Modernitas dalam estetika diawali dengan perlawanan atas hegemoni estetika klasik yang tumbuh begitu kokoh menggiring wacana kesenian hingga Abad Pertengahan. Estetika Modern diwarnai dengan semangat “kepeloporan” (avant-gardism), yang mana para seniman berupaya mendobrak pakem lama dan berkeinginan melahirkan produk estetika modern yang sama sekali baru.

Keinginan tersebut tentu tidak serta merta lahir begitu saja, sudah barang tentu ada bangunan filosofis dan kemajuan sains yang menjadi latar lahirnya produk kebaruan tersebut. Buah revolusi ilmu pengetahuan sejak Galileo hingga Isaac Newton, dan munculnya pikiran-pikiran filsuf modern seperti Rene Descartes, Spinoza, Leibniz, David Hume, hingga Immanuel Kant, telah mengubah cara pandang manusia sehingga tercerai dari estetika klasik yang bercorak mimesis fungsional, dan kemudian memisahkan diri dari takhayul Abad Pertengahan yang kecenderungan estetikanya mengadopsi estetika klasik untuk kepentingan wacana teologis.

Jika kelahiran estetika modern erat kaitannya dengan filsafat modern, tak pelak lagi, kita bisa langsung arahkan telunjuk kita pada wajahnya Rene Descartes. Dalam buku sejarah filsafat, Descartes dinobat sebagai bapak filsafat modern yang telah mengawali lahirnya filsafat modern, yang buah pikirannya telah menjadi pra kondisi lahirnya estetika modern.

Rene Descartes (1596-1650) dikenal sebagai bapak filsafat modern. Penamaan itu didasari paling tidak atas temuan diktumnya yang berbunyi “Cogito, ergo Sum” (Saya berfikir, maka saya ada), yang sangat populer dan yang telah menjadi prinsip dasar bagi perkembangan filsafat modern setelahnya. 

Descartes bertolak dari suatu pemikiran yang sama sekali baru, ia mengawali proyek pemikirannya dengan sebuah kerangka pertanyaan epistimologi yang akan memungkinkan kepastian dalam pengetahuan manusia. Pertanyaan seputar bagaimana pengetahuan itu mungkin, membawanya pada satu syarat ide yang jelas dan terpilah-pilah. Hal itulah yang kemudian kita kenal dengan istilah “Clara et Distincta” (jelas dan terpilah-pilah).

Apa yang hendak ditegaskan oleh diktum tersebut adalah prinsip dasar yang mengawali seluruh ajaran filsafat modern, yaitu tema-tema seputar rasio, kesadaran diri, subjektifitas manusia. Sebuah cara pandang antropomorfis di mana manusia sebagai sentral dalam peradaban yang terlepas dari pengaruh-pengaruh eksternal seperti teosentrisme Abad Pertengahan. 

Hal inilah yang nantinya akan mempengaruhi wacana estetika modern yang berkutat pada tema-tema seputar subjektifitas, ekspresi individu seniman, seni untuk seni, disfungsional seni, kesumbliman, persoalan rasa, seni yang tanpa pamrih dan estetika ketidaktahuan.

Estetika ketidaktahuan? Benar sekali, itulah yang menjadi perhatian dalam tulisan ini. Sebuah kecenderungan estetika yang menyebut dirinya dengan istilah “je ne sais qoui” (aku tak tahu apa). Sebuah bangunan estetika yang menolak untuk dipahami, bahkan tak mungkin terpahami oleh kemapuan rasio manusia. 

Filsafat modern yang penuh dengan narasi epistimologi justru melahirkan kecendrungan estetika yang tak diketahui dalam bangunan estetikanya. Tapi sebelum kita masuk pada sesuatu yang “Aku tak tahu apa", kita perlu tau apa yang melatarbelakangi kecenderungan itu hadir. Untuk menjawab pertanyaan itu lagi-lagi telunjuk ini harus kita arahkan pada wajahnya Rene Descartes.

