Memasuki penghujung tahun 2018, biasanya masyarakat mulai mempersiapkan segala macam hal untuk merayakan puncak malam pergantian tahun, mulai dari masyarakat biasa hingga jajaran pemerintahan.

Persiapan tersebut tentu bukanlah sesuatu yang baru atau terkesan mendadak karena perayaan semacam ini terus dilakukan setiap tahunnya. Mulai dari persiapan pesta kembang api, panggung hiburan, dan bahkan persiapan mengatasi masalah sampah yang diakibatkan oleh perayaan pergantian malam tahun baru tersebut.

Dalam hal ini, sampah menjadi hal penting di mata pemerintah, pasalnya produksi sampah bisa mencapai puluhan ton sampah dalam waktu kurang dari satu malam. Apalagi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, produksi sampahnya bisa mencapai ratusan ton sampah.

Perayaan malam tahun baru 2018 di Ibu Kota misalnya, produksi sampah mencapai 780 ton. Tentu hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah, sebab masalah sampah merupakan cermin budaya bangsa.

Terlepas dari itu, momen tahun baru ini juga harus bisa dijadikan bahan instrospeksi diri, mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukan dan dicapai pada tahun 2018, meninggalkan yang buruk. Kemudian, membuat rencana yang hendak dilakukan pada tahun 2019 dan melanjutkan hal yang baik menjadi lebih baik lagi.

Pun demikian dengan pemerintah DKI Jakarta, yang mulai terlihat berbenah dalam mengatasi masalah sampah. Hal itu bisa dilihat dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang akan menyediakan 2.000 tempat sampah tambahan di sejumlah tempat keramaian pada malam pergantian tahun baru 2019.

Melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Isnawa Adji sebagaimana dimuat news.trubus.id pada Senin (17/12) mengatakan “Menjelang pergantian tahun, kami akan menugaskan tim sosialisasi untuk turun membagikan kantung-kantung sampah. Kami juga menempatkan sekitar 2.000 tempat sampah tambahan yang akan ditaruh di tempat keramaian”

Pernyataan tersebut tentu menarik untuk direalisasikan, mengingat volume sampah yang semakin membludak. Peryataan tersebut juga mengingatkan kita dengan adanya gerakan ‘zero waste’ yang benar-benar harus segera direalisasikan untuk menjaga masa depan ekosistem kita.

Pasalnya berbagai peristiwa yang diakibatkan oleh sampah pun begitu banyak terjadi di Indonesia. Kita tahu pada tahun 2005 silam, akibat buruknya sistem pengelolaan sampah menyebabkan gas metan di dalam gunungan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Leuwigajah meledak, mengakibatkan 150 orang meninggal dunia dan perkampungan yang ada di sekitarnya rusak parah.

Dengan adanya gerakan ‘zero waste’, banyak orang yang beranggapan bahwa kita tidak mungkin bisa hidup tanpa membuat sampah dalam sehari. Anggapan itu memang bisa penulis benarkan, terlebih di era ini memang sulit untuk tidak membuat sampah, mengingat dimanapun kita berada atau berbelanja, baik itu berupa sayur maupun makanan, semua bungkusnya berupa kertas atau plastik yang sekali pakai.

Zero waste sendiri merupakan filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus hidup sumber daya sehingga produk-produk bisa digunakan kembali. Zero waste ini juga dikenal sebagai gerakan yang menjauhi single use plastic agar sampah yang dibuang ke landfill tidak terlalu munggunung.

Gerakan Zero waste dimulai dari “Refuse, Reduce, dan Reuse” atau dalam Bahasa Indonesia “Menolak, Mengurangi, dan Menggunakan Kembali”. Ketika 3 hal tersebut sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan Recycle (daur ulang) dan Rot (membusukkan).

Hal ini sejalan dengan Bea Johnson dari Zero Waste Home yang mempopulerkan gerakan 5R, yaitu: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot. 5R ini harus menjadi pegangan kita dalam menggerakkan gaya hidup tanpa sampah sehingga kita dapat menciptakan lebih sedikit sampah dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.

Upaya Pemprov DKI Jakarta di atas tentu bermuara pada tujuan yang baik. namun ada beberapa pertimbangan dalam menggerakkan gerakan zero waste.

Pertama, pembagian kantung-kantung sampah. pembagian ini seakan menimbulkan tanda tanya, alih-alih bertujuan agar proses membersihkannya menjadi lebih mudah. Namun pembagian kantung- kantung sampah ini justru menimbulkan masalah baru, karena jumlah sampah setidaknya bertambah 2.000 sampah yang berupa kantung tersebut.

Kedua, apakah dengan pembagian kantung tersebut bisa merubah pola pikir masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan. Jika bisa tentu sangat perlu dibudayakan kebiasaan yang seperti ini. Namun jika tidak, maka petugas kebersihan lah yang lagi-lagi menjadi aktor utama dalam membersihkan kota.

Tentu tidak ada yang sempurna dari masifnya gerakan zero waste ini. Namun ketidaksempurnaan ini janganlah dibuat alasan untuk kita tidak turut serta memulai dan melakukan gerakan zero waste. Gerakan hidup tanpa sampah sangat bisa dilakukan selama kita mempunyai komitmen yang kuat untuk melakukan dan kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan kita.

Bumi hanya satu dan kita semua sangat bergantung pada bumi ini. Jika tidak bisa menjaga kelestarian bumi ini dan justru malah merusaknya. Lantas bagaimana dengan anak cucu kita nanti yang akan menempati bumi yang sudah rusak ini?.

Pada akhirnya, gerakan zero waste ini tidak akan bisa berhasil apabila kesadaran masyarakat akan zero waste masih dalam kadar pengetahuan tanpa tindakan yang nyata. So, gerakan zero waste di tahun baru ini apakah bisa efektif?

Selamat tahun baru 2019