Sabtu, 28 Juni 2008, terjadi sebuah penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap seorang pria di suatu desa di Provinsi Bali. Pria tersebut mengalami luka tusuk di bagian perut dan berteriak-teriak minta tolong.

Saat itu saya dan beberapa teman saya sedang berada di dekat lokasi kejadian. Kami dapat mendengar dengan jelas suara teriakan dari sang korban. Kami pun bergegas menuju lokasi kejadian. Pria itu tergeletak sembari memegangi perutnya yang tertusuk sebilah pisau. Darah terus mengucur dari luka tusuk yang dideritanya.

Waktu itu saya masih berusia 14 tahun. Saya masih berstatus sebagai siswa sekolah menengah pertama, sekaligus anggota Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah saya. Kebetulan saya telah mendapatkan pelatihan mengenai pertolongan pertama terhadap luka tusuk sebelumnya.

Oleh karena itu, ketika dihadapkan pada kejadian tersebut, jiwa saya bergetar. Hati kecil saya terus berbisik agar saya segera menolong korban. Inilah saatnya bagi saya untuk memanfaatkan ilmu yang telah saya pelajari sebagai anggota PMR untuk menolong orang lain yang membutuhkan.

Akan tetapi, sekelompok orang yang menusukkan pisau ke perut korban masih berada di dekat korban. Mereka membawa senjata tajam dan mengancam akan menyerang siapa pun yang berani mendekat untuk menolong korban.

Kami kemudian mendekati sekelompok penyerang tersebut. Kami lalu memperkenalkan diri sebagai anggota PMR yang memiliki kompetensi dalam hal pertolongan pertama dan berniat untuk menolong korban. Namun, alih-alih mengizinkan, mereka justru mengancam akan menyerang kami juga. 

Sambil menodongkan pisau ke arah kami, mereka menyuruh kami menjauh. Saat itu juga kami bergerak menjauh. Teman saya lantas menghubungi polisi dan ambulans dan melaporkan apa yang terjadi. Kami tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu bantuan datang.

Namun, waktu terus berjalan, rasa sakit yang diderita korban semakin menjadi-jadi. Korban semakin tidak berdaya. Darah yang keluar dari tubuhnya semakin banyak. Jika tidak segera ditolong, nyawanya bisa melayang.

Saya tidak tahan melihat penderitaan korban. Ditambah lagi, ibu dan adik perempuan korban yang menyusul korban ke tempat kejadian terlihat kebingungan. Mereka menangis meminta tolong kepada orang-orang yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Namun, tidak ada satu pun yang berani mendekat. 

Hingga tibalah ketika ibu korban itu meminta tolong di hadapan saya, saya tidak bisa menahan diri lagi. Tekad saya bulat, saya akan menolong korban, walaupun saya harus berhadapan dengan orang yang lebih dewasa lagi bersenjata tajam.

Ketika para pelaku sedang lengah dan mengalihkan perhatian ke sisi lain, saya pun memberanikan diri untuk berlari ke arah korban. Saat itu, saya sama sekali tidak memikirkan apa pun, kecuali menyelamatkan nyawa korban. Teman-teman saya lantas juga berlari mengikuti saya.

Saya sampai di dekat korban, mengamati lukanya, dan sesegera mungkin memberikan pertolongan pertama semampu yang saya lakukan. Teman-teman saya berdiri di sekitar saya, menjadi perisai antara saya dan korban dengan para pelaku.

Tidak lama kemudian, para pelaku menoleh ke arah korban dan terkejut melihat kami mencoba menolong korban. Dengan amarah yang tinggi, mereka segera berjalan ke arah kami. Sambil menodongkan pisau yang mereka bawa, mereka menyuruh kami menjauh dari korban. Jika tidak, mereka mengancam akan menyerang kami juga.

Namun, teman-teman saya tetap tegar di tempat. Mereka tidak gentar. Mereka menolak untuk menuruti kemauan para pelaku. Semua ini kami lakukan demi berjuang atas nama kemanusiaan.

Sayangnya, para pelaku tidak bermain-main dengan ancaman mereka. Salah satu dari mereka kemudian menangkap salah seorang teman saya dan menyanderanya. Ia meletakkan pisau tepat di depan leher teman saya dan kembali mengancam akan melukainya jika kami tidak segera pergi meninggalkan korban.

