Saya pernah menulis artikel berjudul Panduan Praktis Menjadi Penulis pada 2018 di Voxpop. Sebenarnya tulisan itu adalah respon terhadap tiga artikel lain, yakni Berhentilah Jadi Penulis Buku oleh Iqbal AJi Daryono di Kumparan, serta Menulis dan Jadi Kaya dan Enam Cara Tterbaik Menjual Buku di Mojok.

Namun bagian penjelasan respon tidak tercantum dalma artikel. Mungkin ini kebijakan editorial Voxpop, ya tidak apa-apa. Artikel tersebut mencoba memberi solusi pada poin-poin keresahan penulis dalam tiga artikel di atas.

Tulisan ini adalah upgrade dari pembahasan di artikel tersebut.

Pembahasan dalam tulisan itu sudah menyentuh aspek komunikasi dari menulis seperti saya ingin sampaikan. Bahwa tulisan harus cocok dengan audiensnya, dalam artian harus tersampaikan ke audiens yang tepat.

Namun, di sana saya menempatkan audiens di urutan pertama dalam penjabaran prosesnya. Ini bisa menimbulkan kesan bahwa penulis mesti memutilasi konten apapun yang dia tuliskan, lalu dipaksakan bentuknya agar sesuai dengan target audiens tertentu.

Implikasinya bisa berujung pada bahasan dikotomi biner yakni idealisme versus populisme. Namun sebenarnya ini ilusi dilema saja. Solusinya amat sederhana dan bisa dipraktekkan kita semua kalau mau.

Di tulisan kali ini saya akan lebih menjernihkan serta memperluas penjabaran sebelumnya.

Sebagai manusia, tentu kita memiliki banyak sisi dan aspek kepribadian. Dan saat menulis tentu ada banyak variasi hal yang ingin kita ekspresikan dan tuangkan. Tidak semua dari ekspresi itu sesuai dengan satu agregat audiens di forum tertentu.

Solusinya sederhana : memperbanyak variasi pilihan forum sebagai tempat memajang tulisan.

Konten adalah raja. Pertama dan utama. Jika ada hal yang ingin disampaikan, ya tuangkan saja. Tuliskan, baik berbentuk fiksi maupun non fiksi. Di tahap ini tidak usah pikirkan dulu soal audiensnya siapa. Bebaskan diri, regangkan otot menulis sepuasnya, dan tuangkanlah.

Setelah selesai, baru pikirkan apakah hanya untuk kesenangan diri sendiri atau mau diposting sehingga dilihat khalayak. Kalau untuk pribadi ya bisa disimpan saja tanpa diposting, atau diposting di milik pribadi, entah itu FB, blog, situs, dan lain-lain.

Kalau ternyata memutuskan untuk dipajang di forum bersama, ya di sinilah kekayaan variasi pilihan forum tadi berperan. Lihat baik-baik konten tulisan tadi, cocoknya di forum mana dipajangnya. Misalkan berdasar genrenya apa, atau berdasar nuansa tulisannya, apakah ringan, thriller, serius, kontemplasi, super padat, kelam, dsb.

Setelah memilih forum yang dirasa paling tepat, tinggal posting tulisan di sana. Ini wajar saja. Setara dengan memilih penerbit. Pertama tulis saja dulu tulisannya. Setelah selesai baru dicari mana penerbit yang kira-kira cocok dengan tulisan itu. Kalau tidak ketemu, bisa mempertimbangkan nge-indie lalu menjangkau audiens sendiri.

Inilah aspek kecocokan. Menulis berbagai konten dengan variasi genre dan nuansa sama sekali tidak berarti manusia itu munafik. Sebaliknya, ini justru bisa memperkaya jiwa si manusia.

Di Indonesia sedang sangat kuat kecenderungan dikotomi biner akibat Pemilu Presiden 2014 dan Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu. Versi terbarunya ya seperti reaksi terkait insiden kartu kuning baru-baru ini.

Ditambah tahun politik 2018 dan 2019, kecenderungan generalisasi dan hanya-ada-kita-lawan-mereka akan semakin kuat.

Santai saja.

Manusia itu memiliki kepribadian komposit, seperti dijabarkan Amin Maalouf dalam bukunya In the Name of Identity. Personalitasnya tersusun dari berbagai elemen, dan itu tidak masalah.

Yang jadi masalah itu biasanya kalau salkam (salah kamar). Kalau forumnya tidak tepat. Misalnya membawa kampanye politik dalam forum reliji, atau memposting tulisan realis bernuansa gritty-brutal di komunitas yang salah, atau komunitasnya tepat tapi waktu postingnya salah.

Yang seperti ini baru bisa memicu masalah. Karena kadar tidak cocoknya terlalu tinggi.

Sebagai latihan, menulis berbagai konten variatif juga amat bermanfaat. Kita ambil contoh seri A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin. Di sana muncul berbagai karakter, tentu dengan kepribadian, kebiasaan, dan tingkah masing-masing. Tapi semuanya bisa muncul wajar dan believable.

