Pada Sabtu, 10 Juli 2021 saya mengikuti forum diskusi virtual yang diadakan oleh Remotivi. Dalam forum tersebut diluncurkan sebuah hasil riset studi mengenai 'Persepsi dan Ketertarikan Mahasiswa/i untuk Bekerja di Industri Pers'. 

Mengapa Ada Banyak Mahasiswi Jurnalistik Tetapi Hanya Sedikit Jurnalis Perempuan?

Narasi di atas merupakan tema yang menjadi pembahasan pokok dan sangat menarik untuk saya tulis, karena saya sendiri adalah Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam yang tentu sedikit banyak mempelajari tentang dunia Jurnalistik. 

Tapi sebelum lebih lanjut, perlu saya tekankan bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan media tertentu. Sebagai pembelajar, saya senang membagikan hal-hal yang mengedukasi, bertukar gagasan (bagaimanapun bentuknya) baik soal pengalaman atau topik beragam lainya yang tentu bermanfaat. 

Oke, masuk ke pembahasan. Apa itu efikasi diri? Kata 'efikasi' dalam KBBI diartikan; kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan. Sedangkan 'efikasi diri' lebih merujuk pada kepercayaan diri seseorang (individu) mengenai kemampuannya untuk mencapai sesuatu. 

Efikasi diri menurut Santrock (2007) adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan. (Dilansir dari Wikipedia)

Lalu apa hubungannya efikasi diri dengan pemilihan karir? Mengapa efikasi diri mempengaruhi perempuan dalam memilih karir?

Jawaban akan saya fokuskan pada sampel mahasiswa/i Jurnalistik, tetapi bisa digeneralkan juga semisal kalian bukan mahasiswa Jurnalistik. Diingat saja kuncinya, ini sedang membahas pengaruh efikasi diri.

**

Paparan dalam riset yang diluncurkan Remotivi menyebutkan bahwa jumlah total Jurnalis di Indonesia mencapai 14.000 orang dan dari jumlah tersebut hanya 1.400 (10%) yang merupakan Jurnalis perempuan. Padahal jumlah Mahasiswi di Program Studi Jurnalistik lebih dominan dibanding laki-laki.

Hasil riset kolaborasi dengan 4 Universitas, jumlah dominasi mahasiswi Jurnalistik:

1. Universitas Diponegoro 64,42%

2. Universitas Padjadjaran 66,67%

3. Universitas Indonesia 86,67%

4. Universitas Gadjah Mada 77,78%

Lalu kenapa prosentase minat tersebut menurun? Bisa diibaratkan, hanya ada 2 dari 10 perempuan  yang berprofesi menjadi Jurnalis. 

Pertama-tama kita tidak bisa pungkiri bahwa representasi perempuan di media itu bermasalah. Setuju atau tidak, perempuan cenderung dijadikan objek visual dan keterlibatan perempuan dalam konstruksi media itu bisa dihitung jari (tidak mendominasi maksudnya), kultur patriarkal memang masih mengakar.

Sedikit saya singgung soal Property Masculinity, adanya pengkotakan antara profesi maskulin dan feminim. Coba perhatikan profesi seperti Polisi, TNI, Pilot, Driver hingga Jurnalis didominasi oleh laki-laki. Di Daerah saya, Jurnalis perempuan sangat terhitung dan tidak lebih dari 5. Hmm

Profesi Jurnalis juga memiliki pola maskulin seperti harus siap sedia waktu, pikiran, tenaga dalam 24 jam misal. Belum lagi Jurnalis lapangan yang menghadapi banyak hal-hal beresiko. 

Meskipun banyak yang menggaungkan bahwa laki-laki dan perempuan sudah disamaratakan, tetapi tetap saja butuh upaya ekstra bagi para perempuan untuk memasuki ruang-ruang dominasi tersebut. 

Kembali ke riset, ada 2 variabel yang menentukan putusan perempuan dalam memilih karir, yakni; ekspektasi hasil (soal gaji dan kepastian kerja) dan efikasi diri (perasaan mampu atau tidaknya perempuan tersebut).

Garis bawahi variabel ke 2. Jika dibedah lagi, efikasi diri ini meliputi dua hal, yaitu; pengalaman belajar dan kompetensi. 

Ada perbedaan signifikan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan cenderung mempertimbangkan pengalaman belajar dan kompetensi mereka untuk memilih karir, sedangkan laki-laki cenderung tidak.

