Bola yang membentur pertama kali tiang atau mistar gawang, menjadi salah satu metos dalam olahraga terpopuler sejagad, Sepak Bola. Banyak yang beranggapan bahwa peristiwa demikian menjadi pertanda kemenangan bagi satu club yang tengah berlaga.

Namun, keluarnya El-Barca (Barcelona) sebagai pemenang pada laga terpanas dalam sejarah persepak bolaan di dunia yang bertajuk El-Clasico jilid ke-236 di semua ajang ini, berhasil mematahkan mitos kemenangan tersebut, takala pemain El-Real (Real Madrid), Karim Benzema, pada menit ke-42 tidak berhasil mengkonfersi peluang ciamik dari sundulannya menjadi sebuah gol, lantaran bola yang ia tanduk “Membentur Tiang Gawang”.

Kemenangan F.C. Barcelona atas Real Madrid dalam laga ke-236 El-Clasico (Sabtu, 23/12/2017), menjadi kado pahit bagi anak asuh Zinedine Zidane menjelang rehat paruh musim sepak bola di tanah Matador (Spanyol), yang memperlebar jarak dalam perburuan tropi La Liga dengan el-barca sebagai pemuncak klasemen.

Torehan manis el-barca di Santiago Bernabeu (Kandang Real Madrid) Sabtu malam, tak lepas dari peran vital sang juru racik strategi el-barca, Ernesto Valverde, yang berhasil memadam gabungan kekuatan skuad yang dimiliki pasukan Zidane; skil, kecepatan, dan kecerdasan.

Dipatahkan Pertentangan

Dalam segmen bahasan ini, penulis tidak bermaksud menarik sepak bola dalam wacana perpolitikan seperti insiden bentrokan antara seporter Livorno dengan sporter Lazio pertengahan 1990-an. Konon, salebrasi salam fasis yang dilakukan Paolo Di Canio, disebut-sebut memancing kemarahan sporter klub sepak bola Italia, yang menjadi kota lahirnya partai Komunis Italia tahun 1921. Atau kedalam wacana toritik pertentangan kelas miliknya Marx.

Tetapi apa yang kita saksikan dalam pertandingan Real Madrid vs F.C. Barcelona itu, mengingatkan pada satu ajaran dalam filsafat, yaitu aliran Dualisme. Baik itu Plato (427-347 SM) atau Thomas Hyde (1700 M) yang berpikir Dualis, bahwa realitas memiliki dua sisi berlainan yang saling bertolak belakang.

Sepak bola merupakan realitas sosial di masyarakat, namun di dalamnya terdapat mitos dan sisi rasional ilmiah yang dapat diperkirakan dan diukur oleh sang manejer berupa racikan strategi, sebagai dua substansi yang berada di balik sisi sepak bola.

Pada gilirannya, dua sisi tersebut memunculkan pertentangan yang akan melahirkan satu pemenang di satu pihak, dan kekalahan di pihak yang berlawanan, entah mitos dengan segala kemistikan yang tidak dapat diperkirakan? Ataukah rasional ilmiah sebagai jawara dalam suatu pertarungan?

Kemenangan Selalu Misterius

Kemenangan dalam hal apapun keberadaannya sangat misterius. Jamak prediksi pertempuran klub papan atas la liga yang dihelat di Santiago Bernabeu yang merupakan kandang Real Madrid, akan menjadikan el-real sebagai pemenang. Namun kekalahan pada akhir laga, memperlihatkan kepada halayak bahwa kemenangan sangatlah misterius.

Khalayak juga dapat melihat dan menilai pertarungan di el-clasico ke-236 itu, dari dua babak yang dilakoni kedua tim. Madrid di hadapan pendukungnya selaku tuan rumah, memainkan tempo permainan cepat di babak pertama. Sedang Barcelona di babak ke dua, mengontrol pertandingan dengan lebih pelan.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh penulis Damon Runyon (1880-1946), betapa kecepatan dalam pertempuran tidak selalu memastikan kemenangan di tangan, meski cara demikian merupakan cara terbaik dalam bertaruh.

Sebagaimana ajaran peperangan dalam The Art of War, yang dikenal strategi Sun Tzu, kemenangan terkait dengan cara memperlakukan “waktu” sebagai sekutu atau tidak. Kecepatan akan berbuah hasil maksimal bila waktu yang ada dimaksimalkan dengan tidak membuang banyaknya peluang. Tidak berhenti di situ, upaya memenangkan pertarungan harus juga berimbang dengan tujuan yang berupa keuntungan. Siapa yang diuntungkan dengan kemenangan tersebut?

Hal penting yang penulis hendak sampaikan, bahwa kemenangan erat kaitannya dengan kekuasaan yang dipertontonkan kepada khalayak. Ajaran Sun Tzu tersebut dalam konteks pertarungan, secara tidak langsung mensublimsi will to power milik Friedrich Nietzsche. Karena kehendak untuk berkuasa dalam ajaran Nietzsche, pada hakikatnya haruslah memperhatikan peruntukan “keuntungan” bagi semua orang.

The Rill El-Clasico di Indonesia

El-Clasico di sini tidak dalam konteks pertarungan Real Madrid vs Barcelona atau dalam olahraga lainnya, melainkan pertarungan nyata di balik kemerdekaan sebagai wujud kemenangan dari penjajah, namun terdapat pertentangan antara kelompok yang memperjuangkan bangsa dan negara dari keterpurukan melawan kelompok yang tamak yang berlindung di balik kebijakan.

Keduanya acap kali muncul dalam berbagai momentum penting kenegaraan, baik jangka pendek, menegah ataupun jangka panjang. Dalam berbagai momen pula, kelompok kedua memenangkan pertarungan, sehingga memperdalam jurang ketidakadilan, kemiskinan, dan ketimpangan sosial lainnya. Akibatnya, kemenangan tersebut semakin kabur.

Kondisi tersebut memang sengaja dibuat dalam bentuk pertentangan politik yang acap kali mengilemanisir keuntungan bagi semua rakyat Indonesia. kemudian mereka larut dalam pertarungan kepentingan yang tidak ada habisnya di balik klaim kebenaran ideologis partai dan kepentingan yang mereka tumpangi.

Di sisi lain, akibat dari pertarungan berkepanjangan kaum elite, semakin mengulur penyelesaian persoalan sosial yang begitu clasic sejak penjajah berada di negeri ini. Entah sampai kapan pertarungan panjang dan peyelesaian terhadap persoalan clasic di negeri terlaksana.

Kemenangan menjadi mitos, tidak hanya ada dalam pertandingan Madrid vs Barcelona. Di Indonesia-pun, kemenangan (tujuan kemerdekaan) akan menjadi mitos bila pertentangan dalam pertarungan menuju kekuasaan tak terkontrol, keuntungan rakyat yang terbuang jauh, mengulur waktu perbaikan dengan menyiakan waktu berupa peluang.

Sebagaimana jalan keluar yang ditawarkan Nietzsche menghadapi persolan clasic di negeri ini, ialah "penyangkalan diri" berupa pembebasan diri dari ambisi. karena ambisi akan selalu membimbing manusia pada kehendak kekuasaan tanpa batas.