Agaknya sulit menemukan padanan kata engineer dalam bahasa Indonesia. 

Jika kita mengacu pada kamus Bahasa Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily, engineer berarti insinyur. Tetapi, jika kita mengacu pada perkembangan definisi kata, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa insinyur merupakan sarjana teknik. 

Namun, lagi-lagi tidak sesederhana itu, ternyata Insinyur adalah gelar profesi yang diberikan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) setelah seseorang lulus sebagai sarjana teknik dan mengambil program keprofesian. Hal ini sama dengan gelar Dr. pada sarjana kedokteran, Drg. pada sarjana kedokteran gigi. Tidak semua sarjana teknik adalah insinyur, tapi semua insinyur adalah sarjana teknik.

Untuk memudahkannya, kita akan tetap menyebutnya sebagai engineer, yaitu pelaku kerja di dunia keteknikan, baik yang paling dasar hingga manajerial.

Engineer Adalah Kunci Setiap Peradaban

Teknologi secara umum dapat kita definisikan sebagai hasil dari pekerjaan-pekerjaan teknik. Dalam hal ini, pelaku pekerjaan ini dapat kita artikan sebagai engineer.

Jika kita berkaca pada sejarah lampau, hidup manusia sepenuhnya dimediasi oleh teknologi. Maka dari itu, sangat sulit memikirkan perkembangan zaman hingga yang kita rasakan saat ini tanpa kehadiran teknologi.

Kita dapat melihat sejarah singkat perkembangan teknologi pada 6 zaman berbeda. Yang pertama adalah zaman Yunani kuno dan klasik. 

Perkembangan teknologi yang terjadi bersifat spekulatif dan non eksperimental dan cakupan yang terjadi hanya di wilayah estetika. Kita dapat melihat produk teknologi pada zaman ini adalah pembangunan kuil-kuil dan teknik pengukiran/relief pada bangunan-bangunan kuno.

Zaman kedua adalah ketika Romawi berkuasa. Romawi mengembangkan praktik-praktik teknologi eksperimental yang bersifat kontinental, yaitu memilah teknologi terbaik yang merupakan hasil jajahan untuk digunakan sebagai teknologi Romawi. Contoh sederhananya adalah penggunaan jam matahari, pembangunan saluran air, dan jalan-jalan yang terbuat dari batu.

Kemudian ada abad pertengahan dan pencerahan, ketika pemikiran filsafat berkembang pesat terkait dengan hubungan sains teknologi dengan teologi. 

Perkembangan teknologi yang terjadi pada zaman ini mendapatkan banyak kendala, salah satunya adalah penemuan ide heliosentris oleh Copernicus dan dilanjutkan oleh teleskop Galileo, yang kemudian berakhir dengan kematian karena menganggap penemuan teknologi dan sains mereka menistakan agama.

Yang terakhir adalah zaman kontemporer dan masa kini. Ketika revolusi industri bergema di seluruh dunia, yang terjadi adalah disrupsi masif. Teknologi dikembangkan untuk memenuhi berbagai aspek, mulai dari kebutuhan industri hingga kebutuhan perang. 

Herbert Marcuse (1964) dalam karyanya berjudul Technological Rationality menyebutkan:

"Teknologi modern banyak dijadikan tumpuan harapan. Konsekuensinya, benih-benih kapitalisme makin berkembang. Dominasi makin berperan aktif. Ketika teknologi mampu menciptakan pola yang rasional, efektif, dan efisien untuk melahirkan kemakmuran bagi para warganya melalui pengaturan masyarakat yang nampak serba rasional, masyarakat yang tinggal dibuat menjadi pasif dan reseptif karena bersikap pasrah."

Pendalaman yang dilakukan oleh Marcuse adalah perkembangan teknologi yang tidak netral. Baginya, engineer memiliki bias tersendiri terhadap pegangan atau pedoman bahkan doktrin yang ia pegang. 

Misalnya, perkembangan teknologi nuklir dunia. Semangatnya adalah bukan untuk generator listrik atau bertujuan untuk menerangi dunia atau pemenuhan listrik dunia, namun bertujuan untuk menjadi senjata pembunuh mematikan bagi negara yang tidak sepaham dengan ideologi mereka. 

