Beberapa waktu lalu (bahkan mungkin hingga kini), agama menjadi bahan pembicaraan yang sensitif di Jakarta, khususnya Islam. Sensitivitas itu ditandai dan diwarnai oleh tindakan-tindakan koersif saudara-saudara kita sesama Islam (khususnya yang bermarkas di daerah Petamburan).

Aktualisasi ajaran agama dengan kacamata kuda, dan perdebatan nirfaedah dan nir-intelektual di forum diskusi maupun di berbagai media sosial, baik Line, Twitter, Facebook, bahkan Instagram sekalipun.

Kalau dipikir-pikir, segala tanda dan warna di atas, sedikit-banyak, disebabkan karena ketiadaan pemahaman secara utuh dan mendalam tentang makna “Esa” dalam bertuhan dan beragama, khususnya di dalam Islam.

Keesaan, sejatinya memang bermakna satu/tunggal/tiada duanya. Kita semua paham akan hal itu. Namun, seharusnya (menurut saya) pemaknaan terhadap “Esa”, tidak hanya sebatas tentang pengakuan keberadaan Allah SWT sebagai subyek yang tunggal. Kata sifat esa dalam kalimat “Tiada Tuhan selain Allah” sesungguhnya dapat dimaknai lebih dari itu.

(Menurut saya) Mengesakan Tuhan sejatinya sanggup dimaknai sebagai upaya memprioritaskan keberadaan-Nya sebagai yang pertama dan yang utama, dalam penyelenggaraan fungsi kita sebagai manusia. Mengesakan Tuhan artinya, dapat dimaknai sebagai upaya mengurutkan Tuhan menjadi yang nomor satu atas niat kita untuk melakukan segala sesuatu.

“Esa” berarti tidak hanya bermakna tentang keberadaan-Nya yang berjumlah satu namun, Tuhan juga harus dijadikan sebagai urutan nomor satu atas niat dari segala sesuatu atau tindak-tanduk kita sebagai manusia.

Secara sederhana, apabila kamu ingin bekerja di lawfirm atau institusi pemerintah, bekerjalah dengan niat untuk mencari uang supaya bisa lebih dekat dengan Allah SWT dengan mampu bersedekah atau pergi haji. Bilamana kamu ingin berolahraga, lakukanlah dengan niat untuk mensyukuri kesehatan yang sampai detik ini Tuhan masih berikan kepadamu.

Jika kamu ingin pergi travelling, maka pergilah dengan niat untuk melihat karya cipta-Nya supaya kamu semakin sadar akan eksistensi-Nya. Itulah yang saya maksud mendahulukan Tuhan sebagai yang pertama dan utama dalam segala niat untuk berkegiatan.

Al-Quran menyampaikan : “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS 49 : 1).

Di sini terlihat bahwa, memang Allah SWT harus ditempatkan pada urutan yang pertama sebagai sebuah niat dalam melakukan segala perbuatan. Tidak ada faktor-faktor lain yang akseptabel (pantas) berada di urutan yang lebih tinggi daripada Allah SWT. Pemaknaan seperti ini kiranya jarang diungkapkan dan disampaikan dalam dakwah atau kajian mengenai makna keesaan Tuhan.

Meletakkan Allah SWT sebagai urutan pertama dalam niat untuk melakukan segala perbuatan dan tindakan di keseharian kita adalah bentuk pengakuan dan pemahaman yang benar-benar sejati tentang keesaan-Nya. Pengejawantahan niat itu dapat dilakukan pada saat kita ingin bekerja, menyusun skripsi, berolahraga, travelling, berdagang dan perbuatan baik lainnya (QS 73:20, QS 67: 15, dan QS 62 : 10).

Lalu, haruskah kita juga berniat sedemikian rupa? Mari berimajinasi sejenak. Akankah saudara kita yang berseragam putih-putih dan bermarkas di daerah Petamburan melakukan kekerasan fisik dan verbal kepada sesama manusia bilamana mereka berniat menempatkan Allah SWT lebih tinggi dibandingkan mahaguru panutan dan idola mereka?

Atau, akankah kita melihat keributan di media sosial yang nirfaedah dan nir-intelektual bilamana, saudara-saudara kita menempatkan Allah SWT lebih tinggi dibandingkan nafsu fana nan membabi buta dan etika primitif dalam menyampaikan pendapat?

Atau mungkin, akankah ada manusia yang dilanda rasa kecewa oleh kekasih hatinya bilamana setiap manusia mencintai kekasih hatinya atas nama Allah SWT dan menyadari bahwa cinta sejati hanya terjalin antara Allah SWT dan manusianya? Mari renungkan sejenak, kawan. Haruskah kita?

There is only one place where we can lay our dependencies. There is only one relationship that should define our self-worth and only one source from which to seek our ultimate happiness, fulfillment, and security. That place is God.”