Kata koperasi tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata koperasi berasal dari bahasa Inggris yaitu co yang berarti bersama dan operation yang berarti usaha. Untuk pengertian singkatnya koperasi diartikan sebagai usaha bersama.

Menurut Undang Undang koperasi No.25 Tahun 1992 pasal 1 koperasi berarti badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melaksanakan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasarkan asas kekeluargaan.

Salah satu fungsi koperasi di Indonesia yang tertera dalam Undang Undang No. 25 Tahun 1992 adalah mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakam usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Dari fungsi yang tertera dalam Undang-Undang tersebut tentu peran koperasi yang diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia sangat penting. Karena koperasi dianggap sebagai salah satu badan usaha yang dapat meningkatkan perekonomian tingkat nasional.

Seberapa tahukah kita mengenai seluk beluk koperasi? Apakah kita mengetahui bagaimana sistem di dalam koperasi? Apakah yang menjadi perbedaan antara koperasi dan badan usaha lainnya? Apakah kita tahu siapa orang yang dijuluki sebagai Bapak Koperasi Indonesia?

Melalui artikel ini kita akan menjawab sekaligus membahas mengenai pertanyaan pertanyaan tersebut. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak.

Beberapa orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya, sehingga terbentuklah koperasi.

Semua modal yang dimiliki oleh badan koperasi berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, dan penyisihan sisa hasil usaha dari semua anggotanya, namun ada juga bantuan modal dari pihak luar, seperti pemerintah ataupun swasta.

Koperasi merupakan suatu organisasi yang bersifat terbuka dan sukarela. Tujuan koperasi yaitu meningkatkan kesejahteraan anggotanya dan untuk mencapai tujuan tersebut anggota koperasi mempunyai kewajiban, yakni membayar iuran simpanan pokok dan simpanan wajib.

Hal yang paling mencolok yang menjadi perbedaan koperasi dengan badan usaha lainnya seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) yaitu di dalam koperasi terdapat asas kekeluargaan sedangkan badan usaha lain tidak memiliki itu.

Perlu kita ketahui, Mohammad Hatta merupakan tokoh perjuangan nasional yang disebut sebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Beliau sering menulis beberapa esai dan buku ekonomi rakyat sewaktu beliau menjabat sebagai wakil presiden Indonesia yang pertama.

Selama itu pun beliau aktif dalam mengembangkan koperasi di Indonesia. Oleh karena itu, ia memperoleh sebutan Bapak Koperasi Indonesia dalam Kongres Koperasi Indonesia pada tahun 1953.

Dari tahun ke tahun perkembangan koperasi sangat jelas perkembangannya. Namun, memasuki tahun 2017 terjadi penurunan fungsi koperasi. Jumlah koperasi tahun 2017 tercatat sebanyak 4.882. Dari jumlah ini, hanya 2.853 yang aktif. Sementara 2.029 sudah tidak aktif, menurut catatan Kepala Dinas Koperasi.

Eksistensi koperasi semakin tersaingi semenjak perbankan mulai menggenjot pemberian kredit. Baik itu kredit konsumsi, produktif maupun kredit investasi. Bahkan, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Sulut gomalut, penyaluran kredit perbankan di Sulut hingga November tahun lalu mencapai Rp 34,3 triliun.

 Tingginya minat masyarakat mengajukan kredit, secara tidak langsung mematikan usaha koperasi, termasuk koperasi simpan-pinjam.

Pengamat ekonomi Sulut Joy Tulung PhD mengatakan, jumlah koperasi yang semakin menurun disebebakan beberapa hal.  Pertama, banyak koperasi yang didirikan hanya untuk mendapatkan dana bantuan dari pemerintah ataupun juga untuk mendapatkan pendanaan dari perbankan.

 Tapi pada akhirnya dana tersebut digunakan untuk konsumtif padahal alasan mengajukan kredit untuk modal kerja. Kedua, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak sesuai kriteria. Ketiga, modal yang dikumpulkan terbatas.

Faktor faktor tersebut merupakan beberapa hal yang menyebabkan fungsi koperasi menurun drastis di Indonesia. Jika kita melihat kembali sistem yang digunakan didalam koperasi merupakan sistem yang dirancangkan agar sesuai dengan asas kekeluargaan.

Koperasi mungkin terlihat lebih sederhana dari badan usaha lainnya. Koperasi sering dijuluki sebagai badan usaha yang hanya dihuni oleh masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah, sehingga masyarakat yang merasa memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi tidak mau bergabung dalam koperasi.

Sistem di dalam koperasi juga tidak kalah saing dengan sistem yang ada di perbankan atau badan usaha lainnya, bahkan tidak jauh beda. Hanya saja semakin tahun berganti pola pikir masyarakat pun semakin beragam.

Masyarakat masih menilai kesederhanaan koperasi tidak cocok bagi mereka yang memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Selain itu juga, koperasi masih kurang mempromosikan diri untuk mempertahankan eksistensinya.

Zaman terus bergerak maju, jika koperasi di Indonesia tidak ada inisiatif untuk mempertahankan eksistensinya bisa jadi koperasi tidak akan ada lagi di masa yang akan datang. Semua itu kembali lagi pada pola pikir dan tingkat ketertarikan masyarakat pada koperasi.