Lembaga Biologi molekuler (LBM) Eijkman telah resmi bergabung dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) terhitung sejak 1 September 2021. Kali ini nomenklaturnya berganti menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBME) BRIN.

Hal ini wajar, karena Kemenristek yang menjadi naungan Eijkman selama ini bergabung dengan BRIN bersama lembaga lainnya seperti LIPI, BPPT, BATAN dan LAPAN. Eijkman akan pindah ke kawasan riset Cibinong (Cibinong Science Center), sedangkan gedung lamanya akan digunakan oleh RSCM.

Menurut Laksana Tri Handoko (kepala BRIN), ini merupakan upaya pemerintah dalam melembagakan Eijkman. Karena selama ini Eijkman dianggap hanya sebagai unit proyek dari Kemenristek.

Lebih lanjut kepala BRIN juga menjelaskan bahwa selama 30 tahun Eijkman “tidak baik-baik saja”. Hal ini berkaitan dengan status periset yang ada di tubuh Eijkman. Periset PNS di Eijkman selama ini berstatus sebagai PNS tenaga administrasi. Sedangkan periset non PNS berstatus tenaga honorer.

Eijkman juga menggunakan APBN setiap tahunnya. Namun pengelolaan lembaganya tidak mengikuti aturan lembaga riset lainnya. Kebanyakan orang memang mengetahui Eijkman sebagai lembaga riset swasta, padahal jelas bernaung di bawah Kemenristek.

Agak aneh memang. Lembaga yang dinilai tidak baik-baik saja selama 30 tahun tersebut, nyatanya memberikan banyak kontribusi terhadap riset dan inovasi khususnya di bidang biologi molekuler dan Kesehatan.

Terakhir, Eijkman termasuk yang terdepan dalam hal deteksi dan penelitian Covid-19 serta ikut mengembangkan vaksin merah putih. Sebelumnya (tahun 2004), Eijkman juga pernah membantu mengungkap identitas pelaku bom bunuh diri di depan kedutaan Besar Australia di Jakarta dalam waktu 13 hari.

Kritik

Banyak pihak mengkritisi kebijakan pemerintah terkait peleburan lembaga riset ini. Birokratisasi dianggap dapat mengancam masa depan riset. Hal ini tentu cukup subyektif. Toh nyatanya ada lembaga riset yang tetap produktif di bawah payung birokratisasi, pun sebaliknya.

Eijkman adalah salah satu contoh yang tetap menghasilkan riset produktif diluar birokratisasi. Bahkan Eijkman juga cukup terkenal di level Internasional karena banyak kerjasama riset dengan lembaga-lembaga di luar negeri.

Namun pengalaman penulis ketika menjadi asisten riset di salah satu lembaga, menilai bahwa perlu adanya sistem birokratisasi yang lebih sederhana yang tidak memberatkan periset. Sehingga periset bisa fokus untuk produktif melakukan riset dan tidak diberatkan oleh masalah administrasi lembaga.

Kritik juga muncul, karena kebijakan ini akan berdampak pada ketidakberlanjutan tim riset yang sudah solid sebelumnya di Eijkman. Sebuah tim riset biasanya terdiri dari periset yang berkualifikasi S3, tenaga laboran, teknisi dan asisten periset.

Asisten periset yang merupakan honorer periset non S3 diberikan opsi kebijakan untuk lanjut studi S3 atau menjadi operator alat di laboratorium Cibinong. Tentu ini menjadi opsi yang sulit, apalagi mereka diberikan batasan waktu agar segera mendapat LoA (Letter of Acceptence) bagi yang ingin lanjut S3.

Sedangkan tenaga laboran dan teknisi masuk dalam kategori honorer non periset. Kebijakan yang diberikan adalah diambil alih RSCM. Hal ini sudah pasti akan membuat tim riset tersebut berubah. Perubahan ini harus ditanggapi dengan bijak oleh setiap periset Eijkman di tempat baru.

Kemungkinan terbentuknya tim baru berkolaborasi dengan periset dari LIPI juga terbuka karena bersama dalam satu naungan di bawah BRIN.

Kritik cukup pedas disampaikan oleh Prof Azumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah). Beliau mengutarakan bahwa peleburan Eijkman dan lembaga riset lainnya berpotensi terbawa ke dalam pusaran politik partisan. Hal ini dikarenakan ketua dewan pengarah BRIN merupakan seorang ketua partai politik.

Seharusnya tupoksi tugas dewan pengarah BRIN telah jelas dan tidak dicampuradukan dengan kepentingan politis. Dan itu semua baru bisa dinilai seiring berjalanya BRIN ke depan. Jika riset dan inovasi sudah bernuansa politis maka dapat dipastikan perkembangannya akan berjalan stagnan dan lambat.

Riset harus tetap berlanjut

Saat ini, Pelaksana tugas (Plt) kepala PRBM Eijkman dijabat oleh Dr. Wien Kusharyoto. Beliau merupakan periset dari pusat penelitian bioteknologi LIPI. Meski bukan berasal dari Eijkman, namun kapasitas dan pengalaman beliau cukup mumpuni.

Lulusan S3 Universitas Stuttgart Jerman tersebut menggantikan Prof Amin Soebandrio sebagai kepala Eijkman. Sebelumnya, Dr. Wien merupakan kepala laboratorium rekayasa genetika terapan dan desain protein Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

Seperti yang kita ketahui, LIPI juga ikut mengembangkan penelitian vaksin merah putih Covid-19 berbasis DNA rekombinan yang dipimpin oleh Dr. Wien.

Siapapun yang memimpin PRBM Eijkman ke depan, riset harus tetap berlanjut. Eijkman harusnya tidak perlu pamitan di media sosial. Karena hal ini bukan merupakan akhir dari perjalanan kontribusi riset Eijkman untuk Indonesia dan Dunia.

Eijkman hanya berubah nomenklatur dan berpindah laboratorium baru(Gedung Genomic Cibinong Science Center). Periset utama dari Eijkman masih tetap ada. Tim riset baru harus segera kembali dibentuk dan beradaptasi. Bersama BRIN harusnya ini menjadi episode baru Eijkman untuk terus memberikan kontribusi riset yang lebih luas.

BRIN harus memberikan ruang yang bebas bagi Eijkman untuk pengembangan riset. BRIN harus memberikan dukungan agar Eijkman terus bisa melanjutkan kerjasama riset dengan lembaga riset luar negeri. Pun sama, periset Eijkman di tempat baru harus beradaptasi dengan sistem kelembagaan di BRIN.

BRIN diharapkan dapat membangun budaya riset yang kompetitif, kolaboratif dan berkelanjutan sehingga kelak muncul peraih Nobel dari Indonesia. Majulah riset Indonesia.