Iklan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita. Periklanan sendiri sudah dilakukan kita dalam kehidupan sehari-hari, cara kita memperkenalkan diri kepada orang lain dengan penampilan adalah barang jualan kita yang akan menentukan orang lain tertarik atau tidak dengan kita. Seperti halnya iklan, yang ditampilkan sedemikian rupa untuk menarik perhatian pembeli.

Saat ini dunia periklanan sudah berkembang pesat, beriringan dengan banyaknya orang menggunakan media. Hal tersebut membuat tantangan periklanan semakin besar karena sudah banyaknya iklan yang beredar membuat jenuh masyarakat. 

Dengan begitu iklan harus dibuat semenarik mungkin, sebeda mungkin, sekreatif mungkin tanpa meninggalkan pesan yang terdapat dalam periklanan sehingga bisa menjadi perhatian masyarakat. Era media baru menuntut dunia periklanan harus bekerja lebih keras untuk mencapai segmen pasar yang lebih baik.

Setiap hari kita berkomunikasi, akan tetapi tidak mengetahui apa definisi komunikasi. Latar belakang orang yang berbeda-beda membuat setiap orang mempunyai definisi komunikasi sendiri-sendiri. 

Dalam hal ini definisi dibutuhkan untuk membantu studi yang dilakukan. Simbol dalam “bahasa” komunikasi adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang lain, berdasarkan kesepakatan kelompok orang. (Sobur, 2006 : 157). 

Karena itu kata komunikasi disini dipahami sebagai proses manusia merespon perilaku simbolik dari orang lain. (Adler & Rodman, 2006: 4). Bahasa, kata, gesture, tanda, merupakan bagian dari symbol yang digunakan manusia dalam mendefinisikan sesuatu atau menyampaikan sesuatu ke orang lain.

Dalam periklanan, ada istilah yang dikenal luas, yaitu ATL (Above The Line) dan BTL (Below The Line). Above The Line, pada banyak tulisan dipahami sebagai kegiatan pemasaran, termasuk periklanan, yang memiliki target audience luas, lebih menjelaskan konsep/ide, tidak ada interaksi langsung dengan audience. 

Sementara BTL dipahami sebagai kegiatan pemasaran, termasuk periklanan, yang memiliki target audience terbatas, media atau kegiatannya memungkinkan berinteraksi dengan sasaran, bahkan langsung ada tindakan pembelian di tempat. (Bisnis Indonesia, 2008). Media baru atau internet membuat sulit membedakan ATL dan BTL karena mampu menjangkau target audience yang luas namu juga spesifik.

Media baru adalah istilah untuk membedakan karakteristik media yang sudah ada. Utari dalam Komunikasi 2.0, menyatakan, dalam media baru ada kombinasi antara komunikasi interpersonal dengan komunikasi massa. 

Karena menjangkau khalayak secara global maka bisa dikatakan komunikasi massa, dan pada saat yang sama karena pesan yang ada dibuat, diarahkan, dan dikonsumsi secara personal, maka dikatakan komunikasi interpersonal. (Utari, 2011:52). Sedangkan media sosial adalah bagian dari media baru. 

Media sosial mempunyai kekuatan sebagai alat penggerak massa yang memungkinkan srtiap orang bisa menjadi komunikator massa. Semua yang disampaikan setiap orang bisa diakses orang dari penjuru dunia lain. Kekuatan media sosial yang sangat lengkap bisa menandingi media massa konvensional yang lebih ada terlebih dahulu.

Iklan yang menerpa khalayak masyarakat bertubi-tubi membuat iklan sudah seperti bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga iklan cenderung tidak diperhatikan. 

Dewasa ini dalam kegiatan di berbagai media seperti radio, televise, internet dan media sosial pada umumnya  ketika menemui iklan kita akan melakukkan skipping karena dirasa mengganggu. Kehadiran media baru merupakan angina segar bagi para praktisi periklanan. Tidak hanya copy-paste iklan yang sudah ada, akan tetapi melakukan ide kreatifitas yang baru.

Dewasa ini muncul profesi-profesi baru terkait periklanan yang bisa menjawab tantangan gaya periklanan. Salah satu dari profesi baru yang mulai dikenal dan dimanfaatkan dalam periklanan adalah profesi Buzzer. 

Buzzer merupakan orang yang dibayar oleh pemilik produk/jasa yang akan diiklankan atau oleh agensi iklan untuk mendengungkan atau mendesas-desus kan produk/jasa yang dimaksud, sehingga produk atau jasa tersebut bisa dikenal orang, dibicarakan orang, dan masuk dalam benak sasaran. 

Cara kerja Buzzer tidak seperti seller atau marketer yang memasarkan produknya menggunakan bahasa marketing, namun seperti berbicara biasa atau bercerita sehingga bisa menciptakan kedekatan, keakraban, tanpa menyadari dirinya sudah terkena iklan. Buzzer akan bercerita tentang pengalaman dan kehebatan produk atau jasa denga gaya berbicara seperti teman yang sudah kenal dan tidak menggunakan gaya menjual.

Kehadiran media baru membawa angin perubahan dalam gaya komunikasi manusia. Kegiatan periklanan sebagai bagian dari komunikasi yang merasakan hadirnya media baru yang sangat menguntungkan. Dunia periklanan dituntut untuk melakukakn pembaruan gaya iklan yang sudah ada. Masyarakat sudah jenuh dengan banyaknya iklan yang sering ditemui sehari-hari dan memilih untuk tidak memperhatikannya.

Tantangan media baru sudah sedikit terjawab oleh praktisi periklanan dengan hadirnya profesi baru terkait periklanan, yaitu Buzzer. Orang pilihan yang diberikan tanggung jawab untuk membicarakan, menggosipkan, memviralkan suatu produk atau jasa dalam arti positif, dengan tujuan menjadikan bahan pembicaraan masyarakat secara terus menerus. 

Dengan begitu diharapkan suatu brand yang diusung bisa melekat dibenak konsumen/target audience. Selain itu pemilihan Buzzer juga harus diperhatikan dengan beberapa pertimbangan sehingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan secara maksimal.

Munculnya Buzzer tidak semena-mena juga bagi praktisi iklan untuk terlena dalam mengembangkan dunia periklanan. Berbagai inovasi baru harus terus menerus diciptakan untuk menghindari kejenuhan masyarakat dari kejenuhan iklan. Sehingga iklan yang ada tidak akan mudah ditebak oleh masyarakat.