Pada 21 September 2018, IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change) bersama sesepuh di Kota Kupang dan pribadi yang mengenal baik El Tari serta keluarga dekatnya, menggelar diskusi 'Meneroka Kembali Kepemimpinan El Tari' dan meresmikan perpustakaan EL Tari yang memiliki koleksi buku mencapai 1.246 judul dan terdiri atas lima bahasa. 

Suatu koleksi besar yang mengaktualisasikan adagiumnya 'tanam, sekali lagi tanam.' Bahwasanya investasi ilmu dan pendidikan melalui pustaka adalah harta tak ternilai. Yang harusnya terus terinternalisasi dalam diri setiap anak bangsa. Bila sedia bertemankan bacaan berkualitas sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas secara personal hingga kemudian dapat merintis suatu gerakan pembaharuan dengan basis pemahaman yang kuat dan menyeluruh.

'Tanam sekali lagi tanam.' Adagium ini mungkin kental tertanam dalam ingatan dalam generasi 60-an sampai 80-an di Nusa Tenggara Timur. Adegium ini lahir dari suatu ziarah intelektual yang panjang, melintasi berbagai literatur progresif dari zamannya. 

Ia seorang peziarah intelektual yang melampaui zamannya. Hasil peziarahan itu mengental dalam rumusan yang juga melampaui waktu tapi menyata sebagai suatu praksis keterlibatan. Dia adalah almarhum El Tari, yang menjabat sebagai Gubernur NTT dari 26 April 1963-29 April 1978.

Pengenalan dan pemahaman atas pemikiran dan karya beliau yang kontekstual pada masa lampau adalah bentuk rekonstruksi atas kemajuan dan perkembangan yang telah dirintisnya sejak 50-an tahun lalu. 

Pria kelahiran Sabu ini, berpangkat Jendral saat menjabat sebagai Gubernur NTT, setelah W. J Lalamentik. Sebagai seorang didikan militer, disiplin adalah kepastian. Tetapi bukan berarti beliau cenderung bertindak amat prosedural-birokratis dalam semua ranah. 

Berbagai diskresi demi kebaikan bersama merupakan contoh pemahaman dan sikap yang melampaui struktur dan prosedur. Sebab, hingga kini kita cenderung abai pada manusia hanya karena soal prosedural. 

Salah kelola dan urus para PMI hingga berkonsekuensi pada tingginya angka perdagangan manusia adalah salah satunya. Kecintaannya pada tanah air sendiri ditransformasikan dalam kesediaan untuk berpartisipasi aktif untuk mewujudkan Nusa Tenggara Timur yang berdaulat dan berdaya.

Sebagai pencetus akronim'FLOBAMORATA' El Tari mengenal secara baik dan mendalam kondisi topografis dan kultural masyarakat NTT. Imajinasi pembangunannya bertolak dari suatu telaah komprehensif atas urgensi penanganan situasi yang aktual. 

Dengan mengenalkan konsep yang mampu menjembatani gapkultural antara etnis yang tersebar di 1.602 pulau dengan enam etnis besar dan sekitar 500-an bahasa daerah, pemimpin yang progresif di zaman klasik ini, mampu menciptakan suatu bentuk kehidupan rakyat yang mandiri dan cinta akan tanah airnya sendiri.

 Apakah jejak kepemimpinannya masih hidup dalam ingatan dan tindakan masyarakat dan pemimpin NTT masa kini?

Tanam Sekali Lagi Tanam

Di tengah krisis tokoh dan keteladanan kini, kita berharap nilai-nilai luhur yang telah menjadi praksis dalam kehidupan para pendahulu tetap membara dalam juang bersama rakyat. 

Kalau hanya sebatas slogan yang memenuhi mulut dan memabukkan kepala, apa bedanya tuan-puan yang dihormati dengan para perusuh dan koruptor yang lebih banyak gunakan insting dari pada akal? Sebagai politikus dan negarawan; menjamin bahwa rakyatnya tidak kelaparan saat musim kemarau, perempuan dan anak muda tidak diperjualbelikan, anak-anak dapat 'bersekolah dengan benar' hingga usia harapan hidup makin tinggi adalah tanggungjawab yang harus terwujud dalam praksis perpolitikan dan pemerintahan.

Konstruksi narasi tentang El Tari yang hidup melalui pemikiran-pemikirannya yang brillian, tentunya bertolak dari suatu permenungan reflektif akan situasi di masanya. 

Tanpa kehendak untuk berani masuk ke dalam substansi dan akar (radix) persoalan kelas masyarakat paling bawah (grass root), suatu program pemberdayaan masyarakat hanyalah 'project' yang akan selesai dan hilang tanpa jejak ketika masa berlaku program selesai. 

