Pernahkah kita mengantre sesuatu barang yang bagi kita canggih, murah, limited edition (edisi terbatas), dan ada promonya? Apa ekspektasi kita? Tentu kita berharap bahwa barang tersebut sesuai dengan harapan, kriteria, bahkan ekspektasi kita.

Akan tetapi, barang tersebut pasti juga memiliki sisi yang tidak kita harapkan, tidak sesuai kriteria, bahkan tidak sesuai dengan ekspektasi kita sama sekali. Kita berkomentar rugi karena sudah mengantre, rugi uang, rugi waktu, bahkan sudah sampai terbawa-bawa dalam mimpi karena begitu menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap barang itu yang justru bikin kecewa.

Akhir-akhir ini memang banyak orang yang terlalu berekspektasi tinggi bahkan berekspektasi menjulang ke langit terhadap sosok yang bernama Ahok atau BTP itu. Menunggu 2 tahun, mereka telah berekspektasi bahwa Ahok segera melakukan gerakan atau "gebrakan" politik tertentu. Bahkan ada yang menangis-nangis haru ketika si BTP ini keluar penjara. Saya sungguh bersyukur akan peristiwa itu.

Akan tetapi, banyak yang telah kecewa bahwa ternyata penggantian nama Ahok menjadi BTP ikut mengubah sifat Ahok yang dahulu garang menjadi lemah lembut, yang dahulu didambakan bahwa ia adalah seorang yang bersih, cinta Tuhan (religius), dan keluarganya harmonis ternyata selama 2 tahun menunggu, para pendukungnya malah "diberi hadiah" akan menikah dengan Puput karena sudah cerai dengan Veronica Tan.

Polemik Mulai Muncul

Banyak"Ahoker" (demikian mereka menyebut diri mereka) yang kecewa, 2 tahun di penjara ternyata membuat Ahok yang cinta Veronica menjadi BTP yang cinta Puput, Ahok yang tidak percaya pawang hujan menjadi BTP yang percaya garis tangan, dan lain-lain. Berbagai reaksi muncul, baik dari kalangan Kristen ataupun Katolik yang masih heran kok bisa cerai dan mereka berkata hati-hati ini bisa menjadi "trendsenter" sekaligus juga "siapa Pendeta yang mengabulkan permohonan cerai Ahok?" mulai bertebaran di mana-mana. 

Belum lagi sebagian saudara Muslim merasa keberatan dengan murtadnya Puput menjadi seorang Kristen. Di sisi lain juga, banyak aktivis yang mengecam Ahok karena menelantarkan Veronica bahkan juga menganggap Ahok sebagai "penyuka anak-anak" walau usia Puput di atas umur namun usia yang terpaut 31 tahun.

Ekspektasi yang Berlebih

Banyaknya tanggapan terhadap pilihan hidup Ahok akhir-akhir ini dari berbagai pihak bagi saya merupakan bentuk-bentuk ekspektasi yang terlalu berlebihan terhadap sosok Ahok. Sosok Ahok seolah digambarkan sebagai sosok yang "paling ideal" oleh para pengikutnya termasuk yang bukan pengikutnya. 

Berbagai harapan telah dibuat, diimajinasikan, bahkan diaktualisasikan yang mana semua itu masih sebuah imajinasi selama 2 tahun menanti sosok BTP ini keluar menyapa khalayak.

Dua tahun pun terlewati dan BTP baru saja bebas. Akan tetapi, media meliput Ahok yang sedang nyanyi di kalangan keluarga, duduk di sebelah Puput, berfoto ria bersama keluarga dan Puput, bertemu dengan Bapak OSO meminta restu menikahi Puput, menunjukkan cincin merah yang pernah diberi Pak OSO, menunjukkan keseriusannya dalam meminang Puput, dan lain-lain seolah membuat para Ahoker gerah dan gelisah. 

Belum lagi mereka mendengar Ahok yang masih mau pergi ke Belitung alias pulang kampung dan masih banyak lainnya.

Ahoker gerah, galau, bahkan gelisah terhadap Ahok. Sementara Ahok yang ingin dipanggil BTP ingin menikmati kebebasannya.

Perlahan-lahan di media sosial ramai diperbincangkan kembali perkara perceraian dengan Veronica, mengapa memilih Puput, dan lain-lain. Tentunya hal ini diikuti dengan banyaknya Ahoker yang semakin lama semakin meninggalkan Ahok karena begitu kecewanya.

Baca Juga: Tirakat Ahok

Ekspektasi tersebut memang tidak bisa dipungkiri. Sosok Ahok alias BTP membuat orang penasaran "ngapain saja" selama 2 tahun terakhir ini. 

Ada beberapa orang yang masuk dunia politik mendambakan bahkan sangat mengidentikkan dirinya sebagai seorang Ahok kendati terkadang mereka "lupa" apakah ia mau seperti Ahok atau tidak. Setelah 2 tahun, akhirnya hanya begini-begini saja bagi mereka yang kecewa dengan Ahok. Bahkan ada yang terang-terangan mencela kehidupan Ahok.

Tetap Optimis dan Kerjakan Bagian Kita Masing-Masing

Kekecewaan terhadap Ahok memang tidak bisa dipungkiri terjadi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kita tetap dituntut untuk bisa optimis. 

Misalnya saja kita optimis bahwa Pak BTP memiliki kebijakan-kebijakan tertentu yang ia sedang terapkan dalam kehidupan rumah tangganya yang tidak bisa mudah dipahami oleh banyak orang, termasuk para pendukungnya. Selain itu, kita optimis apabila Pak BTP sedang menyiapkan hal-hal tertentu dalam politik sehingga mungkin sulit dipahami sekarang namun kita bisa sadari nanti.

Selain optimis, penting bagi kita untuk tetap bisa mengerjakan bagian kita masing-masing. Artinya, kita belajar menerima keputusan apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarga BTP. 

Bukan berarti kita dilarang berkomentar terhadap kehidupan keluarga BTP, namun komentar-komentar kita belum tentu bisa mengubah kehidupan keluarga BTP. Artinya, BTP memiliki kuasa sendiri terhadap diri dan keluarganya.

Oleh karena itu, memang, membahas hal ini tidak akan habis dalam banyak sisi. Namun, tugas dan tanggung jawab kita yang lain tetap memanggil kita. 

Apabila ada hal yang dirasa negatif dari sosok BTP sekarang tentunya hal itu dapat menjadi cerminan bagi kita untuk tidak menirunya sementara apabila ada hal yang dirasa positif dapat diterima dan dilaksanakan. Mari kita mengerjakan ke depan tugas dan tanggung jawab kita sesuai dengan porsi kita masing-masing untuk masa depan kita yang lebih baik.