Usianya masih awal dua puluhan saat kerja dengan Eka Tjipta Widjaja. Ia melamar kerja 28 Agustus 1965 di kantor Sinar Mas yang masih berupa ruko sewaan di bilangan Jakarta Utara. Masih gadis. Elly Romsiah namanya. Karyawan pertama Sinar Mas. Kalau ada nomor induk karyawan, pastinya 001. 

Jangan bayangkan ruang kerja yang nyaman, terpisah antara ruang bos dan sekretaris. Eka dan Elly bekerja di meja yang sama. Berhadap-hadapan. "Iya benar, hanya satu meja dan dua kursi. Tidak ada yang lain," ujarnya membuka percakapan.

Zaman itu semuanya masih sangat sederhana. Pun atap kantor yang kadang bocor diterpa hujan. Tapi ia nekat, mau saja menjadi karyawan Eka Tjipta yang belum jelas apakah bisnisnya esok hari masih ada atau tidak.

Tahun lalu, Elly dianugerahi karyawan paling senior dan tentu saja paling loyal saat peringatan 80 tahun Sinar Mas. Penghargaan diserahkan oleh anak dan cucu Eka Tjipta, yaitu Franky Widjaja dan Fuganto Widjaja. 

Ia mungkin tidak kebayang, perusahaan yang dimulai dari nol, bisa bertahan hingga kini, dan dikelola generasi ke-3 saat ini. AC kantor tak bocor lagi. Dan yang pasti mejanya tak hanya satu seperti puluhan tahun lalu.

Sekretaris Sejati

Elly Romsiah tak lagi muda kini. Di atas angka 70 pastinya. Disiplin Elly adalah disiplin sekretaris. 

Lihatlah penampilannya yang rapi. Rambut hitam yang terurai indah. Dengan bando sebagai pemanis juga menahan poninya agar tak jatuh menutup mata. Lipstik tipis selalu ada di bibirnya. Kutek melapisi kukunya. 

Setiap bertemu, pandangi saja penampilannya, tak pernah ada cela. Rambut hitam yang sempurna. Senyum tipisnya yang ramah. Juga sapa khasnya.

Apakah Elly pensiun di usia 50 atau 55 Ahaiiii.....jangan salah. Elly dengan senang berangkat kerja tiap hari. Ringan ia melangkah, menjalani ritual harinya. 

Ingatannya tajam, catatannya rapi. Meski sudah cukup lama Pak Eka tidak aktif lagi mengurusi bisnisnya, Elly masih setia beraktivitas tak jauh dari meja kerja Pak Eka.

Satu lantai yang jadi ruang kerja Eka Tjipta di kawasan Thamrin, hanya ada Elly, sekuriti, office boy, dan beberapa staf yang mendampingi. 

Meja kerja Eka, meski lama tak tersenuh, tetap tertata dengan rapi. Foto aktivitas Eka yang berderet di dinding, menjadi penghantar kenangan kegiatannya di waktu muda.

Dalam sunyi lantai ini, Elly bekerja. Satpam akan menemaninya naik-turun lift pada jam datang dan pulangnya. "Saya tidak berani naik-turun lift sendiri," ujarnya.

Elly Romsiah pemalu. Kadang tegas dan sedikit galak, terutama kalau coba mengusik dengan banyak pertanyaan, atau ke ruang kerjanya tanpa janjian terlebih dahulu.

Tak mudah wartawan mendapat kesempatan untuk melihat ruang kerja Eka Tjipta. Kalaupun ada, tentu tidak banyak jumlahnya. 

Rasanya baru satu-dua hari lalu, Elly mau dirayu, untuk bercerita pengalaman masa lalu sebagai karyawan paling lama di Sinar Mas. Itu pun bukan di ruang kerjanya, tetapi di Rumah Duka Sentosa RSPAD. Kesempatan terakhirnya mendampingi bos yang menjadi atasannya selama 54 tahun.

Di momen ini, Elly rutin ke rumah duka, siang hingga beberapa jam menjelang senja. Ia akan duduk, menjauh dari keramaian. Seolah mengambil waktu dan kesempatan untuk melihat lintasan waktu puluhan tahun yang sudah didedikasikannya.

Rasanya ini pertama kali Elly mau bertemu dengan wartawan. "Saya mau bicara apa? Takut salah nanti. Orang lain saja," elaknya. 

Menolak rayuan saya untuk mau berbagi kisah perjalannanya dengan Eka Tjipta dari zaman susah hingga saat ini. Rayuan pagi, diulang siangnya. Dan manjur. 

Elly meminta kami semua menjauhi tempat duduknya. Saya membiarkannya bercerita dengan wartawan. Hanya mereka berdua. Takut mengganggu konsentrasinya. 

Tadinya ia hanya mau sebentar saja ngobrol. Ternyata jadi panjang. Banyak yang diceritakan. Bercerita menjadi terapi dukanya. Kadang Elly tertawa mengingat pengalaman lucunya.

"Sini gabung!" Elly memanggil. "Mau tahu rahasia sehat saya?"

Ahhhh.... Tentu tak boleh dilewatkan kesempatan ini. "Apa, Bu?" tanyaku.

"Mensyukuri apa pun dalam hidup dan memaafkan," tuturnya. Ia mengulanginya, supaya kami paham betul pilihan prinsipnya.

Dua kata sederhana yang kontan membuat kering tenggorokanku. Yang sederhana ini pun tak mudah kita jalankan, bukan? Terlebih kita jadikan pilihan untuk menjalani hidup.

"Benar. Itu yang saya lakukan selama ini. Mensyukuri apa pun dan memaafkan. Saya ini tidak pernah menuntut gaji naik, tetapi hidup selalu cukup."

Di usia kepala 7, punggung Elly masih tegap, tak bungkuk. Ini tentu idaman kita semua.

Ah, Bu Elly, aku jadi ingat kata pendeta kemarin. Orang yang berbahagia adalah mereka yang panjang umur, kaya, dan terhormat. Dan dalam dirimu, aku pun melihat semua itu. Umur panjang, batin yang kaya, dan dihormati sekitarmu. Hal yang sama ada dalam diri Eka Tjipta Widjaja juga.

Ingin ketemu Elly Romsiah? Pastikan di Car Free Day Thamrin jam 07.00. Bila tak hujan, bersama dengan suami, Elly akan berjalan memutari HI. Bertegur sapa dengan polisi di seputar bundaran. Hampir 3 km mereka tekuni setiap minggunya.

Elly Romsiah tidak hanya sekedar menjalankan tugasnya sebagai sekretaris. Ia mengajarkan banyak hal: toleransi, perbedaan budaya, dan juga beda keyakinan. 

"Pak Eka sangat menghormati saat saya harus beribadah. Ini bukan persoalan besar. Satu hal yang harus saya patuhi, saya sudah harus kembali ke kantor dari makan siang, sebelum Pak Eka datang. Itu saja. Meski pernah juga saya melanggarnya, Pak Eka tidak marah. Tetapi saya tahu beliau tidak suka kalau saya belum ada di tempat. Lha kok malah bosnya yang duluan datang," jelasnya.

Pada hal-hal kecil inilah aku belajar tentang kesetiaan, tentang pilihan, dan menekuni komitmen. Tidak semua bekerja karena uang.

Eka Tjipta sudah berpulang, 26 Januari 2019, sehari sebelum ulang tahunku di tahun ke-12 aku bekerja di sini. 

Sebagian cerita lainnya: Loyalitas Elly Romsiah