Kami kebingungan. Kami ditempatkan pada kondisi yang sulit. Kami ingin menolong korban, tetapi di sisi lain kami juga ingin menyelamatkan teman kami. Tanpa disadari, kami yang pada awalnya hanya ingin menolong korban, justru kini harus berhadapan dengan para pelaku. 

Kami berusaha membela diri, tetapi para pelaku tidak main-main dengan ancamannya. Akhirnya, mereka benar-benar melukai salah satu teman kami.

Untungnya, kejadian itu hanyalah simulasi belaka. Ketika situasi telah berubah menjadi tidak terkendali, para pelaku yang sebenarnya adalah para pelatih kami dalam suatu pelatihan PMR segera menghentikan simulasi. Kami disalahkan karena telah melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri.

Seharusnya, kami tetap tidak melakukan apa pun sembari menunggu pihak kepolisian sampai di lokasi untuk menangani keadaan. Ketika situasi sudah aman, barulah kami melakukan pertolongan pertama. Dalam pertolongan pertama, keselamatan diri adalah yang paling utama.

Saat itu, saya menyadari sesuatu. Pejuang kemanusiaan itu haruslah memiliki sifat egois.

Peran Egoisme dalam Gerakan Kemanusiaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, egois didefinisikan sebagai orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Orang-orang dengan sifat egois cenderung tidak peduli dengan kepentingan orang lain. Mereka hanya bertindak untuk kepentingan diri mereka semata.

Di masyarakat, sifat egois sering kali berkonotasi negatif. Sejak kecil, anak-anak selalu diajarkan bahwa egois merupakan contoh perilaku yang buruk. Oleh karenanya, kita selalu dinasihati untuk membuang jauh-jauh sifat tersebut dari dalam diri kita. Dengan kata lain, kita selalu diajarkan untuk senantiasa mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Padahal, ini tidak selamanya benar.

Ada kalanya kita harus lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain, terutama ketika kita dihadapkan pada situasi di mana nyawa kita akan terancam jika kita lebih mementingkan orang lain daripada diri kita sendiri. Ini adalah hal yang wajar. Walau bagaimanapun, bertahan hidup merupakan naluri dasar yang dimiliki oleh manusia.

Sejatinya, sifat egois ini memiliki peran yang penting dalam bidang kemanusiaan. Setiap relawan kemanusiaan harus menanamkan sifat egois dalam diri mereka. Mereka harus menyadari bahwa diri mereka itu berharga. Tidak sepatutnya mereka membahayakan nyawa mereka hanya untuk menolong orang lain, karena hal tersebut sama saja dengan bunuh diri.

Dalam pertolongan pertama, misalnya, seorang penolong diwajibkan untuk melakukan penilaian keadaan terlebih dahulu sebelum menolong korban. Mereka harus memastikan terlebih dahulu bahwa diri mereka akan tetap aman ketika melakukan pertolongan kepada korban. 

Jika kondisi tidak aman, bagaimanapun kondisi korban, para relawan dianjurkan untuk tidak melakukan pertolongan apa pun sampai situasi benar-benar aman, walaupun hal tersebut bisa berakibat pada terlambatnya pemberian pertolongan kepada korban.

Itulah mengapa dilakukan konvensi antarnegara untuk membentuk organisasi-organisasi kemanusiaan, seperti palang merah, bulan sabit merah, ataupun kristal merah. Konvensi tersebut sejatinya bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada para pejuang kemanusiaan yang netral yang ingin menolong para korban perang di medan perang. 

Dengan adanya konvensi tersebut, kedua kubu yang berperang tidak akan menyerang siapa pun yang menggunakan lambang kemanusiaan tersebut di medan perang sehingga para relawan kemanusiaan akan tetap terlindungi selama melakukan pertolongan kepada korban perang.

Hal yang serupa juga terlihat dalam prosedur penyelamatan untuk keadaan darurat di pesawat. Jika tekanan udara di dalam kabin pesawat berkurang, maka penumpang yang membawa anak diharapkan untuk menggunakan masker oksigen terlebih dahulu sebelum memakaikan masker oksigen ke anaknya. Dengan kata lain, setiap penumpang diharuskan untuk mengutamakan penyelamatan diri mereka terlebih dahulu sebelum membantu menyelamatkan orang lain.

