Februari 2016, saya menghadiri undangan pesta ulang tahun ke-32 seorang teman, Elna namanya. Pesta yang sangat meriah dilaksanakan di hotel Hyatt Yogyakarta dengan dihadiri oleh keluarga dan kolega.

Ketika lilin ditiup, saya tidak melihat Elna didampingi oleh seorang laki-laki. Saya pun bertanya, “Yang mana suamimu, aku mau nyapa!” Dengan senyum, Elna bilang bahwa tak punya suami. Saya kemudian menyapa dua putri Elna yang masih sekolah TK, dan mereka berdua menjawab kompak bahwa “Papa tak ada”.

Sejak saat itu, saya tahu bahwa Elna adalah seorang janda yang bekerja untuk kedua buah hatinya. Dalam struktur masyarakat patriarkis, menjadi janda bukanlah sebuah keberuntungan. Janda selalu dilekatkan sebagai perempuan penggoda suami orang dan perempuan tak berdaya secara sosial ekonomi.

Tulisan ini merupakan narasi pengalaman Elna sebagai seorang single parent yang saya kutip dari rentetan cerita Elna selama menikmati secangkir kopi dari bubuk kopi di Legend Coffee, Ruang Kerja Coffee, Bilik Coffee, Semesta Cafe, The House of Raminten, Restaurant Novotel, McDonald’s hingga semangkok bakmi jowo di warung lesehan pinggir rel kereta api.

Tujuan tulisan ini untuk mendokumentasikan jejak pengalaman hidup Elna sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga.

Mengenal Elna 

Raden Nganten Birgitta Elna adalah perempuan Jawa, beragama Katolik dan keluarga dari strata sosial keraton Ngayogyakarto. Secara ekonomi, Elna lahir dan besar dari keluarga kelas elite politik di Kesultanan Yogyakarta. Nyaris pengalaman hidup Elna tak pernah mengalami kesusahan secara keuangan.

Elna adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ibunya adalah perempuan Toraja dan bapaknya adalah laki-laki Jawa. Elna menempuh pendidikan di sekolah Katolik, dan menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Atmajaya.

Berdasarkan pengakuannya, Elna sering nongkrong di tempat-tempat malam dengan bergelas-gelas bir. Bahkan Elna “biasa” tidur dengan laki-laki yang menjadi pacarnya dalam keadaan mabuk. Gaya hidup Elna “penuh” dengan having seks, minum dan klub malam. 

Ingin Punya Anak, Tak Ingin Menikah

Selesai menempuh pendidikan S1, Elna mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan asing Singapura di Cirebon Jawa Barat. Sejak saat itu, Elna memiliki keinginan untuk memiliki anak tapi tidak mau memiliki suami.

Di tahun 2006, di sebuah klub malam di Yogyakarta, Elna berkenalan dengan seorang laki-laki sebaya, Adit namanya. Adit beragama Kristen Protestan dan berasal dari Jawa Timur yang sama-sama bekerja di satu perusahaan dengan Elna. Bedanya, Adit berposisi sebagai karyawan sedangkan Elna sebagai leader. 

Semenjak perkenalan itu, Adit sering menghubungi Elna untuk ngobrol, curhat hingga suatu ketika Adit mengungkapkan perasaannya kepada Elna. Elna menyambut baik Adit, dan mereka kemudian tinggal di satu rumah di Cirebon.

Intensitas pertemuan dengan Adit yang rutin seminggu dalam dua bulan selama setahun dan keinginan Elna untuk memiliki anak tanpa suami. Maka pada tahun 2009, Elna positif hamil. Elna menyampaikan kabar kehamilan tersebut kepada Adit dan keluarga di usia kehamilan ke-2 bulan.

Adit dan keluarga Elna ingin segera dilaksanakan pernikahan, tetapi Elna menolak hingga terjadilah percekcokan antara Elna dan pihak keluarga. Akhirnya, di usia kehamilan ke 4 bulan, Elna dan Adit melangsungkan resepsi pernikahan mewah yang digelar di Jawa Timur. Dengan alasan pihak keluarga Adit “tidak” mampu membayar uang pernikahan.

Elna single memiliki penghasilan cukup yang tinggal di Singapura seketika berubah hidupnya manakala Elna berstatus sebagai seorang istri dan ibu dari dua buah hati.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Adit adalah anak dari seorang TNI yang tinggal di perumahan tentara, sedangkan Elna adalah anak dari seorang keluarga keraton. Status sosial dan ekonomi yang timpang inilah yang membuat Elna merasa ada ketidakadilan terhadap dirinya. 

Adit bekerja sebagai karwayan di Cirebon dengan gaji 5.500.000/bulan. Karena Adit adalah menantu, Adit kemudian dipindah kerja oleh Bapaknya Elna ke Pertamina Yogyakarta dengan gaji 35.000.000/bulan.

Tetapi uang gaji tersebut hanya masuk ke Elna dan satu anak sebesar 2.000.000/bulan, dan 5.000.000/bulan untuk ibu mertua. Merasa kurang dengan gaji di Pertamina, keluarga Elna kemudian memindahkan Adit ke sebuah perusahaan minyak milik Amerika dengan gaji 100.000.000/bulan.

Ketika Adit pindah tempat kerja, Elna sudah melahirkan anak kedua. Tetapi sayangnya, uang lebih banyak bandingnya kepada ibu mertua, perincianya adalah 20.000.000/bulan untuk istri dan dua anak, sedangkan 30.000.000/bulan untuk ibu Adit.

