Mungkin hampir delapan tahun lalu, terakhir kali penulis menggunakan kertas dalam proses registrasi perkuliahan. Itu sebelum diperkenalkannya sistem registrasi online, yang sekarang hampir berlaku di semua kampus. Semenjak era smartphone yang seolah tiba-tiba hadir dalam kehidupan kita, banyak hal berganti dan bergeser dalam menggunakan media informasi. Termasuk penggunaan kertas.

Selain media cetak yang mulai tergantikan dengan hadirnya portal berita online, buku-buku kini juga mulai digeser e-book dan kindle. Tiket konser atau tiket nonton sepakbola juga kini menggunakan e-tiket, bahkan kini kebanyakan perusahaan dan sekolah menyarankan untuk mempertimbangkan betul-betul setiap kali kita hendak mencetak dokumen. Kalimat “please consider the environmental effect when you print this document” seringkali disematkan di akhir e-mail.

Sebetulnya, proses berubahnya penggunaan media kertas pada media elektronik punya andil besar dalam menyelamatkan lingkungan. Sebuah penelitian dari Srinivas Institute of Managements Studies di India mengemukakan, butuh sekitar 12 batang pohon, 540.000 liter air, dan berbagai bahan kimia lain untuk memproduksi satu ton kertas. WWF juga mencatat 74% dari total emisi gas rumah kaca Indonesia (tahun 1994) dihasilkan dari kegiatan penebangan dan kebakaran hutan. Lebih jauh lagi, sampai tahun 2005 saja, konsumsi kertas Indonesia mencapai 5,6 juta ton atau setara dengan penebangan 22,4 juta meter kubik pohon untuk memproduksinya.

Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kertas memang memiliki dampak yang sangat besar untuk lingkungan. Karena sumber utama pembuatan kertas saat ini memang terbatas pada pulp (bubur kertas) yang dihasilkan dari kayu. Tetapi, meski begitu, berkurangnya penggunaan kertas sebagai media tulis juga memiliki sisi negatif. Setidaknya hal ini penulis sampaikan dalam berbagai sudut pandang.

Misal, sebagai seorang pengajar, penulis pasti membuat para murid melakukan aktivitas catat-mencatat. Zaman sekarang, karena anak-anak bisa membawa laptop ke sekolah, mereka menggunakan laptop sebagai tempat untuk mencatat materi. Anehnya tingkat pemahaman dan daya ingat orang yang mencatat di kertas dengan yang mencatat (mengetik) di laptop cukup berbeda.

Hal ini dikarenakan menulis catatan di atas kertas lebih efektif dan menajamkan daya ingat daripada mengetiknya di laptop. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pam Mueller dari Princeton University dan Daniel Oppenheimer dari University of Calfornia menunjukkan bahwa menulis catatan secara konvensional di atas kertas memungkinkan otak menerima umpan balik dari setiap tindakan motorik seseorang. Umpan balik ini bersifat lebih kompleks dari pada mengetik di laptop, yang oleh situs Medical Daily disinggung sebagai ‘transkrip tanpa otak’ berkenaan aktivitas mencatat pelajaran di laptop itu.

Alasan lain bahwa teknologi kertas masih akan tetap bertahan meskipun teknologi digital tengah menguasai adalah: para pecinta buku. Meskipun e-book merajalela, tetapi penggunaan buku fisik tidak akan hilang dari pasaran. Penulis merasa, tidak ada yang memberikan suasana nostalgia yang lebih menyenangkan daripada mencium bau kertas di buku yang baru dibeli. Meskipun sangat subjektif, tetapi penulis cukup yakin bahwa keberadaan e-book tidak akan bisa menggantikan posisi buku fisik.

Meskipun mudah di bawa, dan seperti membawa perpustakaan dalam satu wadah kecil, e-book tidak nyaman untuk dibaca. Mata kita akan mudah pegal dan tidak baik untuk kesehatan. Penjualan e-book pun tidak begitu sensasional belakangan ini. The Guardian juga merilis sebuah penelitian terbaru mengenai perbandingan penjualan buku fisik dan e-book. Pada tahun 2016 lalu penjualan e-book terjun bebas sampai 17%, sementara itu, penjualan buku fisik malah meningkat sampai 8%.