Kedua contoh di atas sudah membuktikan bahwa keselamatan diri sendiri lebih penting daripada keselamatan orang lain, meski orang lain itu adalah orang yang kita sayangi sekalipun.

Lantas, apa yang akan terjadi jika para relawan kemanusiaan tidak memiliki sifat egois dan lebih mementingkan keselamatan orang lain daripada dirinya sendiri? Mari coba kita pikirkan dengan seksama!

Dalam kasus simulasi penusukan yang telah saya ceritakan tadi, terlihat bahwa kondisi pada saat itu sangat membahayakan. Jika para relawan memaksakan diri untuk melawan para pelaku demi menolong korban, maka yang terjadi adalah korban bisa semakin bertambah karena para pelaku juga akan menyerang para relawan. Jika semua relawan yang memiliki kapasitas untuk menolong korban terluka, lalu siapa yang akan menjadi penyelamat?

Akan lebih baik jika para relawan sadar diri bahwa keselamatannya akan terancam jika ia memaksakan diri untuk menolong korban. Solusi paling tepat adalah dengan menghubungi kepolisian dan memanggil ambulans ke tempat kejadian lalu menunggu hingga bantuan datang. Dengan demikian, ada kemungkinan korban akan dapat diselamatkan setelah polisi datang dan berhasil mengamankan keadaan.

Kemungkinan terburuk adalah korban akan meninggal dunia karena terlambat ditangani. Namun, kemungkinan ini lebih baik daripada yang meninggal dunia justru menjadi lebih banyak, yaitu sang korban ditambah dengan para penolong yang membahayakan nyawa mereka sendiri.

Kasus kedua, ketika terjadi keadaan darurat di pesawat, bagaimana jika orangtua lebih mengutamakan keselamatan anaknya daripada dirinya sendiri? Baik lebih mengutamakan dirinya sendiri ataupun lebih mengutamakan anaknya, kemungkinan terburuknya adalah salah satu nyawa akan hilang karena terlambat menggunakan masker oksigen. Namun, mana yang lebih baik selamat? Orangtua ataukah anaknya?

Misalkan saja kondisi darurat berlanjut. Para penumpang diharuskan untuk segera menggunakan pelampung yang tersedia di bawah kursi masing-masing. Terlambat sedikit saja akan berakibat fatal. 

Ketika sang orangtua masih hidup, ia kemungkinan besar masih akan dapat memakai pelampung untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, jika yang masih hidup adalah sang anak yang belum mampu menggunakan pelampungnya sendiri, ia mungkin akan terlambat mengenakan pelampung dan pada akhirnya bisa menjadi korban tambahan menyusul orangtuanya. Dengan demikian, usaha orangtuanya untuk menyelamatkan sang anak akan terasa sia-sia.

Memaknai Egoisme dalam Panggilan Kemanusiaan

Pada dasarnya, sifat egoisme merupakan sifat alamiah yang dimiliki oleh siapa pun. Setiap makhluk hidup memiliki naluri untuk bertahan hidup ketika ada sesuatu yang mengancam keselamatan mereka. Begitu pula dengan manusia, adalah hal yang wajar ketika seseorang lebih mengutamakan keselamatan dirinya daripada keselamatan orang lain ketika berada di dalam situasi bahaya.

Secara umum, mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi, apalagi menyangkut nyawa, adalah sikap yang kurang tepat. Lebih tepat jika yang lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi adalah kepentingan bersama, bukan kepentingan orang lain.

Mengutamakan kepentingan bersama artinya menggabungkan antara mengutamakan kepentingan pribadi dan juga kepentingan orang lain. Dengan kata lain, ketika seseorang telah memenuhi kepentingan pribadinya, ia juga akan berusaha memenuhi kepentingan orang lain. 

Bukan mengutamakan kepentingan bersama namanya jika setelah ia memenuhi kepentingan pribadinya, ia tidak peduli dengan kepentingan orang lain. Kasus yang demikian menunjukkan bahwa sifat egoisme yang ia miliki melebihi sifat kemanusiaan yang ia punya.

Egoisme dan kemanusiaan harus berjalan beriringan satu dengan yang lainnya. Sifat kemanusiaan adalah motor penggerak dalam kehidupan sosial manusia, sedangkan sifat egoisme adalah rem yang menjadi pencegah bagi seorang manusia untuk tidak memasuki zona yang membahayakan nyawanya. Akan tetapi, ketika rem tidak diperlukan, atau kondisi dalam keadaan aman, maka sifat kemanusiaan akan menggerakkan manusia untuk saling tolong-menolong satu sama lain.

