Perayaan Idul Adha tahun 2015 di Jakarta diwarnai dengan pelarangan dari Gubernur Basuki Tjahaja Purnama untuk tidak menyembelih binatang di sembarang tempat. Alasan Gubernur sederhana, karena akan banyak penyakit datang dari darah dan segala kotoran yang tercecer.

Sebaliknya Ahok menyerukan untuk menyembelihnya di tempat penyembelihan umum. Reaksi keras datang dari para umat muslim, mereka melihat pelarangan Ahok bertentangan dengan perintah Rasul, karena Nabi Muhammad menyerukan untuk menyembelih di tempat umum.

Tak lama berselang, pernyataan terbaru yang dikeluarkan dari Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla mengenai pengeras suara dari tempat ibadah umat Islam. Ia menuturkan agar volume azan tidak terlalu keras sehingga mengganggu tetangga. Seringkali antarmasjid saling bertarung ketika mengumandangkan azan dan itu adalah bentuk polusi suara, ujarnya.

Jangankan Ahok yang nonmuslim dan dianggap pelarangannya hanya sebagai sentimen agama, Jusuf Kalla juga mendapatkan nada sinis dari beberapa kalangan.

Kita akan mencoba mengurainya dari kasus penyembelihan hewan terlebih dahulu. Secara historis praktik penyembelihan hewan dalam agama dimulai dari Adam. Nabi Adam dan keluarga saat itu diharuskan menyembelih hewan ternak sebagai zakat pada yang Maha Kuasa, Nabi Adam dan keluarga harus naik ke tempat yang tinggi dan mempersembahkannya pada Tuhan.

Praktik ini terus berlanjut, sampai kemudian penyembelihan hewan dalam Islam dimomentumkan dengan pengorbanan anak Ibrahim, yang kemudian hari ini kita rayakan sebagai hari raya Idhul Adha. Dua kejadian tersebut jelas menunjukkan bahwa penyembelihan hewan merupakan ibadah dan maka dari itu hanya Tuhan yang menjadi tujuan, ibadah bersifat privat.

Kedua penyembelihan dilakukan tidak dengan mengundang seluruh masyarakat untuk berpartisipasi, namun justru dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Karena ini adalah ibadah, yang tentu saja hanya berupaya mendapatkan keridhaan dari Tuhan.

Lalu sampailah di masa Muhammad di mana Idhul Adha diperingati dengan begitu gegap gempita. Hewan kurban disembelih di tempat umum, dan daging dibagi-bagikan untuk seluruh umat. Hal ini karena pada masa itu Islam sedang menancapkan hegemoninya. Maka salah satu taktik yang dilakukan demi mendapatkan pengikut adalah dengan melakukan kegiatan yang bersifat komunal, sebagai bentuk unjuk diri bagi mereka kaum selain beragama Islam, dan efek dari kemenangan Islam setelah sekian lama berjuang.

Walaupun konteks penyembelihan pada saat itu lebih bernuansa pesta, demi memberikan batasan bahwa ini adalah praktik agama Islam, maka Rasulullah memberikan perintah untuk menyembelih hewan dengan bijak, atau dalam bahasa kekinian etis. Rasulullah mengharuskan menyembelih dengan pisau yang tajam, guna tidak menyakiti hewan kurban.

Rasulullah juga menganjurkan agar hewan yang akan disembelih diberi makan terlebih dahulu sebaik mungkin, dan hewan yang mendapatkan giliran selanjutnya tidak diperkenankan melihat kawannya sesama hewan yang disembelih. Inilah yang membedakan praktik penyembelihan hewan di dalam Islam dari mereka yang belum memeluk agama Islam.

Sebagai pemberitahuan bahwa agama Islam lebih beradab, taktik agar banyak yang terkesima dan kemudian masuk Islam, sekaligus memberitahukan pada lingkar umat Islam bahwa penyembelihan yang umat Islam lakukan berbeda dari kaum nonmuslim, sehingga mereka yang baru masuk Islam merasa tidak sia-sia, dan mendapatkan kebanggaan dengan agama baru mereka.

Pembagian daging kurban juga dengan begitu riuh dulu dilakukan karena sebagian besar dari pengikut Rasulullah berasal dari kalangan budak dan wanita. Mereka adalah dua kelompok yang selama ini teropresi. Budak-budak jarang mengonsumis daging, sehingga ketika mereka akan berebut ketika ada pembagian hewan kurban.

Penyembelihan di kawasan terbuka adalah agar semua lapisan masyarakat mampu mengakses. Islam mempertontonkan egalitarianisme. Manakala masyarakat arab masih sangat feodal, Muhamamad menghadiahi pengikutnya dengan kesetaraan yang dipertontonkan lewat perayaan Idhul Adha.

Lagi-lagi masyarakat menerjemahkan hal ini secara sangat material, mereka tetap melanggengkan sama persis seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ketika berkurban. Padahal jurus pamungkas Rasulullah saat itu adalah masalah etika memperlakukan hewan.

Ketika kemudian di konteks Jakarta, menyembelih hewan di tempat umum akan lebih banyak memberikan dampak buruk, maka saya setuju dengan apa yang dilakukan oleh pak Ahok. Secara vulgar, Ahok bisa disebut telah memperbaharui wajah Islam. Karena dengan begitu praktik penyembelihan hewan kita telah setidaknya nampak lebih etis.

Dan ini pula yang terjadi pada azan, seruan dari Jusuf Kalla untuk lebih bijak menggunakan speaker mushola murni karena seringkali banyak speaker mushola yang digunakan dengan dalih agama namun telah sedikit banyak mengganggu warga sekitar, tak hanya mereka yang nonmuslim termasuk mereka yang muslim.

Azan sendiri dulu dilakukan dengan semangat yang sama, istilah teknisnya tebar pesona, karena Islam sedang naik daun, maka azan adalah euforia pada kemenangan tersebut. Azan sendiri bahkan tidak datang dari Rasulullah, namun dari mimpi seorang sahabat yang kemudian mendapatkan izin dari Rasulullah untuk digunakan sebagai simbol penanda sholat.

Bukankah anda sudah memiliki aplikasi azan di gadget masing–masing sebagai pengingat? Mungkin, langkah saya terlalu radikal. Namun instruksi Jusuf Kalla untuk meregulasi azan hanya sebagai pengingat bahwa euforia itu sudah berakhir, Islam sudah kokoh di negeri ini.

Maka kritik yang disampaikan oleh kedua tokoh tersebut pada dasarnya mampu merevitalisasi wajah Islam yang semakin hari semakin tampak kurang bersahabat. Rasulullah sudah memberikan contoh jelas, bahwa etikalah yang membedakan umat Islam dari kaum jahiliyah di masa itu. Maka sebenarnya perkara etika terhadap hewan dalam Islam sudah mendahului Peter Singer, namun sayang hal itu justru dirontokkan oleh kalangan Islam itu sendiri di masa kini.

Maka setelah saya membaca Animal Liberation, karya Peter Singer, saya justru termangu meratapi nasib agama saya yang padahal sebelum buku ini terbit sudah jauh lebih progresif.