Anda yang belum tahu dan belum pernah membaca satu pun karya Eka Kurniawan tentu aneh dengan judul tulisan ini. Tapi bagi yang sudah pernah membaca buku Eka Kurniawan, khususnya "Cantik Itu Luka" atau "Coretan di Toilet", apalagi "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas", tentu akan mafhum. 

Tidak seperti sastrawan lain, paling tidak yang karyanya sudah pernah saya baca, Eka Kurniawan tidak akan segan-segan menuliskan kata (maaf) "tai" dalam karyanya (khususnya yang fiksi). Hal yang tidak ia lakukan pada karyanya yang lain, misalkan esai yang diterbitkan di Jawa Pos. 

Awalnya, ketika pertama kali mendapatkan kata "itu" (saya sebut saja "itu", ya) dalam novel "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas", saya kaget. Seumur hidup belum pernah saya membaca ada kata "itu" dalam karya sastra. 

Karya sastra yang saya baca, baik yang dikarang oleh penulis Indonesia maupun luar negeri, yang saya baca versi terjemahannya, tidak ada menyebut-nyebut 'kata "itu".

Kekagetan saya bertambah besar karena Eka Kurniawan menyebutkan lagi kata "itu". Tidak hanya satu dua kali tetapi berulang kali. Sehingga, siapa pun yang membaca karya Eka Kurniawan, akan beranggapan bahwa Eka memang sengaja melakukannya. 

Semula saya kira kata "itu" hanya ada dalam novel "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Lunas". Maklum, itulah buku pertama yang saya punya. Namun, ternyata kata "itu" juga ada pada novel-novelnya yang lain, misalkan "Cantik Itu Luka", juga kumpulan cerpennya berjudul "Coretan di Toilet". 

Saya tidak tahu apakah di karya-karyanya yang lain ada juga kata "itu" atau tidak. Sebab beberapa karyanya belum sempat saya baca (karena belum mampu saya beli). Kalau di karyanya yang lain yang belum saya sebutkan, maka akan semakin memperkuat dugaan Eka Kurniawan memang sedang mewarnai sastra Indonesia dengan hal yang baru dan menurut saya ekstrem.

Sastrawan pendobrak?

Atas fenomena "itu" saya kemudian bertanya kepada salah seorang sastrawan yang lahir dan tinggal di Kota Serang, Banten. Saya percaya padanya karena ia konsisten di jalur sastra dan pasti sudah membaca karya Eka.

"Kenapa Eka Kurniawan melakukan itu?" tanya saya suatu hari kepada sang sastrawan. 

Menurut sastrawan itu, Eka Kurniawan sedang melakukan sebuah pendobrakan terhadap "pakem" karya sastra yang ada selama ini. Dalam karya sastra yang ada, tentu saja sebelum karya Eka Kurniawan ada, rasanya tidak ada sastrawan yang menyebutkan dengan sengaja (karena dilakukan berulang-ulang) kata "itu".

Atau, masih kata sastrawan itu, kemungkinan lain, Eka Kurniawan sedang mencoba membebaskan kata-kata dari semua yang membelenggu dan membebaninya. Entah itu norma moral, agama, sopan santun, dan lain sebagainya. 

Sehingga, kata-kata dibiarkan begitu saja apa adanya tanpa perlu memikirkan apakah sopan, etis, mengucapkan kata itu. Ketika kita mengatakan kata "itu", ya sama saja seperti mengucapkan kata sendok. Atau handuk. Atau gunung, dan seterusnya.

Seingat saya sastrawan yang menjawab pertanyaan saya itu juga pernah membuat sebuah puisi yang ada kata (maaf) "jembut"-nya. 

Dari penjelasan sang sastrawan ini saya kemudian mafhum mengapa Eka Kurniawan menggunakan kata "itu" berulang-ulang dalam karyanya tanpa merasa tidak enak kepada pembaca atau yang lainnya. Walaupun harus ditekankan di sini bahwa ini hanyalah jawaban sementara (karena hanya didasari kemungkinan bukan keluar dari mulut Eka langsung). 

Mungkin, yang dilakukan Eka sama seperti halnya yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri yang ingin membebaskan kata-kata dan mengembalikan kata pada mantra. Seperti itu pulalah usaha yang dilakukan Eka Kurniawan. 

Memang agak repot juga bila seandainya, seperti yang saya lakukan pada tulisan ini, ketika akan menuliskan kata-kata yang dianggap tidak sopan harus mendahuluinya dengan kata (maaf).  Atau mengganti kata "itu" dengan kata lainnya, walaupun cara ini lebih banyak dipilih oleh banyak orang. Misalkan mengganti kata "itu" dengan feses atau kotoran.

Saya kira penyebab dari enggannya kita mengucapkan langsung kata-kata yang dianggap tidak sopan, vulgar, atau jorok mungkin karena sejak kecil kita diajari tidak mengucapkan kata-kata yang dianggap tidak sopan dan jorok itu oleh orang tua atau orang yang lebih tua dari kita.  Orang tua kita biasanya mengganti kata-kata yang tidak sopan itu dengan kata lain. 

Kelamin lelaki diganti dengan kata "burung", kelamin perempuan diganti dengan "apem", dan seterusnya.

Penggantian kata itu bagi orang dewasa mungkin tidak akan bermasalah. Dengan seiring waktu orang dewasa akan paham makna di balik kata-kata pengganti kata yang dianggap vulgar atau tidak sopan itu. 

Tetapi bagi anak kecil tentu akan bermasalah karena anak kecil akan menganggap kata "burung" adalah hewan yang bersayap dan bisa terbang bukan kelamin lelaki. Sementara kata "apem" adalah nama makanan manis.

Tidak hanya orang tua, di kalangan anak muda juga lahir kata-kata pengganti dari kata yang tidak sopan itu, misalkan "bemper" untuk mengganti kata payudara.