan penghapusan grafity “Tuhan Aku Lapar,” sebagai bentuk pemaksaan eufemisme oleh aparat ataupun penguasa dengan alasan tidak sopan dan terlalu menohok. Kepincangan dan buta kritik adalah (mati), memahami apa itu demokrasi. Ekspresi atas rabunnya kesejahteraan tak bisa dipungkiri, pasti rakyat akan berbicara bagaimana berharap itu menyakitkan.

Perlu mengulas kembali bagaimana kritik lantang Vladimir Mayakovsky untuk menentang feodalisme dalam sastra. Kritik Mayakovsky terhadap bahasa yang dikawinkan dengan kebudayaan jauh dari sikap revolusioner.

Terkesan kolot, berkasta dan satu lagi mematikan kesetaraan. Hal tersebut fatal, bila penguasa membredel membawa-bawa kebudayaan dan etika untuk kepentingannya.

Hari ini, konsep bahasa mulai dipenjara kedalam ruang-ruang neofasis. Eufemisme digaungkan secara terstruktur hingga munculnya UU ITE dan beberapa UU lain untuk mencerat kalimat atau sastra yang anti kritik. Kekejian Hitler atas gagasan chauvinism, belum mati. Masih mencongkol dalam hati siapa saja. Kritik sama dengan tolol. Siapa sebenarnya yang tolol?

Gerakan kolektif di Surakarta dengan keberanian tinggi menjunjung manifest gotong royong, nampaknya benar-benar memukul rahang penguasa. Tindak represif menyeret mereka. Mereka tidak melakukan perusakan, mereka berbaur dengan masyarakat tanpa embel-embel populis, walaupun sering dituduh kambing hitam segala kericuhan demonstrasi.

Epiknya mereka dengan gagah berani memberikan waktu dan hartanya untuk rakyat yang beberapa tertipu ocehan penguasa dengan rintih kelaparan. “Gerakan kami adalah kritik.” Begitu agitasi yang disampaikan melalui media berbalut seni berkomposisi hitam.

Coretan mural di Tangerang adalah gerak reaksioner curahan hati rakyat yang tercekik oleh kondisi. Pandemi yang tak kunjung reda ditambah tikus raksasa nyolong bantuan bansos tak jadi dihukum mati, masyarakat semakin panas dan sekali lagi –pedih rasanya berharap pada manusia bernyawa tikus rakus. Memang uraian kata Pram untuk mendidik penguasa dengan perlawanan, masih relevan untuk disampaikan.

Meksiko (1920-1924) pernah terjadi gejolak dan menimbulkan gerakan revolusi di kota maupun desa. Coretan mural yang mengandung kritik pedas menempel ditembok dan bangunan-bangunan kota atas inisiatif para seniman yang geram dengan regulasi pemerintah Alvaro Obregon kala itu. Dari situ muncul tokoh-tokoh seni revolusioner seperti; David Alvaro, Frida Kahlo, Tina Modotti, dsb.

Elaborasi. Begitulah yang disampaikan oleh Antonio Gramsci. Elaborasi adalah sebuah kondisi dimana pemahaman akan realitas itu ditafsirkan melalui sebuah manifest praksis ataupun filsafat. Tak bisa dipungkiri, pembuatan mural dan kreasi kritik melalui sastra dan seni tidak bisa disalahkan. Itu semua hasil elaborasi rakyat atas realitas yang terjadi. Membredel, berarti penguasa sedang sakit.

Berbicara elaborasi berarti berbicara kesadaran atas realitas yang dihadapi. Ketika kondisi memang menuntut untuk berbicara, dan bergerak maka hal ini adalah sebuah kewajiban. Kewajiban rakyat sebagai pemegang tertinggi sebagaj kedaulatan raakyat.

Hal-hal berupa kritik apabila mati dan tak bisa dituangkan dalam gagasan berupa teks atau karya seni, berarti ada sebuah kesalahan dalam mengilhami demokrasi. Ini beresiko pada, sakleknya demokrasi akan berimbas pada sebuah gejolak perlawanan yang tak mungkin terhindarkan.