Media online dan digital memang menjadi tempat terbaik untuk membaca dan mencari informasi singkat dan tidak mendalam. Tetapi untuk sesuatu seperti buku yang mencerminkan dalamnya pemahaman penulisnya, media digital bukanlah tempat yang bisa diandalkan. Hal ini juga yang menjadikan orang-orang termasuk generasi muda, tidak bisa membaca sebuah tulisan yang panjang sekarang ini. Kita menjadi agak alergi kepada kertas karena kita tahu sesuatu yang ditulis di kertas bukanlah sesuatu yang pendek dan bisa kita swipe kapan saja ketika kita bosan.

Selanjutnya, alasan penggunaan kertas tidak mungkin lenyap adalah karena semua perusahaan baik bidang manufaktur atau pun jasa, tidak bisa terlepas dari kertas. Begitu juga di bidang pendidikan dan komunikasi yang akan selalu membutuhkan kertas. Atau pada bidang kesehatan dan keuangan yang juga akan selalu membutuhkan kertas, tidak hanya untuk menulis, tetapi juga untuk menjadi material bagi alat-alat yang hendak digunakan.

Hanya saja, sesuai hukum alam, sifat dari dunia industri adalah memajukan manusia, tetapi perlahan menghancurkan lingkungannya. Oleh karena itu, yang menjadi penting bagi kita sekarang adalah memikirkan cara menanggulangi sampah kertas dan limbah yang dihasilkan oleh pabrik penghasil kertas.


Menanggulangi Sampah Kertas

Menurut Sri Wahyono dari Peneliti Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi, sampai saat ini juga Indonesia sudah melibatkan banyak elemen untuk menanggulangi sampah kertas. Akan tetapi, sampah kertas yang bisa didaur ulang untuk digunakan lagi menjadi bahan baku kertas hanya mencapai 31%. Itu dikarenakan masyarakat Indonesia tidak melihat sampah kertas sebagai suatu sumber daya, melainkan sebagai sesuatu yang harus dibuang, bukan didaur ulang.

Menanggapi hal ini sepertinya orang Indonesia harus mulai meniru masyarakat Jepang dalam urusan daur ulang sampah, tidak hanya kertas, tetapi sampah pada umumnya. 

The Mainichi misalnya, sebuah surat kabar harian di Jepang yang berinovasi dengan ‘Green Newspaper’-nya.  Mereka membuat koran dari kertas yang telah diolah dan dicampur dengan bibit tanaman, mereka juga memodifikasi tinta yang bias berfungsi sebagai pupuk. Setelah selesai membaca koran ini, pembaca bisa menyobek-nyobek kecil kertas tersebut dan menanamnya di tanah. Kemudian kertas tadi akan tumbuh kembali menjadi tumbuhan dan mengurangi secara drastis kerusakan lingkungan yang mungkin disebabkan oleh kertas. Mereka bisa melakukan itu dengan bekerja sama dengan perusahaan pemasaran yang cukup terkenal di Jepang, yaitu Dentsu.

Hal seperti ini juga bisa dilakukan oleh Indonesia jika perusahaan produsen kertas bisa bekerja sama dengan berbagai institusi yang memungkinkan. Lebih dari itu, semua orang harus sadar terlebih dahulu pentingnya mengelola sampah kertas. Selain contoh di atas, sebuah kota bernama Kamikatsu di Jepang juga memiliki predikat kota tanpa sampah. Karena memang nyaris tidak ada sampah sama sekali.

Umumnya kita hanya membagi sampah ke dalam tiga atau empat kategori, penulis pernah melihat sebuah sekolah membagi sampah ke dalam enam kategori. Itu termasuk memisahkan kaleng, botol plastik, dan kertas. Tetapi di kota Kamikatsu, para penduduk membagi sampah menjadi enam belas kategori. Kertas yang kita kenal dibagi lagi ke dalam beberapa jenis kertas untuk didaur ulang. Seperti kertas buku, kertas makanan, kertas pabrik, dan beberapa jenis lainnya.

Tentu saja kedua contoh di atas bukan hal mudah dan terkesan sangat rumit. Tetapi semua itu memiliki harga yang pantas, yaitu terkendalinya kualitas lingkungan dan alam meskipun industri kertas terus meningkat. Intinya adalah terus menjaga keseimbangan antara industri dan pelestarian lingkungan. Kertas sampai kapan pun akan tetap ada untuk membuat orang menulis dan membaca, dan berbagai kepentingan lainnya. Hanya saja, tanpa kepedulian, jangan sampai kita membiarkan anak cucu kita harus menebang pohon untuk menuliskan “Ayo kita sayangi pohon kita.”