* Cepat atau lambat kita harus menyadari bahwa bumi juga punya hak, hidup tanpa polusi. Yang harus dipahami umat manusia adalah kita tidak bisa hidup tanpa bumi, tapi planet ini bisa hidup tanpa manusia* -Evo Morales, Mantan Presiden Bolivia-


Masalah lingkungan hidup menjadi perhatian serius dunia dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Munculnya isu pengelolaan lingkungan hidup merupakan respon melihat berbagai pola pemanfaatanlingkungan yang tak menentu, sehingga menyebabkan ketersediaan lingkungan untuk kehidupan sosial kian terdegradasi secara perlahan-lahan. Belum lagi untuk kelestarian ekosistem tumbuh-tumbuhan dan hewan yang terus terisolasi menjadi sebuah keharusan masalah lingkungan hidup ini mendapat perhatian. 

Di Indonesia, perhatian pemerintah perihal lingkungan hidup sudah sejak lama diaktualisasikan. Hal ini bisa dilihat dari dicantumkannya Wawasan Lingkungan Hidup dalam GBHN tahun 1978 serta diundangkannya UU No. 4 Tahun 1982 mengenai ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. 

Tak hanya sampai disitu, regulasi terkait pemanfaatan lingkungan hidup hingga saat ini pun sudah sangat banyak dihasilkan. Tapi nyatanya, paradigma pengelolaan lingkungan hidup kita kian semakin tidak jelas dan terus saja menuai masalah. Akibatnya, kualitas lingkungan hidup semakin menurun dan telah mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya, sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten. 

Perubahan lingkungan semakin cepat terjadi dan bencana datang silih berganti. Hal ini adalah fenomena krusial yang menyentak pemikiran kita. Beberapa musibah bencana disebabkan oleh penurunan kualitas lingkungan.

Pemberian ijin eksploitasi hutan secara massif menyebabkan erosi yang mengakibatkan longsor menimpa kawasan permukiman padat sehingga secara bertahap keseimbangan alam mulai terganggu, ekplorasi dan ekploitasi kekayaan SDA yang tak dapat diperbaharui, seperti emas, nikel, batu bara dll. 

Semua itu akan berdampak pada kerusakan lingkungan yang semakin parah dan tak terkendali, belum lagi permasalahan polusi udara di kota besar dikarenakan banyaknya penggunaan kendaraan bermotor, serta sikap apatis penduduk yang masih membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya. 

pengelolaan lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia ini merupakan imbas dari kurang pekanya para pemangku kepentingan dan masyarakat secara luas tentang pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat meningkatkan mutu kehidupan manusia tanpa merusak lingkungan. 

Padahal sejatinya, upaya pemanfaatan lingkungan hidup ini harus dikontrol sedemikin rupa sehingga konsep pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan terarahkan untuk pencapaian kehidupan manusia dan mahluk yang lainnya secara bermartabat. 

Permasalahan lingkungan hidup disebabkan oleh berbagai faktor, terutama oleh penduduk dengan segala dinamika dan aktivitasnya serta pengelolaan Sumberdaya yang kurang bijaksana. Menurut Sumarwoto (1997), pembangunan dapat dan telah merusak lingkungan, tetapi pembangunan juga diperlukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan. 

Sejatinya, kita semua memang menginginkan keadaan lingkungan yang lestari, yaitu kondisi lingkungan yang secara terus menerus dapat menjamin kesejahteraan hidup manusia dan juga mahluk hidup lainnya. Untuk memelihara kelestarian lingkungan ini setiap pengelolaan harus dilakukan secara bijaksana. 

Pengelolaan yang bijaksana menuntut adanya pengetahuan yang cukup tentang lingkungan dan akibat yang dapat timbul karena gangguan manusia. Pengelolaan yang bijaksana juga menuntut kesadaran akan tanggung jawab manusia terhadap kelangsungan generasi mendatang. 

Sebagai contoh, jika kita memperhatikan Negara Perancis yang sejak awal tahun 60-an telah menerapkan pendidikan berbasis lingkungan (ekopedagodi), hal ini menjadikan Perancis menjadi negara paling sukses dalam implementasi kepedulian terhadap lingkungan hidup. Menjadi pemimpin EU’s action plan untuk mengurangi emisi gas dengan pengurangan GHG (Green House Gass) yang targetnya dicapai pada tahun 2050. 

Dengan melihat keberhasilan Prancis dalam pengelolaan Lingkungan Hidup dengan strategi Pendidikan Berbasis Lingkungan ini tentu dapat menjadi pertimbangan pemangku kepentingan untuk terus berbenah dan bisa mengambil contoh dari sifat dasar konsep ini secara maksimal yang meliputi; 

  1. Alam jangan dipandang sebagai lingkungan hidup (environment) semata tetapi sebagai ruang pemberi dan pemakna kehidupan (lebenstraum). 
  2. Pendidikan yang dapat mengubah paragidma ilmu dan bersifat mekanistik, reduksionis, parsial dan bebas nilai menjadi ekologis, holistik dan terikat nilai sehingga dapat tumbuh kearifan (wisdom), misalnya dengan: membangun watak dan menghargai hak hidup mahluk hidup lainnya. 
  3. Pendidikan lebih menekankan pendekatan biosentrisme dan ekosentrisme, bukan lagi antroposentrisme. 
  4. Pendidikan untuk mengenali alam, sehingga tumbuh rasa cinta/ respek terhadap alam beserta isinya. 

Di lain sisi, dengan ikhtiar pemerintah untuk terus menggenjot kesadaran yang dimulai dalam bidang pendidikan lingkungan hidup, sebagai bagian dari masyarakat dunia kita mesti sadar bahwa membuang sampah sembarangan di aliran sungai maupun pantai, penebangan hutan secara liar dan tanpa penanaman kembali, eksploitasi secara besar-besaran sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui, dan berbagai hal yang mencederai esensi suatu lingkungan hidup akan sangat berdampak serius pada kerusakan lingkungan yang tentu akan mengakibatkan kerusakan kehidupan. 

Sehingga, patut diingat bahwa, Indonesia yang sebelumnya telah mengadakan seminar tentang lingkungan hidup untuk pertama kalinya pada 15-18 Mei 1972 dan ikut serta dalam penyelenggaraan konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm 5-11 Juni 1972, ditetapkannya tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (The Environment Day), serta didirikan pula badan PBB yang mengurus masalah lingkungan, yakni United Nation Environmental Programme (UNEP), tak lain dan tak bukan adalah bagian dari keterlibatan Indonesia secara internasional untuk menyuarakan hakikat dan esensi dari pengelolaan lingkungan hidup yang harmonis, berkeadilan dan berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.