Dari ratusan atau ribuan bahkan jutaan tempat ngabuburit, hanya ada dua tempat yang paling layak dikunjungi. Pertama adalah rumah sakit. Kedua adalah kuburan.

Tentu saja ngabuburit macam ini bertujuan memperkaya batin, bukan sekadar membunuh waktu menunggu datangnya magrib. Bukan pula sebuah wisata yang berbalut kapitalisme, menjual kenangan, sambil terus mengapitalisasi kenangan yang tercipta.

Sekarang, mari kita kulik dua tempat itu. Pertama adalah rumah sakit. 

Rumah sakit sangat ideal menjadi tujuan wisata. Tentu tanpa perlu membedakan kelas rumah sakit atau layanan khusus penyakitnya. Boleh saja rumah sakit spesialis panu atau kadas jika memang ada.

Dalam kunjungan ke rumah sakit, ada dua hukum yang berlaku ketika membesuk si sakit. Yang pertama adalah wajib. Boleh mengulik ayat kitab suci dan dicari pembenarannya bahwa menjenguk orang sakit dan menghiburnya itu hukumnya wajib.

Wajib? Ya wajib. Tapi syarat dan ketentuan berlaku. Syaratnya, yakni menjenguknya itu merupakan jengukan pertama. Jadi simpelnya, jenguklah si sakit satu kali saja. Selebihnya berlaku hukum yang berikutnya, yakni sunnah.

Bukankah mayoritas dari kita memang malas untuk menjenguk yang kedua, ketiga, dan seterusnya? Nah, itu akhirnya menjadi semacam hukum saja.

Di hampir semua ruangan rumah sakit, kita akan disuguhi pemandangan elok. Si sakit yang meraung-raung menahan sakit, si sakit yang tetap tersenyum menyembunyikan sakitnya, hingga si sakit yang sudah cuek dengan penyakitnya.

Dari sisi keluarga si sakit, derajat dan kualitas sebagai manusia jelas tengah memasuki fase quality control. Keluarga itu, bisa suami, istri, ayah, ibu, anak, atau bahkan tetangga bisa sangat dramatis menunggui si sakit. Rela tidur di bawah ranjang si sakit, bercampur dengan bekas tempat muntahannya, padahal di rumah biasa tidur di spring-bed dengan pendingin ruangan yang mumpuni.

Disebut masuk fase quality control karena seberapa pun dahsyat dan parahnya si sakit dengan biaya seringan apa pun, namun kehidupan normal harus tetap berjalan. Deterjen untuk mencuci pakaian harus tetap dibeli, perut harus tetap diisi, uang saku sekolah, gaji pembantu, bahkan berderma kepada pengemis dan peminta sumbangan pembangunan musala harus tetap berjalan. 

Hanya manusia-manusia bermutu tinggi yang sanggup bekerja, cengengesan, dan hidup normal saat berduka.

Paradoksal pemandangan di rumah sakit ini makin nyata ketika melihat ada pasien yang tidak jelas statusnya. Hanya tergolek tak berdaya dengan aneka jarum dan selang serta kabel menempel di tubuhnya. Serba tak jelas, apakah di benaknya ia masih memiliki harapan untuk sembuh atau tidak. Jangan-jangan sekadar harapan saja sudah mati, sehingga jiwanya bisa disebut mati juga.

Si pasien yang tidak jelas itu diperburuk keluarganya yang juga sudah mulai frustrasi. Mereka menunggui si sakit tanpa motivasi. Seperti sekadar mengisi kegiatan daripada nganggur.

Nah, paradoksal yang dimaksud adalah ketika kita melihat para perawat memberikan obat sambil tetap prengas-prenges. Perawat mendorong bed pasien sambil guyonan dengan temannya, menyiapkan obat atau mengganti botol infus sambil cekikikan matanya menatap layar gadget-nya.

Pemandangan itu disempurnakan dengan hadirnya dokter yang tenang, menyentuhkan stethoscope-nya ke dada si sakit, tanpa harus tahu suara apa yang ingin dia dengar.

Tapi memang harus berjalan seperti itu. Tak bisa dibayangkan andai para perawat dan dokter itu selalu larut dalam kedukaan keluarga si sakit. Berapa banyak tisu yang dibutuhkan untuk sekali visit memeriksa pasien, berapa tangki yang harus disiapkan untuk menampung air mata mereka.

Dokter dan perawat adalah kaum profesional, yang selalu harus menunjukkan sikap "tidak apa-apa", harus mengembangkan pembawaan "aku rapopo" dalam bertugas. Fungsi dan tujuannya jelas, menularkan virus optimis dan gembira pada si sakit dan keluarganya.

Para dokter dan perawat itu harus cool saat menyampaikan hasil laboratorium bahwa di darah si sakit bermukim virus mematikan. Kemudian menawarkan obat dengan catatan harga yang aduhai. Profesionalitas itu tak mungkin dilakukan jika ia cengeng dan mudah larut emosinya.

Jadi cocok, bukan, kalau rumah sakit menjadi tempat ideal berwisata?

Nah, tempat kedua yang juga layak dipertimbangkan sebagai tempat berkunjung atau berwisata adalah kuburan. Tak perlu kuburan para wali yang senantiasa ramai. Jika perlu, kuburan maling korban amuk massa yang tak dikenal dan sepi.

Di tempat ini, para pengunjung akan langsung berhadapan dengan misteri mahadahsyat. Para pengunjung langsung digiring pada perenungan tentang hakikat hidup. Segala derita yang sebelumnya dilihat di rumah sakit akan purna di tempat ini.

Jika kuburan atau tepatnya kematian adalah situasi purna segala masalah, maka betapa kita akan paham bahwa hidup manusia tak lebih dari sekadar intro saja.

"Ini hanya intro? Betapa ruwetnya menjalani intro saja....belum sampai ke yang lainnya," kata si pengeluh.

Belum lagi adanya keyakinan di sebagian masyarakat bahwa saat Ramadan tidak boleh mengunjungi pemakaman. Ini tentu menjadi paradoks. Tapi baiklah, kita harus menghormati adat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, bukan?

Maka, setelah berwisata, atau bahkan ngabuburit di dua tempat ideal itu, terlebih saat Ramadan seperti sekarang, mudah-mudahan bisa muncul sikap bahwa hidup hanya sekadar mampir ngakak. Apa pun yang terjadi harus dilalui sambil bergembira.