Saya dan salah satu teman asal alumni UGM sama-sama pembaca akut. Bedanya, jika saya harus menghabiskan banyak uang, mungkin kisaran lima ratus ribu setiap bulannya, untuk dapat mengonsumsi beberapa buah buku, dia tidak perlu berbuat sebodoh itu untuk menghambur-hamburkan uangnya. 

Ini karena dia telah terbiasa membaca via e-book yang didapatnya secara cuma-cuma di berbagai website yang secara senang hati membagikan bacaan gratis, terutama dari libgen, sebuah mesin pencari artikel ilmiah dan buku yang menggratiskan akses ke konten berbayar.

Meskipun masih dirundung kontroversi seputar legalitas bukunya (bajakan?), tetapi saya yakin bahwa beberapa tahun mendatang masyarakat abad 21 makin menuntut kebebasan akses informasi, seperti yang pernah disuarakan oleh Aaron Swartz. 

Ia percaya bahwa informasi pada hakikatnya ingin bebas di mana ide-ide bukanlah milik orang-orang yang menciptakannya, dan bahwa memenjara data dan membebaninya dengan biaya tertentu adalah suatu kesalahan. (Uraian lebih lanjut seputar pentingnya membebaskan data atau informasi dapat dibaca dalam buku Homo Deus karangan Yuval Noah Harari).

Nah, persoalannya, saya dan banyak pembaca buku, khususnya di Indonesia, termasuk manusia yang belum bisa move on dari buku fisik, padahal sudah jelas bahwa penggunaan e-book jauh lebih ekonomis.

Makanya saya merasa aneh melihat fenomena industri penerbitan buku (fisik) di Indonesia yang bukannya gulung tikar malah makin menjamur walaupun saat ini mereka telah hampir sepenuhnya berpikir pragmatis-materialis; tidak mengapa mencetak buku fisik selama penulisnya memiliki followers yang banyak dan probabilitas pasar yang luas (soal kualitas isi adalah nomor sekian).  

Betapapun uniknya fenomena ini di Indonesia, sesuatu yang mungkin tidak terjadi di negara lain, saya kira sudah saatnya kita perlu memiliki kesadaran moral global, khususnya berkenaan persoalan lingkungan yang efek-efeknya sudah tidak dapat dibantah lagi.

Dengan demikian, peralihan konsumsi bacaan dari berbahan kertas (cetak) menuju elektronik (e-book) adalah sebuah keharusan. Industi percetakan, dalam hal ini setidaknya yang digunakan untuk membuat sebuah buku, sebagaimana aspek-aspek lain yang mengalami perubahan menuju era digital, tidak bisa terlepas darinya, sesuatu yang alamiah dan tidak perlu ditakuti. 

Sebab, pada prinsipnya, yang perlu kita lindungi adalah manusia, bukan pekerjaannya. Kita bisa melihat ketidak-terelakkan peralihan dari transportasi konvensional menuju transportasi online sebagai contohnya.

Jangan Cari-Cari Alasan

Ada sebagian kalangan yang mencoba untuk menghambat laju perubahan ini. Salah satunya adalah senior saya sewaktu kuliah dahulu, Gelar Riksa Abdillah

Dalam artikelnya yang dimuat oleh Qureta berjudul Dunia Digital Adalah Fana, Kertas Abadi, dia mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga alasan mengapa kertas masih akan terus bertahan, alih-alih beralih ke penggunaan media berbasis teknologi termasuk e-book.

Pertama, menurutnya, seseorang yang menggunakan media kertas untuk menulis akan memiliki daya serap yang lebih baik daripada jika dia mengetik informasi tersebut di gawainya. Ini karena otak dimungkinkan untuk menerima umpan balik dari setiap tindakan motorik seseorang yang kadarnya jauh lebih kompleks daripada mengetik di laptop.

Pertanyaannya adalah umpan balik kompleks yang bagaimana sehingga dapat membedakan kualitas penyerapan informasi antara kertas-pensil dan gawai? 

Terlebih gawai kita saat ini sudah dilengkapi dengan seperangkat aplikasi atau hardware supercanggih yang memungkinkan kita untuk dapat menulis apa pun dengan cara apa pun yang kita suka, termasuk cara-cara konvensional seperti menulis menggunakan pensil (Samsung Galaxy Note, dll).

Alasan kedua ialah karena masih banyak para pencinta buku dengan segala dalih estetikanya. Ini bisa benar dalam arti bahwa buku akan tetap eksis berdampingan dengan e-book, tetapi mereka hanya menjadi wujud minoritas yang bahkan mungkin fungsinya sudah beralih sekadar koleksi sejarah yang dimuseumkan, bukan untuk konsumsi informasi.

Adapun berkaitan dengan estetika yang diagung-agungkan oleh para pencinta buku, mulai dari mencium wangi harum tertentu yang terdapat di lembaran-lembaran kertas, melakukan aktivitas inventarisasi, memberi tanda halaman, men-highlight kalimat tertentu, hingga bebersih rutinan di kala debu mulai menempel.

Saya kira, ini, kalaupun disenangi oleh kalangan tradisionalis—dan boleh saja untuk dihargai—adalah “budaya” atau “mitos” sosial yang tentu saja akan sangat bisa berubah ketika zaman menuntut hal tersebut. 

Tanpa perlu mengorbankan sisi-sisi estetika, kita tetap bisa menciptakan keindahan dan kenikmatan subjektif baru dalam naungan basis digital. Apalagi kita tidak tahu, e-book sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang yang tentu sudah makin canggih dan disempurnakan.

Alasan terakhir, yang sebenarnya juga bersifat subjektif, adalah karena ketidaknyamanan membaca di layar yang menyebabkan mata sakit atau pegal-pegal akibat pancaran radiasi. 

Untuk keberatan ini, sebenarnya sudah bisa diantisipasi dengan berbagai cara, seperti menjaga jarak pandang, mengatur kecerahan layar, memasang filter, hingga menggunakan monitor LED. Padahal membaca buku fisik pun tak menjamin lebih sehat, apalagi jika kita tidak memerhatikan posisi-posisi yang benar. Konon mengapa Gus Dur tuna netra pun dikarenakan seringnya ia membaca buku (fisik).  

Sebagai penutup, rasanya cocok sekali kutipan ini yang menggambarkan paradigma manusia modern, “Sulit dibayangkan di zaman sekarang mengapa seseorang masih mau mengonsumsi sesuatu [buku fisik] yang membutuhkan tempat, mengirim sesuatu yang berat, sulit dikirim, dan tidak dapat diubah/disesuaikan.” So, welcome to digital era!