Seksisme mungkin merupakan istilah yang jarang didengar kaum awam, namun yang pasti hal ini terjadi dan dialami di kehidupan sehari-hari. Seksisme sendiri secara umum sama seperti rasisme namun seksisme merujuk kepada diskriminasi atau perlakuan yang berbeda terhadap salah satu jenis kelamin. Yang sangat disayangkan adalah fakta tak terbantahkan bahwa seksisme itu sudah diajarkan sejak kita masih kecil. Di Indonesia budaya patriaki sangatlah kuat dan kental sehingga seksismepun menjadi sangat sulit untuk dihilangkan.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk perempuan meski diskriminasi lebih cenderung terlihat di alami kaum perempuan. Misalnya, perempuan tidak perlu menjadi pemimpin karena yang pantas adalah laki-laki, perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena ketika berkeluarga hanya akan menjadi ibu rumah tangga, dan lain-lain. Namun, bagaimana jika situasinya kita putar?

Sebagai contoh, dalam sebuah keluarga hanya ada satu orang laki-laki, yang lain adalah ibu dan kakak perempuannya. Karena terbiasa bergaul dengan perempuan dia menjadi kemayu, ketika disekolah dia di gertak siswa laki-laki lain dan langsung menangis pasti dia pun di ejek dengan kata "ih, cengeng kaya cewek lu. Baru digituin aja nangis". Ini juga seksisme, karena sebagai seorang lelaki dia diharapkan untuk menjadi manusia yang tidak mengekspresikan emosinya dengan mudah.

Berbeda dengan perempuan yang dianggap wajar untuk menangis ketika berada di situasi yang sama dengan laki-laki tadi, jadi intinya laki-laki ataupun perempuan, keduanya mengalami diskriminasi ini setiap hari dan bahkan dianggap sebagai suatu hal yang wajar.

Beberapa hari lalu, saya sempat membaca kultwit dari akun @glrhn yang isinya sangat menarik dalam membahas isu seksisme. Awalnya beliau membuat polling di twitter dengan judul "Salahkah anak lelaki bermain masak-masakan?" yang menjawab salah ada 7%, tak salah 75% dan no comment 18%.

Bagi beliau, 7% atau 23 orang itu telah menggambarkan bahwa perilaku seksis memang ditanamkan di keluarga padahal mainan anak itu seharusnya bersifat gender-neutral. Kedua anak laki-laki beliau bermain masak-masakan dan boneka bayi, hal yang bagi masyarakat pada umumnya anggap sebagai mainan anak perempuan dan mereka lupa bahwa koki terkenal dunia banyak yang berjenis kelamin laki-laki.

Sebut saja Gordon Ramsay, Chef Juna dan Chef Arnold. Mereka juga lupa kalau suatu hari laki-laki akan menjadi seorang ayah, paman atau abang yang harus tahu bagaimana cara merawat bayi ketika keluarga ingin menitip bayinya atau untuk kemungkinan lainnya.

Dari kultwit singkat namun sangat bermanfaat itu saya rasa kita harus setuju bahwa untuk menghilangkan sifat diskriminatif ini harus dimulai dari keluarga namun menyadari kalau tidak semua keluarga memiliki pola pikir yang demikian maka sifat anti-seksisme harus diajarkan dalam pendidikan formal, yakni sekolah.

Menghapuskan seksisme dari pendidikan memang terdengar sulit namun tidak mustahil dan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana. Salah satu sikap seksis yang sangat mainstream dalam bersekolah adalah saat piket dimana siswa laki-laki cukup mengangkat kursi diatas meja dan menghapus papan tulis jika kotor sedangkan menyapu adalah tugas siswa perempuan.

Jika tenaga pengajar yang ada sudah dipersiapkan atau minimal memiliki kesadaran tentang seksisme tentu generasi seksis akan berkurang. Mengutip istilah dari Paulo Freire, pendidikan kita adalah pendidikan gaya bank, disebut demikian karena dalam belajar guru memindahkan pengetahuan dan rumusnya pada anak didiknya tanpa memberi pengertian lebih lanjut.

Sama seperti perilaku seksis, perempuan akan disuruh menjadi sekretaris, bendahara dan tukang sapu saat piket tanpa diberi penjelasan lebih lanjut mengapa dia harus begitu sehingga perempuan menghabiskan seluruh hidupnya dengan pola pikir bahwa itulah posisi yang pantas baginya, bagi seorang perempuan. Dan laki-laki, akan menjalani hidupnya dengan menganggap bahwa dialah yang berkuasa, dialah sang pemimpin.

Satu-satunya cara yang wajar untuk meminimalisir seksisme di bidang pendidikan untuk saat ini adalah dengan mengangkat isu itu lagi. Karena ketika orang-orang sadar bahwa dirinya sedang tertindas pasti akan ada keinginan untuk melawan. Itu sudah jadi naluri manusia. Revolusi Perancis, Revolusi Rusia, Kebangkitan Nasional itu semua terjadi karena mereka sadar, mereka telah mengalami ketidakadilan yang harus diakhiri.

Selanjutnya, mengapa isu seksisme itu penting sehingga harus diangkat lagi? Apakah ada keuntungannya? Seksisme hanya satu kata, namun dunia tanpa kata itu akan menjadi sangat berbeda. Tanpa diskriminasi jenis kelamin, jelas akan banyak perempuan dan laki-laki yang tidak akan ditindas karena masalah gender lagi.

Tidak ada objektifikasi perempuan 'permen yang dikerumuni lalat' karena dia memakai pakaian terbuka dan perempuan 'permen yang terbungkus rapat' hanya karena dia tertutup. Tidak ada lagi istilah bencong dan banci bagi laki-laki yang mudah mengekspresikan emosinya.

Dalam bidang politik, perempuan tidak perlu takut didemo karena dianggap tidak sanggup dan tidak pantas memimpin, dalam bidang pendidikan laki-laki dan perempuan dapat bersaing menjadi ketua, wakil ketua, bendahara ataupun sekretaris karena kemampuannya, bukan karena jenis kelaminnya, perempuan dapat mendapatkan pendidikan setinggi tingginya tanpa harus takut susah mendapatkan pasangan karena laki-laki tidak suka perempuan yang lebih 'hebat' darinya, dalam bidang seni laki-laki dapat memutuskan untuk menjadi seorang penari tanpa harus takut keluarganya berkata "menari itu pantasnya dilakukan perempuan!". 

Dalam bidang olahraga anak perempuan dan anak laki-laki dapat bermain sepakbola bersama secara sportif tanpa orangtua sang anak perempuan harus menggerutu "mengapa memainkan permainan lelaki?". Betapa indahnya dunia tanpa seksisme. Mari kita lawan!