Hari ini, sebagian orang menerjemahkan politik dengan berbagai hal. Ada yang menilainya sebagai cara merebut kekuasaan. Atau, bagi yang sudah berkuasa, bisa jadi politik itu perkara bagaimana melanggengkan kekuasaan, jabatan, kalau bisa sampai tujuh turunan. 

Entah bagaimana pula arti politik bagi pengusaha. Apakah salah satu cara untuk mempermudah aturan usaha, atau, boleh jadi mainan baru untuk uji kecerdasan, kelihaian, dan uji-uji lainnya. Sebab urusan uang sudah membosankan. Butuh yang lebih menantang. Barangkali.

Lain pula politik di mata seniman. Urusan politik bisa saja diartikan sebagai seni bersandiwara. Perkaranya, andai politik itu cara meraih kursi kuasa dan perlu memiliki banyak massa, maka perlulah merebut perhatian dan simpati massa, sampai mereka bisa percaya. Syahdan, perlu kiranya memainkan peranan diri di panggung sandiwara kuasa raja. 

Perlu tahu dan tak perlu kaget juga jika ada yang bilang, politik itu kejam, politik itu kotor, politik itu sadis, politik itu bla bla bla. Jadi, politik itu harus kita jauhkan dari lingkup pendidikan.

Harap wajar. Sebab dalam politik banyak intrik. Politik juga perlu duit. Politik tak lepas soal klaim retorik. 

Tapi jangan lupa bahwa dalam politik juga ada persoalan etik dan estetik. Etik politik yang menjadi ukuran kesantunan berpolitik, sedang estetika menjadi takaran seni berpolitik. Soal etika dan esetetika politik memang bukan barang baru, dia barang lama yang sudah sejak ribuan tahun lalu ada.

Empunya Filsafat, Aristoteles, menilai soal politik dalam karyanya Nichomachean Ethics bahwa politik itu sesuatu yang indah dan terhormat. Sedang gurunya, Plato, menilai politik itu agung dan mulia, wahana membangun masyarakat yang utama. 

Itu politik menurut para pendahulu yang jauh mundur ribuan tahun lalu. Ada pula teori yang cukup terkenal bahwa politik itu the art of possibility, seni meracik berbagai kemungkinan.

Di sisi lain, dalam obrolan-obrolan di warung kopi, di terminal, di pangkalan ojek, di pesisir, bahkan ibu-ibu arisan dan jamiahan pun juga ikut-ikutan tak mau ketinggalan berkomentar soal dunia perpolitikan. Sebab pertunjukan politik para politisi negeri setiap hari berseliweran di TV. 

Meski tidak sedikit pula yang bersikap masa bodoh soal itu. Yang lebih penting, bagaimana makan untuk esok hari. Maklum, pendapatan rakyat kita, kan, bervariasi. Peduli amat dengan adu-adu pendapat; yang terpenting itu adalah pendapatan.

Nah, bagaimana pula politik di mata warga negara kita dari berbagai latar belakang?

Mohon sepakat. Sekarang ini, kan, zamannya sudah beda. Orang boleh berkata apa semaunya, termasuk mengarti, menilai kondisi politik bangsa. Mau berkata a i u atau o, asal masih tahu batas. 

Perkara politik, saya sendiri sepakat dengan dua filosof dari Yunani di awal. Indah ketika para aktornya mampu melakukan komunikasi politik yang luas dan luwes tetap menjunjung tinggi persatuan. Membangun kesadaran masyarakat mewujudkan cita-cita kemerdekaan juga dalam memilah dan memilih. 

Bermartabat dan mulia ketika semua mampu saling menjaga bukan menyudutkan. Menampilkan kompetisi gagasan visi misi kebangsaan, bukan fitnah untuk menjatuhkan.

Sebab, politik bukan hanya ketika proses perebutan tahta, tapi juga saat sudah mendapatkannya dan menggunakannya. Mereka yang terpilih, pemimpin negarawan, akan menjalankan tahta sebaik dan semaksimal mungkin untuk kemakmuran masyarakatnya.

Tapi jika yang terpilih berjiwa penguasa, wah, bisa repot urusan. Yang ada dalam pikirannya bagaimana ia dapat menguasai apa yang ada dan melanggengkan kuasanya.

Terlepas dari itu, hari demi hari masyarakat kita perlahan mulai sadar dan melek terhadap politik, meskipun baru sekadar tahu. Masyarakat kini sering diterpa informasi dari berbagai media seiring pesatnya perkembangan teknologi yang ada. Walaupun kita ketahui bersama, media juga tidak sedikit yang diperkosa untuk memenuhi syahwat politik para pemangku hajat. 

Untunglah masih cukup banyak yang berjuang mewujudkan berpolitik membangun berdemokrasi yang dewasa, berorientasi falsafah dan cita-cita bangsa. Tidak sekadar latah, ikut-ikutan negara yang katanya adikuasa. Sudah patut dan selayaknya kita kembali kepada Pancasila dan UUD ’45 sebagai pegangan kita menjalankan kehidupan berbangsa.

Indonesia kita ini merdeka sudah lama, masyarakat sudah melewati narasi panjang kehidupan demokrasi bernegara. Rakyat merekam dan membaca apa-apa yang terjadi di  sekelilingnya. 

Masyarakat mulai melihat, mendengar, dan mengamati siapa bersama siapa, siapa melakukan apa, berbicara apa, dari mana mau ke mana, mewakili siapa dan untuk siapa.

Perlu diingat, rakyat bukanlah komoditas suara belaka. Lebih dari itu, rakyat adalah partner membangun peradaban bangsa. 

Karenanya, lebih cerdas dan bijaklah mengatur strategi dan taktik berpolitik dalam menjalankan kuasa. Sebab rakyat sudah jenuh dengan politik yang mengabaikan etika dan estetika apalagi mengorbankan persatuan bangsa. 

Bukankah Indonesia merdeka, aman, makmur, jaya, dan sentosa adalah harapan kita bersama seluruh masyarakat indonesia? Maka menjadi tanggung jawab kita bersama mewujudkan itu semua.

Soal politik itu sesungguhnya apa? Biarlah referensi bacaan dan pengalaman mengantarkannya menjadi sebuah pemahaman.