Masih lekat di ingatakan Elna bagaimana mertua (Ibu Adit) memperlakukan Elna. Mulai dari perampasan paksa uang sumbangan resepsi dari tamu sebesar 90.000.000 padahal modal resepsi dari keluarga Elna sebesar 150.000.000, larangan suami kepada Elna untuk berhenti bekerja, perintah suami yang harus ditaati tanpa alasan apa pun, perintah suami untuk menaati ibu mertua, hingga ketimpangan pemberian uang bulanan.

Perbedaan uang bulanan antara istri dan anak dengan ibu menjadi sumber percekcokan rumah tangga Elna. Ibu Adit menuntut uang ASI kepada Adit dengan cara memaksa memotong uang bulanan tanpa meminta persetujuan Elna sebagai istri. Bahkan Adit lebih sayang dan peduli kepada ibu sendiri dan mengabaikan kesejahteraan dan kesehatan istri dan dua anak.

Seiring perjalanan waktu, Adit kemudian jarang pulang ke rumah Elna di Yogyakarta dan lebih sering pulang ke rumah ibunya di Jawa Timur.

Puncaknya di tahun 2014, Adit tak kembali lagi ke rumah Elna, putus komunikasi, tak ada kabar, tak peduli dengan dua anak, tak ada kiriman uang bulanan, hingga akhirnya Elna mencari keberadaan Adit.

Elna menghampiri Adit ke rumahnya di Jawa Timur selama dua kali dalam setahun dan tak pernah bertemu, Elna kemudian menanyakan keberadaan Adit di kantor perusahaan tempat kerja suami di Jakarta tapi tak ada respons. Justru pimpinan perusahaan marah dan menyalahkan Elna karena menjadi istri yang tak mampu mengurus suami dengan baik.

Kala itu, Elna betul-betul ingin tahu suaminya berada di mana. Hingga akhirnya, Elna dan anak pertamanya yang berusia 4 tahun menyusul Adit ke tempat kerjanya di Kalimantan. Tanpa disengaja, Elna bertemu dengan Adit di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan Kalimantan Timur.

Ketika Adit bertemu dengan istri dan anak pertamanya, Adit tidak menanyakan kabar apa pun, bahkan tak mencium anaknya sendiri. Tak berselang lama setelah itu, Adit menyampaikan kepada Elna di hadapan anaknya bahwa “Kita sudah tak ada apa-apa”. Adit kemudian pergi, dan Elna masih berdiri.

Antara sadar dan tidak, Elna terdiam tanpa sepatah kata pun mendengar ucapan Adit. Bahkan, Elna kembali ke Yogyakarta masih dalam keadaan bingung, bertanya dan terus bertanya, “Apa salahku?”

Tak berapa lama setelah itu, Adit kemudian melayangkan surat gugatan cerai ke pengadilan. Proses perceraian berlangsung lama dan ribet. Karena Adit selalu menarik ulur surat perceraian.

Hingga akhirnya, di tahun 2015, putusan pengadilan menetapkan bahwa Elna dan Adit resmi bercerai dengan hak asuh kedua anak berada di pihak ibu.

Elna, Bangkit dari Keterpurukan 

Satu tahun kemudian, Adit melangsungkan akad pernikahan secara Islam dengan seorang perempuan yang telah hamil tujuh bulan. Kini, Adit bersama istri dan satu anaknya tinggal sejahtera di Kuala Lumpur Malaysia.

Sayangnya, Adit lupa dengan dua putrinya, meski sekadar ucapan selamat ulang tahun.

Melihat hidup Adit yang bahagia, sedangkan hidup Elna kacau. Elna merasa tidak mampu menghidupi kedua buah hatinya yang masih kecil seorang diri dan merasa bahwa dirinya bersalah. Hingga akhirnya Elna bersimpuh di bawah patung Yesus untuk mengakhiri hidup.

Dalam dua kali, Yesus hadir di mimpi Elna dan mengatakan, “Tidak, kamu kembalilah ke tempatmu, aku yang akan mendampingimu.” Kasih Yesus memeluk Elna dengan erat.

Elna bersama dua buah hatinya yang lucu, imut, dan menggemaskan tinggal di sebuah rumah mewah berdekatan dengan Hotel Tentrem. Anak pertamanya bernama Ruel (9 tahun) dan Theya (8 tahun). Mereka menempuh pendidikan di sekolah elite di Yogyakarta.

Tidak mudah bagi Elna sebagai korban kekerasan untuk bangkit. Elna harus melakukan terapi pemulihan konseling feminis untuk kembali melanjutkan kehidupan di tahun 2015-2016. Elna kemudian mulai jualan sabun hingga mengerjakan proyek tender ke Papua.

Pengalaman pahit bersama suami, yang menelantarkan istri dan dua anak, menumbuhkan trauma yang mendalam terhadap konsep pernikahan. Elna tak ingin menikah, dan tak ingin menjadi korban untuk kedua kalinya.

Kini Elna bekerja sebagai pengacara dan mendampingi proses hukum untuk kasus perempuan korban kekerasan dengan gratis. Pekerjaan itu membuat Elna bahagia dan merasa bahwa dirinya tak sendiri.

Perempuan kepala keluarga seperti Elna inilah yang patut dibanggakan.