Aroma tanah yang sedikit basah, bekas derasnya airmata langit yang menangis tadi malam, tercium begitu khas kala aku memasuki gerbang kampusku pagi ini. Ingar bingar suara langkah para penghuni kampus yang sibuk dengan tugas dan tuntutan dari para dosen seolah menambah murungnya raut wajah langit pagi yang tak begitu bersahabat.

Aku sendiri lebih sering menyepi; lebih gemar memikirkan hal-hal yang sekiranya bagus untuk sarapan otak. Menyaksikan tanaman kampus yang sedang berfotosintesis, misalnya. Atau sekedar memanjatkan doa pagi dengan harapan mata kuliah hari ini tak dihadiri oleh para pengampunya.

Menurutku itu lebih baik dari pada sibuk membebani otak dengan tugas-tugas yang tak jarang membuat hariku berubah kelabu.  

Di sela-sela penantian panjangku akan kehadiran dosen pagi itu, tepat di seberang jalan dari kampusku, nampaklah seorang gadis yang baru saja keluar dari gerbang kecil - sebuah kos-kosan - sedang menunggu jemputan. Wajah itu sangat tidak asing, dan aku masih ingat betul senyum itu.

Sebut saja namanya ayunda, seorang gadis belia yang sempat aku pacari dua tahun yang lalu. Senyumnya yang khas mengingatkan aku akan kenangan dua tahun silam, saat aku masih bernaung di relung hatinya.

Aku menyegerakan diri beranjak menuju tempat terdekat dimana dia berdiri. Alih-alih ingin melambaikan tangan dan menyapa, tampak dari kejauhan seorang lelaki membunyikan klakson motor dan berhenti tepat di depannya.

Lelaki itu adalah pacarnya, mereka saling bersahutan senyum dan menyapa, dan aku kini hanya bisa memandang ayundha yang sedang memandang kekasihnya. Sial! Dada ini sesak rasanya. Aku sama sekali tidak berniat cemburu, tapi hati ini terus saja memberontak.

Ternyata aku baru sadar, rasa yang selama ini sudah ku anggap punah rupanya masih mengendap di relung hati yang terdalam. 

Kita memang tak selamanya muda. Bahkan, kelak akan musnah termakan usia. Namun, bukankah kita telah sepakat untuk menjalani hidup dengan menua bersama?” Itu adalah catatan terindah dari surat terakhir yang dia kirim setahun yang lalu. Dan dia tidak tahu saja kalau surat itu masih tersimpan rapi di memori.

Bedebah! Ingatan-ingatan itu bermunculan lagi; terlihat begitu menyeramkan. Bahkan lebih seram dari raut muka dosen yang sedari tadi tak ku perhatikan apa yang sedang dia jelaskan di depan kelas yang auranya usang.

Otakku hanya fokus mengingat tragedi tadi pagi. Percakapan dua menit yang mampu menembus memori kenangan dua tahun yang lalu - dengan orang yang sama - dalam cerita yang berbeda. 

Aku dan ayundha memang sudah bukan lagi dua sejoli yang dibingkai harmoni, melainkan tragedi. Aku mendapati penghianatan saat masih menjalani kisah asmara dengannya.

Ternyata, seseorang yang aku rasa begitu berarti adalah dia yang menghadirkan lara yang sangat menyakiti hari-hari. Mengambil keputusan untuk berpisah tanpa pengesahan yang disepakati kedua belah hati. Semua berakhir tanpa satupun kata pamit, lalu saling berharap semoga hari-hari ke depan tidak akan menuai rumit.

Aku yakin betul, saat ayundha memilih untuk meninggalkanku hanya karena masalah kecil, ada sebuah kebahagiaan lain yang tengah ia perjuangkan. Dia menjadikan masalah kecil tersebut sebagai sesuatu yang teramat besar agar bisa terlepas dariku tanpa satu pun tuntutan.

Ayundha hilang, berusaha mengenal ruang hati yang baru, membuatku sadar diri bahwa selama itu bukan hanya aku saja yang ada di hatinya. Aku sendiri tak punya tindakan lain selain pasrah yang menghasilkan resah, resah yang mengundang gelisah, serta gelisah yang menuai rindu yang sampai kini belum juga punah.

Ayundha benar-benar membuatku terpaksa membuka lembaran kenangan yang sempat kami lukis bersama, seperti kerinduan saat mengunjungi kedai favorit sembari beradu argumen tentang harapan dan masa depan. 

Dimana, hanya ada kami berdua dan secangkir kopi yang menjadi pihak ketiga sebagai penghangat raga agar dingin musim itu tak terlalu terasa.

Namun, semua hanyalah ambisi belaka  dan dia pun tak menginginkannya. Konyol memang, merindu, tapi tak dirindukan. Mengenang, tapi tak dikenang. Seperti halnya makan, tapi tak mengenyangkan.

Dalam gerak waktu yang terasa begitu cepat, beberapa kehilangan tetap memilih untuk tidak beranjak. Dalam diri, kini dua roh hidup dalam satu tubuh, saling berpegangan erat meski keduanya telah runtuh.

Jika sudah begini, sudilah pikiran membongkar kembali apa yang telah lama aku rindukan. Ayundha contohnya, orang yang hingga kini menjadi sarang teduh dimana rinduku bermuara.

Aku sering merasa bahwa merindukannya adalah pekerjaan yang tolol. Bagaimana tidak, aku masih saja memenjarakan bayangannya yang teramat aku cintai, padahal aku sadar bahwa raga dan cintanya tidak lagi untukku. Bukan apa-apa, hanya saja aku tak bisa mellihat dia bahagia tanpaku.

Pelajaran yang dapat ku petik dari pedihnya hati yang memaksa untuk masih saja mencintai dia yang tidak lagi mencintaiku adalah, saat aku mencintai seseorang dan menjalani hubungan dengannya, yang aku tahu hanyalah dia milikku dan aku miliknya.

Padahal, sebenarnya cinta itu hanyalah titipan yang sewaktu-waktu harus aku kembalikan. Sementara rindu adalah bayaran karena telah menjaga cinta selama ini. aku terlalu yakin atas kelancaran hubungan yang selama ini aku jalani. Waktu punya kuasa, hidup punya rahasia. Terkadang sesuatu yang tampak serius, tidak selalu berakhir dengan mulus.

Dan pada akhirnya, aku tidak menyesal karena telah dikhianati oleh ayundha yang selama ini aku cintai. Aku tidak bersedih saat dia memiliki keputusan untuk meninggalkanku. Nanti, saat dia menyadari bahwa keputusannya adalah hal yang salah, abadilah diriku dalam kerinduannya.

Cepat maupun lambat, estimasi scenario dari kisah klasik ini tak ubahnya seperti hikayat Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Anggap saja saat ini aku berada di sisi zainuddin yang masih sedang mengharapkan karma. Sementara itu, ayundha tak ubahnya seorang hayati yang nantinya hancur di akkhir cerita. Jika kuasa sang semesta telah tiba, ayundha bisa apa?