Tentu ini bisa terjadi karena Martin sebelumnya sudah latihan menulis mereka. Berbagai tipe karakter, dengan nuansa berbeda, dalam cerita berbeda di berbagai waktu berbeda. Dari pengalaman menulis sedikit demi sedikit itulah Martin mampu menuangkan berbagai tipe karakter tersebut ke dalam Game of Thrones.

Kalau di Indonesia, contohnya adalah Joko Anwar yang menyutradarai film-film dengan berbagai genre berbeda. Komedi romantis dalam Janji Joni, noir dalam Kala, thriller dalam Pintu Terlarang, drama roman dengan cuplikan kritik politik dalam A Copy of My Mind, ditambah berbagai karya pendek yang jarang diketahui umum.

Melalui berbagai variasi inilah ia bisa menyutradarai film Pengabdi Setan yang menjadi horor terlaris sepanjang masa di Indonesia. Progres setara juga bisa kita lihat dalam variasi genre dan nuansa di komik-komik Sweta Kartika.

Sekilas kedengarannya sepele, tapi sebenarnya amat penting.

Menulis termasuk disiplin kompleks yang butuh sekitar sepuluh ribu jam untuk jadi ahlinya. Dan di tahap perkembangan, kelapangan pilihan yang disediakan pilihan forum akan menuntun pada jenis perkembangan yang dibutuhkan.

Yakni progres pada jam terbang, variasi, dan kompleksitas tulisan.

Selain itu, ini adalah zaman overpopulasi dan digitalisasi. Ada begitu banyak manusia, yang saling terhubung di samudera digital yang super dinamis. Maka memiliki pengetahuan akan forum berbeda beserta sifat masing-masing forum adalah kemampuan krusial sebagai penulis.

Kita ambil contoh karya-karya Eka Kurniawan yang bergenre sastra. Saat diterbitkan di Indonesia, tidak begitu meledak. Pembacanya tetap ada, juga setia dan militan, namun relatif tidak besar kalau dibandingkan dengan buku-buku mega best seller lain di Indonesia.

Namun ternyata, pembaca novel-novel Eka kebanyakan ada di luar negeri.

Novelnya Cantik Itu Luka mendapatkan sambutan antusias saat diterbitkan di luar Indonesia. Kini novel itu diterbitkan di banyak negara dalam berbagai bahasa. Versi terjemahan bahasa Inggris dari novel Lelaki Harimau, yakni Man Tiger, masuk nominasi Man Booker International Prize 2016.

Ada aspek lain yang bisa dilihat dari kecocokan memilih forum ini.

Kita mengetahui ujaran survival of the fittest. Umumnya ini diartikan sebagai yang mampu beradaptasi dengan lingkunganlah yang mampu bertahan. Padahal esensinya adalah, mana yang berhasil selaras dengan lingkungannyalah yang akan bertahan.

Sebagai penulis, ini seakan mengimplikasikan ia harus memutilasi dan mengubah paksa karyanya agar sesuai pasar. Padahal ada jalan keluar yang sederhana.

Ini zaman overpopulasi. Dari miliaran orang di dunia ini, pasti ada yang seusai dengan konten karya kita. Karena ada berbagai variasi forum dan lingkungan kesadaran di samudera digital ini.

Kita cukup menemukannya saja. Tulis saja dulu tulisan kita, lalu baru cari audiens yang selaras. Maka kita pun berhsil mencapai keselarasan antara karya dengan audiens tanpa memutilasi paksa jiwa konten karya dan jiwa kita.

Ini mungkin terjadi karena kondisi zaman saat ini yang berbeda dengan kondisi saat ujaran survival of the fittest pertama kali muncul. Ingat : zamannya sudah beda, maka perlu ada tambahan penafsiran agar relevan dengan zaman.

Dan karena sudah era digital, semuanya sudah terhubung. Kita bisa memposting di forum luar negeri kalau mau, tentu dengan menerjemahkan dulu karya kita ke bahasa yang sesuai, bisa sendiri atau dengan jasa penerjemah. Kita bisa mencapai platform luar tanpa secara fisik pergi ke sana.

Dengan kata lain, zaman overpopulasi dan digitalisasi ini sebenarnya merupakan surga bagi penulis. Dengan catatan dia mampu memberdayakannya dengan tepat.

Misalkan, di Indonesia relatif sulit kalau menulis konten ‘tabu’-‘terlarang’ sekaligus ingin mencapai audiens luas. Salah satu solusi adalah memposting di forum luar negeri. Relevansi hal ini bisa kita lihat dari kasus Eka tadi, juga kesuksesan Rich Brian di Amerika.

Lagu-lagu Brian ada yang mengandung tema seputar drugs, perang antar geng, dan sebagainya. Kalau dirilis di Indonesia, tentu kesuksesannya tidak sebesar di Amerika. Karena iklim kesadaran Indonesia amat lain dengan Amerika.

Yep, demikianlah.

Semoga bermanfaat, dan selamat menulis.