Kemampuan memahami inti persoalan, menganalisis data hingga mengambil keputusan yang tepat guna sesuai asas efisiensi dan efektifitas adalah suatu kemampuan yang hampir punah dalam barisan pemimpin eksekutif masa kini. Apalagi, mewujudkan kerja-kerja berkelanjutan yang merakyat!

Ketika 50-an tahun yang lalu beliau telah mampu berimajinasi tentang bagaimana menciptakan model pertanian lahan kering yang kontekstual dengan kondisi kekeringan yang panjang selama Sembilan bulan di NTT. 

Model pertanian dan perkebunan dengan cara irigasi tetes telah berkembang dalam masa kepemimpinannya melalui hasil studi banding di Israel. Bagaimana model studi banding masa kini, bukannya hanya suatu plesiran yang hasilnya hanya untuk segelintir kalangan atau bahkan tidak ada hasil sama sekali?

El Tari menyadari betul pentingnya pendidikan dan buku. Koleksinya yang muktahir membuktikan itu. Selama masa jabatannya beliau telah mengirimkan orang-orang terbaik asal NTT untuk menimba ilmu baik; di dalam atau pun di luar negeri agar saat kembali dapat memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan NTT.

Adagium 'tanam sekali lagi tanam' tidak dapat diinterpretasi secara harafiah dengan melihat kulit luarnya. Adagium itu bermakna bangunan hidup dan politis yang berkelanjutan di dalam semua aspek dasariah kehidupan masyarakat.

Konsekuensi dari tidak mampu memahami adagium ini adalah, penebangan pohon kasuari di depan pantung El Tari sebagai suatu bentuk penghinaan dan penolakan atas ajaran beliau yang sudah membumi. Sekaligus membuktikan bahwasanya orientasi dan imajinasi berpikir pemimpin kini cenderung instan-tanpa hargai proses.

Dalam mewujudkan Integritas dirinya sebagai seorang intelektual sekaligus negarawan, kepribadian El Tari memancarkan beberapa keutamaan penting seperti: petualang intelektual dengan kesadaran akan kerendahan hati : mencintai jajanan pasar dan memakai produk tenun lokal; kebijaksanaan dalam mengambil keputusan: menganjurkan tidak ada pengawalan di rumah jabatan; hingga ketegasan dalam mengambil keputusan publik: berani menolak invasi Indonesia ke Timor Leste adalah wujud kematangan seorang pemimpin yang berani mengatakan tidak pada persoalan yang salah dan tegar berdiri pada nilai dan prinsip yang benar.

Relevansi Kondisi Kini

Bagaimana pemimpin di Nusa Tenggara Timur kini, memahami dan meneruskan nilai dan prinsip yang sudah beliau jabarkan? Aktualisasi kembali nilai-nilai progresif yang telah dirintis beliau setengah abad yang lalu adalah suatu jaminan menuju NTT bangkit dan sejahtera. 

Melalui sebentuk revitalisasi dan reaktualisasi orientasi ekonomi dan politik dalam situasi terkini, NTT dapat mengejar ketertinggalan yang sudah sedemikian jauh dari provinsi lain.

Niai dan prinsip yang telah El Tari bangun hendaknya menjadi sebuah memoria gaudete 'ingatan akan kegembiraan' yang mampu menjadi ingatan dan pemahaman sosial. Memancarluaskan nilai dan prinsipnya melalui keteladanan dan pewacanaan nilai-nilai yang baik dan benar hendaknya hidup dalam diri para birokrat dan aparat kini sebagai simbol dan representasi negara. 

Maka prasyarat yang perlu terpenuhi, yakni pertama, menumbuhkan ruang publik: memberdayaan kultur publik dalam diskursus dan praksis yang kritis, evaluative dan tepat sasar; kedua, menyebarluaskan ingatan sosial; nilai dan prinsip yang terbangun dalam konteks historis tidak tinggal dalam ruang megah dan ber AC setelah selesai diskusi atau seminar, tetapi menyebar dan dipahami oleh semua kalangan entah baik atau buruk (Haryatmoko, 2014, hlm 199).

Menjelang masa pemilihan legislatif dan eksekutif yang serentak di Indonesia. Calon pemimpin kini perlu bercermin pada keutamaan yang telah digariskan pendahulu. Bukan sekadar romantisme. Atau copy paste atas model ideal sebelumnya.

Tetapi, meneruskan dan menjamin keberlanjutan nilai dan prinsip yang baik dan benar, bukankah adalah suatu kewajiban hakiki, bagi seseorang yang adalah calon pemimpin amanah rakyat?

Di tengah krisis tokoh dan keteladanan kini, kita berharap nilai-nilai luhur yang telah menjadi praksis dalam kehidupan para pendahulu, hendaknya tetap membara dalam juang bersama rakyat, agar tujuan kebaikan bersama  dapat menyata dalam kehidupan di bumi Flobamora.