Perempuan: "Saya mampu gak ya kalau jadi Jurnalis? saya kompeten gak ya?".

Laki-laki :"Mau gua kompeten mau enggak, gua mampu". Ini masih bagian dari hasil riset lho, begitu mungkin kalau dialihkan pakai gaya bahasa saya. Silahkan di-judge! hihi

Tapi satu hal yang pasti, tentu saja faktor kepercayaan diri ini lahir dari sebuah konstruksi dan juga kultur. Meskipun banyak juga fakta yang berkebalikan, kita sama-sama tahu bahwa dunia telah mengkonstruksi laki-laki dan perempuan sedemikian rupa.  

**

Pembahasan yang cukup tricky memang. Begini simpelnya, efikasi diri mempengaruhi perempuan dalam memilih karir karena ada kultur dominasi yang harus perempuan hadapi. 

Seringkali perempuan merasa ragu akan kemampuannya sendiri. Meski banyak perempuan hebat yang melawan arus, tidak sedikit juga perempuan banting setir dan memilih profesi yang tidak linear dengan minat awalnya.

Karena perempuan perlu struggle ketika masuk ke wilayah yang didominasi laki-laki. Pemahaman adil gender diperlukan disini, kita (utamanya perempuan) sangat mendambakan ruang yang ramah gender. 

Ini adalah PR kita bersama, baik laki-laki maupun perempuan (dari berbagai profesi). Kita harus memiliki perspektif gender yang baik. Kita para perempuan harus berani melibatkan diri dalam banyak hal, ruang seperti apa yang perempuan butuhkan? Kita yang tahu itu, kita harus terlibat dalam menciptakannya.

Bicara Keresahan dan Problem Kepercayaan Diri Perempuan

Dear Perempuan

Saya mengajak kalian untuk refleksi diri, mengingat hal-hal kecil yang sering kita temui. Mungkin tidak semua mengalami problem ini, tapi sebagian besar akan merasa tidak asing.

Pernahkan kalian dalam forum diskusi merasa tidak percaya diri untuk speak up? Apalagi ketika forum didominasi oleh laki-laki, dalam benak terus mempertanyakan 'apakah gagasan saya layak untuk disuarakan?'

Atau mungkin ketika ada pembahasan isu, kalian merasa tidak mengerti dan kurang peka terhadap isu tersebut. Lalu menginferiorkan diri, diam dan tidak percaya diri. Pernah seperti itu?

Tidak lama, pemantik memancing "suara perempuan mana? Perempuan banyak, tapi kok gak ada yang bersuara" dan kita semakin diam, meskipun geram. 

Disaat seperti itu, seringkali kita berfikir dan mengafirmasi bahwa laki-laki lebih kritis dibanding perempuan. Bukan begitu?

Sadar atau tidak, kita telah masuk dalam kultur diskriminasi yang menginferiorkan perempuan dalam segi intelektual (kecakapan). Meskipun beribu kali perempuan seolah diberi ruang, pada nyatanya mata-mata diskriminatif itu menyampaikan keraguan. Lalu kita? Malah mengafirmasi dengan semakin diam?

Tapi tidak perlu disalahkan, kultur itu sudah mengakar dan menjadi natural, banyak juga yang tidak menyadari dimana sisi diskriminatifnya (hayu ngopi). Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain harus memandang kita. Namun kita bisa membentuk diri dan memberikan pembuktian.

Teruntuk kalian yang masih merasakan keresahan ini, yang perlu kita lakukan sekarang adalah membangun kepercayaan diri. 

Bangun mindset; kita cakap, kita hebat, kita juga makhluk intelektual bukan objek visual, kita bisa mempelajari dan melakukan banyak hal yang kita mau, kita sama berharganya dengan orang lain, jangan mengkerdilkan diri ya, cobalah untuk mempercayai diri sendiri. 

Dimanapun kalian berpijak, apapun profesi (peran) kalian minumnya teh botol sosro tetaplah percaya diri, tetap kokoh dengan pilihan sendiri. Mari bergabung dengan jejak perempuan-perempuan hebat yang berani melawan arus konstruksi.

Ini bukan tulisan provokasi, tidak perlu menyalahkan keadaan apalagi sampai benci laki-laki. Kita bisa berdaya dengan cara masing-masing, sangat bisa!

~Semangat berdaya.