Indonesia kembali berduka. Belum selesai duka kita karena gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa saat yang lalu, pada Jumat, 28 September 2018, Palu dilanda gempa.

Wilayah Indonesia yang terletak di Pulau Sulawesi, lebih tepatnya di Sulawesi Tengah itu mengalami gempa yang hampir meratakan seluruh bangunan baik rumah, hotel, maupun pusat perbelanjaan. Bukan hanya gempa, melainkan juga tsunami yang menggulung kekayaan alam di Palu, Donggala.

Kita mengalami kesedihan luar biasa. Nurani kita terkoyak. Orang tua dan anak-anak tercerai berai. Ada yang hilang ditelan ombak. Ada yang terkubur di reruntuhan bangunan. Ada yang meregang nyawa karena tak sanggup menyelamatkan diri. Jaringan komunikasi terputus. 

Masyarakat Indonesia di luar Palu langsung tergerak hatinya baik itu pemerintah, TNI, Polri maupun masyarakat sipil. Berbondong-bondong bantuan segera disalurkan walaupun mengalami kesulitan.

Namun, di balik kesedihan melanda masih ada sekelompok orang yang menjarah makanan, minuman bahkan hingga produk elektronik. Tentu saja, kita tak bisa serta merta menghakimi apakah mereka benar-benar menjarah, atau karena ada kebutuhan mendesak.

Yang dimaksud mendesak adalah sejak terjadinya gempa pada hari Jumat hingga Sabtu sore, stok makanan habis. Akses untuk menyalurkan makanan sempat mengalami kesulitan.

Bisa jadi mereka mengambil barang elektronik kemudian dijual untuk mendapatkan uang yang kemudian digunakan untuk membeli makanan atau minuman.

Yang jelas, kita tidak bisa menghakimi sekelompok orang dengan alasan yang tak jelas. Ada baiknya, kita, masyarakat Indonesia bersatu padu membangun pemulihan keadaan masyarakat Palu dan sekitarnya.

Bagaimana caranya? Ada beberapa hal.

1. Berhenti menyebarkan berita hoaks

Saya sangat menyayangkan, di saat musibah yang terjadi di Palu, masih ada pihak-pihak yang tak bertanggung jawab menyebarkan virus hoaks.

Sebagai contoh, kabar gempa yang akan terjadi di kemudian hari. Disebarkan melalui pesan berantai atau media sosial. Hal ini menyebabkan masyarakat resah dan bingung. Dilanda ketidakpastian.

Hoaks seperti itulah yang seharusnya dihindari dan bila perlu tidak dilakukan. Yang paling penting adalah fokus pada pemulihan keadaan masyarakat di Palu.

2. Sebarkan berita positif

Berita yang dimaksud adalah tentang donasi penyaluran dana atau kebutuhan logistik yang telah diterima oleh masyarakat yang terdampak. Selain itu, bisa saja mengabarkan info tentang rumah sakit mana yang bisa menjadi rujukan menginap atau rumah makan yang menyediakan makanan atau minuman gratis.

Tentu saja, berita tersebut lebih dibutuhkan dan diterima daripada berita hoaks yang cenderung merugikan. Bahkan, jika berita tersebut disebarkan media sosial, berita akan cepat naik dan mudah direspons dengan baik oleh semua kalangan.

3. Bantu dengan cara yang kita bisa

Ada adagium daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Adagium tersebut dapat berlaku di peristiwa Palu. Kita, siapa pun itu, bisa membantu dengan cara apa pun. Menyebarkan berita baik. Mendonasikan uang semampunya. Atau, berdoa agar bencana reda, itu pun sudah merupakan sebuah sikap yang baik.

Di jalanan, saya melihat banyak mahasiswa tergerak untuk mengumpulkan dana dari para pengendara yang berhenti di lampu lalu lintas. Selain itu, di berbagai grup WhatsApp juga telah dibuka kotak donasi untuk menyalurkan dana ke Palu.

Kabar dan bantuan seperti inilah yang benar-benar dibutuhkan. Bukan sibuk membicarakan pencitraan, atau cepat dan lambat sebuah penanganan, tapi bagaimana respons masyarakat dalam melihat bencana alam di Palu.

Oleh karena itu, ketika melihat bencana yang terjadi di Palu, mari berpikir jernih dan berperilaku dengan hati yang bersih. Sebab, bantuan kemanusiaan lebih dibutuhkan daripada sibuk membuat kerusuhan berupa hoaks baik di media online maupun offline.

Semoga Palu segera pulih. Amin