Pada hakikatnya, manusia itu butuh untuk menolong orang lain. Ada kepuasan tersendiri ketika seorang manusia dapat memberikan manfaat dan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan.

Para relawan kemanusiaan yang sudah sering terjun membantu para korban bencana pasti akan merasa terpanggil ketika mendengar adanya bencana yang menimpa saudara-saudara mereka. Bagi mereka, menolong orang lain telah menjadi suatu kepentingan pribadi. Lalu, dengan keegoisannya untuk memenuhi kepentingannya itu, mereka pun menjadi relawan untuk membantu para korban bencana.

Hal yang sama juga dialami oleh para donor darah sukarelawan. Menyumbangkan darah yang mereka punya untuk orang lain yang membutuhkan telah menjadi kepentingan pribadi mereka. Dengan keegoisan yang mereka miliki, mereka akan berusaha untuk memenuhi kepentingan pribadi mereka itu dengan mendonorkan darahnya secara rutin.

Abraham Maslow mengemukakan sebuah teori mengenai hierarki kebutuhan manusia yang diilustrasikan dalam bentuk piramida kebutuhan. Dalam piramida kebutuhan tersebut, seorang manusia memiliki berbagai tingkat kebutuhan dasar, yang mana ada kebutuhan yang lebih diutamakan daripada kebutuhan lainnya.

Terdapat lima tingkatan kebutuhan dasar manusia menurut Maslow. Tingkatan-tingkatan kebutuhan tersebut antara lain kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.

Manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang paling dasar terlebih dahulu sebelum berusaha untuk memenuhi tingkatan kebutuhan berikutnya. Dengan kata lain, setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, barulah manusia akan berusaha memenuhi kebutuhannya akan rasa aman. Begitu seterusnya hingga ketika kebutuhan akan penghargaannya telah terpenuhi, manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya akan aktualisasi diri.

Perhatikan bahwa kebutuhan akan rasa aman lebih diutamakan daripada kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang atau kebutuhan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa manusia cenderung memang akan berusaha untuk menyelamatkan diri mereka sendiri terlebih dahulu daripada menolong orang lain.

Akan tetapi, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang juga merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Manusia yang egois akan selalu terpanggil untuk membantu orang lain ketika ia telah berhasil memenuhi kebutuhan fisiologisnya dan berada dalam situasi yang aman.

Orang-orang yang menolak untuk menolong sesamanya ketika kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa amannya telah terpenuhi, pada dasarnya bukanlah orang yang egois. Mereka tidak memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka pada hakikatnya tidak mementingkan diri mereka sendiri.

Sementara itu, mereka yang dengan cepat dan tanggap segera menjawab panggilan kemanusiaan, baik dengan tenaga, harta, ataupun hanya dengan setetes darah, mereka sejatinya adalah orang yang egois. Mereka tahu bahwa mereka perlu untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. 

Daripada menyuruh orang lain untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, mereka lebih mengutamakan diri mereka sendiri untuk berdiri di garda terdepan dalam rangka memberikan bantuan yang mereka bisa. Mereka adalah orang yang egois, yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain.

Kesimpulannya, sifat egoisme harus senantiasa kita bawa ketika menjawab berbagai panggilan kemanusiaan. Kita harus memenuhi kebutuhan fisiologis kita terlebih dahulu sebelum berangkat menolong korban. Kita harus memastikan bahwa kita mampu secara fisik untuk ikut membantu. Jangan sampai kita justru menambah beban sukarelawan lainnya dengan menjadi korban tambahan akibat tidak memerhatikan kondisi diri kita sendiri.

Kemudian, kita harus memenuhi kebutuhan kita akan rasa aman. Kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa kita akan berada dalam situasi yang aman ketika akan menolong korban. Setelah itu, barulah kita segera menolong korban semampu kita, untuk memenuhi kebutuhan kita akan rasa memiliki dan kasih sayang.

Ingatlah bahwa manusia adalah makhluk sosial. Mereka butuh untuk berinteraksi dengan orang lain. Dan lebih daripada itu, mereka juga butuh untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Hal itu penting bagi kelangsungan hidup manusia. Jawablah panggilan kemanusiaan dengan egoisme yang kita punya!