Demokrasi yang berkualitas tak mungkin hadir tanpa adanya komitmen untuk pemberantasan korupsi yang dilakukan secara konsisten, pun sebaliknya. Demokrasi yang berkualitas ditandai dengan terwujudnya good governance yang mensyaratkan adanya transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik. Dalam konteks Pilkada DKI, Ahok melahirkan catatan kesuksesan. Ahok memberikan harapan baru bagi masyarakat di tengah fakta belum tercapainya tujuan negara, yakni kesejahteraan rakyat.

Modal inilah yang diyakini mampu menjawab berbagai tantangan dan persoalan Jakarta ke depan. Ahok bukan tipikal pemimpin yang hanya cerdas tetapi juga mengajak setiap orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang membantu pada upaya peningkatan kinerja.

Empat Alasan

Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa Ahok layak menjadi Gubernur DKI. Pertama, Ahok sejauh ini punya citra yang baik, tak ternoda oleh korupsi. Ahok selalu gelisah melihat persoalan bangsa. Salah satu persoalan besar bangsa Indonesia adalah menjamurnya praktik korupsi di berbagai bidang kehidupan. Ahok selalu menyatakan, apa pun alasan dan motifnya, pelaku korupsi tidak dapat dimaafkan. Baginya, hukum harus berlaku umum dan tidak pandang bulu, termasuk bagi pejabat aktif yang diduga melakukan tindak pidana korupsi.

Pernyataan Ahok yang lebih memilih taat pada konstitusi merupakan teladan baik yang patut dicontoh oleh para pejabat. Ahok sudah membuktikan hal itu jauh-jauh hari. Sebagai Gubernur, Ahok tidak menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri.

Ahok merupakan figur yang memiliki moral innocence kuat. Inilah yang membedakan antara Ahok dan pemimpin lain di tengah maraknya korupsi di negeri ini. Masyarakat Jakarta tidak butuh sosok pemimpin yang tampan dan pandai bermain kata, tapi pemimpin yang kerakyatan dan jujur. Ahok hadir bak angin segar di antara –calon-calon lain.

Kedua, Sebagai pemimpin, ia sudah teruji. Di tengah-tengah pesimisme masyarakat mencari sosok pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah Jakarta, sosok Ahok merupakan jawaban dalam mengatasi permasalahan tersebut. Lihatlah, bagaimana sejumlah kebijakan dilahirkan untuk membenahi karut marutnya Jakarta.

Keberanian dan konsistensinya menata kawasan Kalijodo, Jakarta Utara, adalah salah satunya. Dan yang tak kalah hebatnya adalah keberanian Ahok secara frontal berhadapan dengan DPRD DKI demi menyelamatkan APBD DKI dari dugaan upaya korupsi anggaran.

Ketiga, Ahok sebagai seorang pemimpin menjelaskan program-program pembangunan dengan menyapa langsung warganya dan mengajak mereka untuk berdialog bersama guna mencari solusi atas berbagai permasalahan yang muncul.

Ahok tak canggung melibatkan masyarakat untuk mengambil bagian dan peran yang signifikan serta melakukan kerja-kerja kreatif-inovatif untuk masa depan yang lebih mencerahkan. Ahok menyediakan diri untuk dikritik bahkan tak takut terhadap segala macam ancaman. Ini menunjukkan betapa sesungguhnya kekuatan politik Ahok ada di rakyat.

Keempat, Ahok ”membunuh” tradisi bahwa seorang pemimpin bisa bertindak sewenang-wenang dan rakyat harus mengikuti kemauannya. Kecenderungan ini merupakan konsekuensi logis dari suatu pandangan bahwa seorang pemimpin tak berarti apa-apa tanpa sokongan dan dukungan dari masyarakat. Ia terus dan tak mengenal lelah melakukan terobosan dengan mengangkat gerakan perubahan transformasi sosial untuk kemajuan Jakarta.

Inilah sejumlah alasan mengapa Ahok layak memimpin Jakarta. Ahok menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat, karena mampu membawa perubahan gaya kepemimpinan kaum birokrat. Sifat kepemimpinannya dan keterbukaan serta progam pengembangannya membawa nama Ahok menjadi bahan perbincangan orang di Tanah Air, bahkan dunia internasional.  

Ahok adalah sebuah cerita yang tak pernah selesai. Dihujat dan disanjung setinggi langit. Namun terlepas dari semuanya, Ahok adalah sosok yang sangat sederhana dan apa adanya. Masalah gaya kepemimpinan adalah masalah selera dan pembawaan. Pasangan Ahok-Djarot merupakan sebuah simbol harapan dan perjuangan kaum yang selama ini merindukan sosok pemimpin yang merakyat, mengayomi dan melindungi rakyatnya.

Mari kita selamatkan Ahok untuk Indonesia yang lebih baik dengan cara mencoblosnya pada 19 April 2017. Kalau bukan Ahok, lalu siapa?