Ketika orang berbicara tentang dokter, maka yang terlintas di pikiran masyarakat umum adalah seseorang yang bertugas untuk menyembuhkan orang sakit. Ketika berbicara tentang guru, maka yang terlintas di pikiran masyarakat umum adalah seseorang yang bertugas untuk mengajar murid-murid di sekolah. Kedua hal di atas adalah profesi yang sudah sangat familiar di dalam masyarakat dan hampir semua orang tahu tentang profesi tersebut.

            Di tengah banyaknya profesi yang ada di Indonesia, ada profesi yang dinamai Pekerja Sosial. The National Association of Social Worker (NASW) mendefinisikan Pekerjaan Sosial sebagai kegiatan profesional yang membantu individu-individu, kelompok-kelompok, atau masyarakat-masyarakat untuk meningkatkan atau memperbaiki kemampuan keberfungsian sosial mereka dan menciptakan kondisi kemasyarakatan yang memungkinkan mereka mencapai tujuannya. Sederhananya, pekerjaan sosial adalah profesi yang membantu orang-orang yang sedang mengalami permasalahan sosial.

Sepintas memang pekerjaan sosial seperti profesi yang begitu sederhana, tetapi jika lebih dipahami dan didalami, maka akan terlihat jelas kompleksitas di dalam profesi ini. Profesi ini memerlukan kompetensi yang terdiri dari body of knowledge, body of value, dan body of skill. Kompetensi tersebut sejatinya hanya dapat diperoleh melalui pendidikan pekerjaan sosial di bangku perkuliahan. Orang yang mempunyai profesi pekerjaan sosial disebut sebagai pekerja sosial.

            Pendidikan pekerjaan sosial di Indonesia sebagai pencetak para pekerja sosial, baru dimulai sejak tahun 1950an. Usia tersebut terbilang cukup lama. Dengan usia seperti itu, seharusnya pendidikan pekerjaan sosial sudah dapat memanfaatkan keberadaannya untuk berbenah diri dan mempromosikan profesi tersebut sehingga membuat eksistensi profesi ini lebih tinggi dan lebih dikenal luas di masyarakat. Pendidikan ini juga harusnya mampu menumbuhkan minat dan niat masyarakat untuk merekomendasikan anak-anaknya ke jurusan tersebut.

            Namun dalam perjalanannya, profesi pekerjaan sosial tidak berkembang dengan mulus dan lancar. Keberadaan pekerjaan sosial kurang familiar dan dikenal di masyarakat umum, bahkan terkesan asing untuk sebagian orang yang mendengarnya. Pekerjaan sosial seolah-olah tidak mengalami perkembangan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini tentu sangat berdampak pada eksistensi pekerjaan sosial sebagai sebuah profesi yang tengah bersaing dengan profesi-profesi lainnya.

            Di lingkungan tempat saya tinggal, adalah lingkungan dimana kampus tempat para pekerja sosial di didik, di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung (STKS Bandung), tempat di mana saya juga sedang berkuliah saat ini. Dengan keberadaannya di tengah-tengah lingkungan masyarakat harusnya dapat membuat profesi pekerjaan sosial ini lebih mudah dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat sekitar kampus tersebut.

            Saya mencoba untuk berdialog dengan beberapa orang yang berada di sekitar kampus STKS, mengenai keberadaan kampus STKS Bandung, khususnya tentang profesi yang dididik di sana. Untuk bangunan sendiri, rata-rata penduduk di sekitar kampus mengetahui lokasi tersebut, tepatnya di Jalan Ir. H. Djuanda nomor 367. Ini juga didukung oleh posisi kampus STKS yang berada di sisi jalan Ir. H. Djuanda sehingga mudah untuk dijangkau oleh setiap mata yang ingin melihat keberadaan kampus tersebut.

Selanjutnya, berbicara mengenai pekerjaan sosial, profesi yang merupakan program studi yang diajarkan di STKS Bandung, masyarakat di sekitar lingkungan kampus STKS Bandung agaknya juga agak asing dengan nama program studi tersebut. Ketika saya berdiskusi sedikit kepada para pedagang yang berada di lingkungan kampus STKS, tidak sedikitpun yang mereka ketahui tentang pekerjaan sosial. 

Mulai dari seperti apa itu pekerjaan dari para pekerja sosial, apa dampak dari pekerjaan sosial, hingga dimana pekerja sosial itu bekerja, tidak ada yang tahu. Keadaan ini cukup miris, karena di lingkungan kampus yang merupakan tempat dididiknya para pekerja sosial, sangat jarang yang mengetahui tentang profesi ini.

            Merasa kurang puas dengan fakta tersebut, saya mencoba menanyakan kepada orang di luar lingkungan STKS mengenai profesi pekerjaan sosial ini. Saya mencoba berdiskusi dengan beberapa sopir taksi online yang saya tumpangi. Kebetulan, ada beberapa sopir yang memang bukan berasal dari daerah di sekitar STKS. 