Atau, kita bisa juga melihat di revolusi industri pertama, yaitu perkembangan alat pemintal Spinning Jenny buatan James Hargreaves. Hargreaves mendapatkan pertentangan dari pekerja tekstil di Inggris dan beberapa mesinnya dihancurkan karena dianggap akan menghilangkan pekerjaan para pekerja tekstil di beberapa pabrik tekstil di Inggris.

Dalam beberapa kasus yang terjadi, pengerukan dan eksploitasi alam di Indonesia juga tidak lepas dari kepentingan engineer sendiri sebagai kaki tangan kekuasaan politis. Salah satu kasus yang kita sering dengar adalah konflik semen di Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. 

Dalam catatan Walhi[1], Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) yang menjadi dokumen dasar pembangunan dan eksplorasi semen yang dimiliki PT Semen Indonesia memiliki banyak kejanggalan. Hal ini dibuktikan dengan menangnya tuntutan warga Rembang terkait dengan izin lingkungan kegiatan pertambangan bahan baku semen tersebut[2].

Kemudian muncul pertanyaan, siapakah yang membuat izin AMDAL ini? Jawabannya adalah para engineer yang sudah menggadaikan netralitas keilmuannya terhadap kepentingan perut perusahaan yang menyetir mereka secara politis. 

Dalam artikel yang diterbitkan oleh Kompas.com pada tahun 2014, Khoiron, Komisioner Komisi Hak Asasi Manusia, mengatakan bahwa pihak yang memilih tim independen untuk kajian amdal adalah orang yang berpihak pada perusahaan, sehingga bias dalam menentukan hasil akhir AMDAL sebagai rekomendasi pembangunan dan kegiatan eksplorasi[3].

Apa yang Perlu Dilakukan Engineer Mulai Saat Ini?

Seperti yang dikemukakan oleh Herbert Marcuse, teknologi merupakan produk dari para engineer. Sebagai manusia, engineer tentu memiliki kepentingan dari realitas yang memengaruhinya. Teknologi dan produk apa pun yang dihasilkan oleh engineer tidak akan pernah bersifat netral karena ia tidak bisa terlepas dari realitas yang mendasarinya.

Berangkat dari penjelasan Marcuse, maka kita bisa mendorong pendidikan sosial-humaniora kepada para engineer. Selain tentang pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, tentunya kita perlu mendidik mereka tentang hubungan antara manusia dengan alam untuk mencegah eksploitasi berlebihan hanya untuk kepentingan manusia semata. 

Kita juga perlu belajar antropologi dan sosiologi supaya dapat mengerti relasi yang terjadi antara manusia satu dengan manusia lainnya dan konsekuensi yang akan terjadi dalam pergolakan masyarakat.

Tentunya, bukan perkara mudah dalam pekerjaan mendidik ini. Indonesia sampai hari ini masih terjebak pada lingkaran-lingkaran oligarki rakus yang tidak habis-habisnya[4]. Tentunya, penyusunan lembaga pedagogi sosial-humaniora bagi para calon engineer pun tidak akan lepas dari kepentingan para oligarki rakus ini.

Namun, dengan perhatian penuh dari lembaga-lembaga pendidikan negara yang kredibel dan berkualitas, saya yakin kita akan mampu untuk keluar dari kepentingan-kepentingan modal untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik. 

Adanya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sudah seharusnya membahas musuh nyata rakyat Indonesia. Bukan hantu komunisme, apalagi radikalisme agama, namun para penganut Pancasila yang terang-terangan mengeksploitasi alam, memiskinkan rakyat lewat oligarkinya, memiliki tanah ratusan ribu hektare, dan sama sekali tidak memikirkan nasib rakyat miskin.

Engineer adalah harapan masa depan bangsa dalam mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ayo bangun! Ayo belajar! Karena kita akan selamanya dibodohi apabila kita tidak mampu belajar dari sejarah bangsa yang telah habis-habisan ditipu demi keuntungan segelintir orang.

Daftar Pustaka

  • Smyth, Henry DeWolf, Atomic Energy for Military Purposes; the Official Report on the Development of the Atomic Bomb under the Auspices of the United States Government, 1940-1945 (Princeton: Princeton University Press, 1945).
  • Vieta, Marcelo. (2006). Herbert Marcuse's Critique of Technological Rationality: An Exegetical Reading. Unpublished.