Prinsip “Clara et Distincta” (jelas dan terpilah-pilah), telah menjadi pondasi dasar dalam kecenderungan estetika modern. Sebuah karya seni disebut indah jika dia memiliki ide yang jelas dan terpilah-pilah. Sebuah ide yang hadir dihadapan akal budi secara langsung, tanpa perantara ingatan, prasangka, atau hambatan lainya. Singkatnya, ide itu jelas dan terpilah. Sebuah prinsip yang menjelaskan bahwa pengetahuan manusia dengan perangkat persepsi rasionya bisa disebut benar jika ia memiliki ide yang jelas dan terpilah-pilah.

Fitzerrald Kennedy Sitorus dalam makalahnya mengenai rasionalisme Rene Descartes menjelaskan bahwa dengan prinsip “Clara et distincta”, Descartes berharap bahwa ia tidak akan melakukan kesalahan apapun dalam penalaraan, sehingga dengan demikian, pengetahuan yang diturunkan secara deduktif dari cogito tersebut memiliki kebenaran yang pasti (Sitorus, 2016:14)

Dalam konteks estetika, ide yang benar berarti adalah yang indah, yang juga berarti bahwa sesuatu disebut indah jika dia “Clara et distincta” (Jelas dan terpilah-pilah). Yang dimaksud dengan persepsi yang jelas (clear) adalah persepsi yang jernih dalam pikiran kita, sementara persepsi yang terpilah-pilah (distinc) adalah persepsi yang selain jelas, juga dengan sangat tajam terpisah dengan persepsi yang lainya. 

Tetapi apakah prinsip itu berlaku kepada seni? apakah seni sebagaimana pemahaman Descartes yang jelas dan terpilah-pilah berlaku pada kecenderungan artistik seniman yang justru tak memperlihatkan kejelasan dan keterpilahan? Kita perlu sungguh-sungguh mempertimbangkan ini.

Baumgarten, sebagaimana yang dikutip oleh Martin Suryajaya dalam bukunya Sejarah Estetika menjelaskan mengenai problem ini. Bagi Baumgarten, estetika adalah disiplin keilmuan tentang seni, yang berarti prinsip-prinsip estetikanya dapa diuji berdasarkan metode pembuktian sebagaimana ilmu-ilmu empiris. Baumgarten sebagai pelopor istilah estetika mendekati seni secara rasional dengan menggunakan kerangka Cartesian tentang ide yang jelas dan terpilah-pilah (Martin, 2016:288).

Dalam ilmu empiris kita bisa terima kejelasan dan keterpilahan tersebut. Ketika saya melihat gelas, kesan dan ide yang muncul begitu jelas bahwa yang dihadapan saya adalah gelas. Ide saya tentang gelas juga terpilah-pilah karna bisa dibedakan dan dikatakan bahwa itu bukan meja atau kursi. Gelas bisa saya tangkap dengan bahasa indra dan saya rumuskan dengan bahasa konseptual sebagaimana ilmu empiris bekerja.

Tapi kemudian timbul masalah, bagaimana cara kita memahami, misalnya sebagai contoh, pengalaman saya menonton pertunjukan teater yang penuh kebaruan dan eksperimen visual yang juga menolak pakem lama. Sepanjang pertunjukan saya digempur oleh visualisasi artistik yang tampak megah, adegan demi adegan tampak tak saling terkait satu sama lain, dengan atau tanpa alur dan penokohan yang jelas. 

Sepanjang pertunjukan hanya diisi dengan eskplorasi tubuh yang sedemikian rupa yang tampak tak menjelaskan apa-apa kepada penontonnya. Pertunjukan itu terasa ekslusif, hanya dirinya dan Tuhan yang mampu memahami, pikir saya. Saya hanya disuguhi oleh keindahan gerakan dan dipaksa secara keras menghubungkan adegan demi adegan yang tampak tak punya hubungan sama sekali.

Baca Juga: Estetika Islam

Apa yang mengemuka dari pertunjukan itu menurut saya adalah ketidakjelasan narasi, plot, penokohan dan bangunan dramatik layaknya pertunjukan teater yang masih menjaga bangunan konvensi tersebut. Alih-alih berupaya menolak konvensi lama, dan menawarkan pilihan estetika alternatif, namun justru  jatuh pada relativisme estetis di mana semua menjadi boleh, semua batas dihancurkan, dan pada akibatnya relasi komunikasi justru menimbulkan kebingungan dan Kekaburan makna-makna.