Ketika saya bertanya mengenai profesi pekerjaan sosial kepada mereka, hampir semua jawaban mengindikasikan kepada ketidaktahuan mengenai adanya profesi yang bernama pekerjaan sosial. Lebih herannya lagi, mereka malah bertanya, apakah ada profesi semacam itu. Sungguh satu hal yang tidak mengenakkan bagi saya sebagai seorang calon pekerja sosial mengetahui keadaan profesi yang akan saya geluti nantinya.

            Berdasarkan keadaan-keadaan di atas, kita dapat melihat keadaan profesi pekerjaan sosial yang tidak begitu dikenal di mata masyarakat, yang bahkan terkesan asing. Keadaan ini tentu tidak membuat kita berpikir apa sebenarnya yang terjadi dengan keberadaan profesi pekerjaan sosial ini.

Tentu ada faktor yang menyebabkan eksistensi pekerjaan sosial tidak begitu tersohor. Faktor yang paling penting adalah bahwa pekerja sosial jarang dilihat orang-orang serta aksi nyatanya yang benar-benar murni dilakukan sebagai seorang pekerja sosial. Ini karena tidak jarang para lulusan pekerja sosial yang bekerja tidak sesuai profesinya, dan malah beralih ke profesi lain.

Kurangnya pemahaman kepada masyarakat tentang profesi pekerjaan sosial juga membuat masyarakat menjadi buta tentang pekerjaan sosial, yang sebenarnya sangat dibutuhkan di dalam masyarakat. Selain itu, profesi pekerjaan sosial ini pun tidak mendapatkan tempat atau struktur yang jelas dalam pemerintahan, yang padahal keberadaannya sangat bermanfaat jika strukturnya jelas dalam pemerintahan untuk mengatasi permasalahan sosial dengan tepat.

Keadaan ini memberikan dampak yang kurang baik bagi profesi pekerjaan sosial dan juga perkembangan pendidikan pekerjaan sosial kedepan. Bagi profesi pekerjaan sosial, kurang dikenalnya profesi pekerjaan sosial di masyarakat akan membuat para pekerja sosial tidak mudah mendapatkan penerimaan di masyarakat sebagai sebuah profesi pertolongan.

Pekerjaan sosial merupakan profesi yang bekerja untuk orang-orang, baik individu, kelompok maupun komunitas atau masyarakat yang mengalami masalah pada keberfungsian sosial mereka. Kalau masyarakat tidak mengetahui profesi pekerjaan sosial sebagai profesi pertolongan, maka akan sangat sulit bagi masyarakat untuk meminta pertolongan kepada pekerja sosial, apalagi menjadi seorang voluntary client atau klien yang sukarela datang karena benar-benar membutuhkan pertolongan,

Bagi pendidikan pekerjaan sosial, kurangnya eksistensi profesi pekerjaan sosial menyebabkan kurangnya minat para masyarakat untuk memilih pendidikan pekerjaan sosial sebagai pekerjaannya kedepan. Saya pernah bertanya kepada salah seorang tentang bagaimana pekerjaan yang diinginkannya. Dia menyampaikan bahwa ia menginginkan pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan kedepan. 

Hal ini tentunya berkaitan dengan upah yang didapatkan dari profesi sebagai seorang pekerja sosial. Informasi ini tentunya jarang didapatkan, mengenai berapa penghasilan jika menggeluti profesi pekerjaan sosial. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan, dan kalau tidak ada yang tidak tahu mengenai ini, maka akan sulit bagi orang-orang untuk memilih profesi pekerjaan sosial sebagai pekerjaannya.

            Kondisi dan keadaan profesi pekerjaan sosial saat ini sangat membutuhkan perhatian dari banyak pihak demi eksistensi profesi ini khususnya di dalam masyarakat. Penyebarluasan profesi ini sangat perlu dilakukan agar kedepannya profesi ini dapat diterima di masyarakat. Informasi-informasi mengenai pekerjaan sosial perlu digencarkan di seluruh daerah di Indonesia. 

Demikian juga dengan para lulusan pendidikan pekerjaan sosial, harus mampu bersaing dengan profesi lainnya demi memperkuat eksistensi. Organisasi-organisasi profesi pekerjaan sosial seperti Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) dan lain-lain juga harus mampu berinovasi untuk meningkatkan eksistensi pekerjaan sosial dalam masyarakat. Dukungan pemerintah juga tak kalah penting dalam meningkatkan eksistensi pekerjaan sosial. 

Memberi tempat dan struktur yang jelas kepada profesi pekerjaan sosial mungkin salah satu cara untuk mengupayakan profesi pekerjaan sosial. Harapan kita bersama kedepan, profesi pekerjaan sosial dapat dikenal dan diterima seluruh masyarakat dan dapat bekerja dengan kompeten demi kesejahteraan bangsa dan Negara.

Hidup pekerja sosial.

To help people, to help themselves.