Sebagai warga Negara yang kini berprofesi sebagai Petani kentang di Lereng Dieng, kehidupan ini cukup membuatku bahagia. Saya mungkin memiliki nasib yang serupa dengan warga Negara lain yang dikecewakan oleh pasal  28 C (1) dimana katanya setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan bla…bla..bla..nyatanya kini saya berteman dengan Pacul dan harus tersenyum ramah setiap pagi kepada ulat daun yang menjadi hama tanaman kentang tercinta. Tapi maaf saya bukan tipe orang yang lantas menyalahkan Pemerintah atas nasib saya, karena saya tani dan setiap petani memunyai prinsip legowo, nerimo opo anane.

Namun dimasa yang modern ini dimana semua opini masa “ciyeeee bahasanya” selalu berhubungan erat dengan internet yang kata mas Usman Hamid dalam bukunya yang berjudul Dinamo “Internet punya pengaruh yang kuat terhadap perubahan di sekitar kita” lho kok tani baca buku?

Mungkin tulisan ini terkesan sombong atau gimana, tak apalah biar cepet tenar kaya Kak Jonru hehehe. Saya merasa bangga kepada diri sendiri karena diantara sekian juta petani di negeri ini atau mungin diantara sekian juta petani di Lereng Dieng saya menjadi satu dari sekian petani yang masih punya hobi membaca buku, bukan hanya buku tapi juga tulisan yang tersebar di media sosial dan portal berita online lain, duh sok intetelk banget bahasanya.

Di zaman yang serba modern ini saya yang tani juga punya Fecebook, punya Twitter, tapi belum punya IG karena nanti bingung mau posting foto apa. Dan yang membuat saya bangga adalah di Facebook saya banyak berteman dengan penulis-penulis terkenal di Twitter juga banyak memfollow akun penulis dan orang-orang penting, di Fecebook misalnya ada Mas Aguk Irawan MN, Mas Arafat Nur, Mas Edi Mulyono, Mas Kukuh Purwanto, Mas Zen RS, Mas Gunawan Tri Atmojo, Mas Eko Triono, Mas Haris Priyatna, Mas Hendri Teja, Mbak Abidah El-Khalieqy dan yang membuat saya sedih adalah Mas Rusdi Mathari (Cak Rusdi) yang belum membuka hatinya  untuk mengkonfirm pertemanan saya di Fecebook, semoga tuhan membukakan hati beliau sehingga mau meluangkan beberapa detik waktunya untuk mengklik tombol konfirmasi di Fecebooknya.

Entah kenapa saya begitu bangga bisa berteman dengan para penulis hebat di Facebook, dan juga memfollow di Twitter meskipun saya “belum” bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan mereka beliau-beliau “pahlawan literasi” ini. Setelah saya pikir ternyata saya jatuh cinta dengan tulisan mereka, ya iyalah secara mereka kan penulis masa iya saya jatuh cinta sama piaraan penulis.         

Cak Rusdi mungkin tidak pernah tau bahwa di Dataran tinggi Dieng ini ada satu petani yang selalu menganggap Cak Dlohom itu lebih keren daripada Supermen atau Betmen atau Iron Man, atau Captain America, meskipun itu tokoh fiksi rekaan Cak Rusdi tapi baginya Cak Dlohom begitu nyata dan sangat hidup di bulan Ramadhan lalu, pesanya benar-benar merasuk ke sanubariku.

Cak Rusdi juga harus betanggung jawab soalnya petani yang hobi membaca ini dan hidupnya pas-pasan harus tidur dengan membawa sejuta kegelisahan karena rasa penasaran yang akut terhadap isi buku Aleppo buku terbaru beliau yang terbit belum lama ini namun tak kunjug bisa diraih karena kadang bagi tani seperti saya makan lebih utama daripada sebuah buku, nasib memang saya.

Mas Puthut EA juga tidak akan pernah tahu bahwa petani di Lereng Dieng ini begitu “Galau Murokab” karena sudah tidak bisa meminta pertemanan di Facebook karena sudah mencapai batas maksimal pertemananya, maklumlah beliau kan orang terkenal kalau orang terkenal kan memang banyak yang minta menjadi teman, nasib saya yang kedua.

Mas Zen RS yang sudah berbaik hati menerima permintaan pertemanan saya tadi siang saya doakan masuk surge beserta tujuh turunanya.

Memang ada beberapa penulis di Facebook yang belum menerima permintaan pertemanan saya ya maklumlah mereka mungkin masih sibuk menulis, bahkan beberapa nama sudah mencpai batas maksimal pertemanan alhasil saya hanya mampu melihat dan mengikuti mereka di Twitter.

Kebanggan saya adalah ketika saya bisa membaca tulisan-tulisan mereka yang saya sebutkan tadi dan saya merasa tergerak berkat tulisan tersebut dan saya melakukan suatu tindakan, tentu dari sudut pandang saya sebagai tani entah itu ketika saya membaca tulisan cak rusdi dan saya langsung bisa mencangkul ladang satu hektar, atau membaca tulisan mas Kukuh Purwanto dan saya tidak jadi menangis karena harga kentang yang  turun, atau ketika membaca tulisan Mas Richard F. Kenedy saya jadi mesam-mesem sendiri di pinggir jalan dan mengabaikan orang yang menganggap saya gila level 3.

Tentu karena tulisan merupakan alat yang ampuh salah satunya ampuh sebagai propaganda, entah itu propaganda positif atau propaganda negatif kalau tidak ngapain orang-orang seperti Ir. Soekarno, Tan Malaka, Mohammad Hatta, H. Agus Salim KH. Hasyim Asy’ari. KH. Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim dan sederat nama tokoh pendiri bangsa yang lain mau menulis, kalau tidak untuk memepangaruhi pembacanya.

Berapa orang yang terpengaruh oleh sebuah tulisan ketika Inggris menyebarkan selebaran yang berisi ancaman kepada Pribumi Surabaya, mereka marah hingga muncul perlawanan sengit dan meletuskan pertempuran heroik yang kini setiap tahun kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

Berapa orang yang marah karena terpengaruh membaca tulisan bernada nyinyir Mas Tere Liye yang mengatakan bahwa tidak ada peran Pahlawan Komunis dalam memperjuangkan kemerdekaan,  berapa orang yang marah membaca kicauan Al-Mukarom Ustad Felix Siauw di Twitter yang mengeluarkan Fatwa pasal Haramnya Selfi, dan berapa sih jumlah orang yang marah dan memaki-maki Kak Jonru yang sangat mahir membuat tulisan bernada propaganda, itu semua karena tulisan.

Maka berbahagialah mereka yang bisa menulis dan tulisanya dibaca banyak orang, maka dari itulah saya bangga bisa berteman dengan penulis terkenal meskipun itu di dunia maya yang nyata ini.

Semoga Mbah Pram penulis faforit saya bisa tersenyum lega dialam sana karena di dunia nyata ini masih ada orang yang memuja tulisanya, ah…. mungkin engkau benar Mbah bahwa menulis adalah cara utuk mencapai keabadian.