Bagaimana memahami pertunjukan semacam ini? adakah syarat-syarat inheren dalam diri penonton sehingga kemudian dapat membaca suguhan pertujukan itu sebagai sesuatu yang jelas dan terpilah-pilah? tentu kejelasan narasi bisa kita baca disitu, bahwa mereka sedang hendak membicarakan “kemiskinan” misalnya, tetapi keterkaitan keseluruhan aspek pertunjukan sebagai sesuatu yang terpilah-pilah justru tidak mampu mencapai status itu. Kegagalan di hadapan kejelasan dan keterpilahan itulah yang mengawali lahirnya estetika yang "aku tak tahu apa", dan sekaligus memperlihatkan konfrontasi antara prinsip “clara et distincta” dan “je ne sais qoui”.

Konfrontasi wacana “Aku tak tau apa” (je ne sais quoi) yang memperlihatkan ketidakmungkinan kejelasan karya seni berasal dari refleksi Baltasar Gracian (1601-1658) dalam karyanya tentang pemimpin politik yang ideal. Baltasar mengatakan bahwa kepemimpinan yang paripurna melibatkan sesuatu kausalitas yang tak diketahui, semacam keanggunan yang mempesona tanpa dapat dijelaskan asal-usulnya (Martin, 2016:289). 

Sekilas pernyataan Baltasar mirip dengan situasi kepemimpinan di Indonesia, paripurna, aneh dan tak jelas apa maunya. Sebuah keindahan kepemimpinan yang gagal dihadapan prinsip “Clara et distincta”.

Apa yang kita tangkap dalam wacana ini adalah bahwa keindahan tidak akan mungkin bisa dirumuskan. Karna seni sebagaimana pemahaman kecendrungan estetika ini merupakan bahasa indra yang tak mungkin dirumuskan. Jika misalnya standar kebenaran atau keindahan adalah ide yang jelas dan terpilah-pilah, maka bahasa indra yang merupakan bahasa seni di hadapan “Clara et Distincta” gagal mencapai status tersebut. Status kebenaran sebagaimana yang dirumuskan Descartes kepada ilmu-ilmu empiris tidak berlaku pada seni. Singkatnya, seni tidak akan mungkin dirumuskan dengan prinsip tersebut.

Seseorang yang berupaya merumuskan keindahan, berarti melakukan tindakan penistaan keindahan. Sama halnya dengan agama, atau yang paling ekstrim Tuhan, kalau kita rumuskan berarti itu mencari masalah, sebab kita akan dimusuhi dan dianggap telah melakukan tindakan penistaan terhadap agama. 

Pernyataan ini bukanlah tanpa konteks yang jelas, pernyataan-pernyataan argumen ”je ne sains qoui” dalam estetika erat kaitannya dengan konsilidasi keyakinan Protestan pada abad ke-17. Penekanannya langsung pada hubungan Tuhan dan manusia, kaum Protestan menolak penggambaran Tuhan dengan cara apapun. Karna itu, Tuhan, sebagaimana keindahan tak boleh dijelaskan dengan definisi apapun. (Martin, 2016:292).

Pada akhirnya saya menyimpulkan, adalah perbuatan yang sia-sia kalau kita merumuskan dan berusaha memahami produk dari seni yang “Aku tak tau apa” (Je ne sais qoiu) ini. Semakin karya seni itu menunjukkan ketidakjelasan dan ketakterpilahan, maka semakin indahlah karya tersebut. Jika suatu karya seni itu semakin indah, maka semakin baik dan benarlah ia dihadapan semesta estetika. 

Semakin kepemimpinanmu tidak jelas dan tidak terpilah-pilah, dan semakin kepemimpinanmu tak bisa dirumuskan dan bahkan tak bisa diketahui sama sekali maka semakin indahlah kepemimpinanmu, setidaknya itulah yang ditegaskan Baltasar tadi. Kita bisa belajar kepada Indonesia yang telah berhasil melahirkan seniman dan pemimpin-pemimpin yang seperti itu, seniman dan pemimpin yang layak disebut sebagai sesuatu yang  “Aku tak tahu apa” (Je ne sais qoui).


Referensi :

  • Makalah Rasionalisme Descartes, Fitzerald kennedy Sitorus (2016)
  • Sejarah Estetika, Martin Suryajaya (2016)