Dari kecil saya didoktrin bahwa pendidikan merupakan hal penting. Berpendidikanlah setinggi mungkin agar kelak hidupmu semakin mudah. Raihlah pendidikanmu setinggi-tingginya agar kelak kau mudah mencari kerja agar kelak kau tidak susah payah bekerja, sehingga hidupmu dapat bahagia.

Begitulah doktrin orang tua saya yang saya dengar hampir setiap hari. Tentu saya sangat berterima kasih atas doktrin itu. Tapi apakah pendidikan yang sudah daya peroleh dengan susah payah benar-benar membuat hidup saya lebih baik sebagai seorang/seekor manusia? 

Jawabannya tidak selalu. Saya memang mendapatkan kemudahan yang dijanjikan dari hasil pendidikan saya. Tapi bukan berarti pendidikan tidak menambah kesulitan saya yang lain.

Saya beri gambaran awal untuk memudahkan penjelasan saya.

Jono dan Joni adalah dua orang anak yang hidup di desa. Keduanya adalah anak petani miskin. Mereka tumbuh pada awal masa kecil yang sama. Bedanya, Jono mendapatkan doktrin dari orang tuanya bahwa hidupnya kelak harus diubah, tidak boleh melanjutkan kehidupan yang sulit seperti kedua orang tuanya. Dan jalan satu-satunya adalah menjadi orang yang berpendidikan tinggi. 

Sedangkan Joni hanya diajarkan untuk menjalani kehidupan sekarang sebaik-baiknya.

Sejak SMP, Jono sudah mengubah gaya hidupnya. Ia harus mulai belajar keras dan mengurangi waktu bermainnya. Sebagai anak orang miskin, beasiswa adalah satu-satunya jalan mendapatkan pendidikan di tingkat berikutnya. Ia semakin menambahkan intensitas belajarnya ketika memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

Di sisi lain Joni masih menikmati waktu belajar dan bermainnya sembari sesekali membantu orang tuanya di sawah. Ia hanya menikmati kehidupannya yang sekarang.

Pada akhirnya Jono lulus dengan gelar master. Menyabet gelar wisudawan terbaik, Jono mendapatkan banyak penawaran kerja dari perusahaan besar yang diimpikannya. Tak perlu waktu lama baginya menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan farmasi ternama.

Di dunia yang terpencil, Joni masih hidup dengan melanjutkan pekerjaan orangtuanya sebagai petani.

Sekarang dari gambaran di atas kita bisa membuat prediksi tentang kebahagiaan mereka berdua.

Jono memang tidak bekerja keras dengan menggunakan fisiknya. Tapi pekerjaannya sebagai direktur membutuhkan kinerja otak yang lebih melelahkan. Tanggung jawabnya yang besar sering menyita waktunya. Ia harus mengeluarkan uang ekstra untuk membayar asisten pribadi agar ia dapat pulang 2 jam lebih awal demi meluangkan waktu malam untuk anaknya.

Karena kemampuan finansialnya, standar Jono untuk kebahagiaan semakin meningkat. Wisata dalam negeri tak lagi memuaskannya. Ia perlu menempuh jarak ribuan mil untuk sekedar bersantai atau refreshing. Makanan desa sudah tak mampu lagi memenuhi nafsu makannya. Ia hanya bisa dikenyangkan dengan makanan mewah ala restoran atau hasil olahan juru masaknya di rumah yang ia gaji sampai jutaan rupiah.

Jono memang punya puluhan asuransi yang menjamin kesehatannya. Tapi ia tak sadar akibat kegiatan fisik yang jarang ia lakukan tubuhnya merapuh lebih cepat. Segala macam penyakit seperti kolesterol, obesitas dll mulai menghantuinya. Untuk berkeringat pun ia harus kembali mengeluarkan uang ekstra untuk menyewa tempat gym dan instrukturnya.

Di sudut dunia yg lain Joni  hampir mengalami hal serupa. Ia memang tampak berkerja lebih keras menggunakan ototnya. Tapi dari kegiatan dengan otot itu ia punya fisik yang lebih sehat. Pekerjaannya itu tak menuntut kehadirannya di sawah setiap hari. Sawah tak pernah menyita perhatiannya untuk anak dan istrinya.

Joni memang tak memiliki banyak uang melimpah. Tapi ia memang tak terlalu membutuhkannya. Duduk di tepi sawahnya yang hijau ditemani angin semilir sudah cukup membahagiakannya. Masakan istrinya dari hasil di kebun belakang rumahnya sudah cukup untuk membuatnya merasa lapar.

Joni memang tak memiliki satupun asuransi. Tapi berkat kegiatan fisik dan pola makannya, ia mendapatkan jaminan lebih atas kesehatan. Paling-paling masalahnya cuma encok yang sering kambuh dan akan hilang hanya dengan pijatan atau koyo.

Jadi sekarang mari kita kembali ke inti pertanyaan saya semula apakah pendidikan telah membuat manusia sebagai individu mempunyai kehidupan lebih baik? Ingat pertanyaannya kehidupan bukan kemudahan.

Dari gambaran di atas kita dapat memperoleh perkiraan jawaban bahwa pendidikan tidak membuat kehidupan manusia sebagai individu menjadi lebih baik. Namun begitu pendidikan menjadikan kehidupan manusia sebagai spesies jauh lebih baik. Apa bedanya?

Kehidupan Joni di desa yang terlihat bahagia adalah kehidupan yang baik sebagai individunya namun egois sebagai spesies. Kehidupan Joni tak akan mempunyai pengaruh terhadap keberlangsungan hidup manusia sebagai spesies di masa mendatang. Ia sama sekali tidak mengembangkan pola-pola baru kehidupan yang membuat manusia sebagai spesies menjadi lebih mudah berkembang biak.

Sedangkan di sisi lain, kehidupan Jono yang kompleks sebagai individu mampu membangun Imperium dan menjamin kesuksesan spesies manusia di masa depan. Melalui perusahaan yang ia pimpin ia dapat mengembangkan penemuan-penemuan baru misal obat-obatan baru yang berpeluang besar meningkatkan kemampuan manusia dalam melipat gandakan spesiesnya.

Pendidikan mampu membuat kehidupan manusia sebagai spesies lebih menguntungkan. Pendidikan menjadikan kemajuan pesat pada teknologi yang sangat berpengaruh pada meningkatnya angka kelahiran. 

Teknologi itu pula yang menjadikan manusia menjadi spesies yang mampu memiliki rata-rata hidup lebih lama dibanding banyak spesies lainnya. Melalui pendidikan lah manusia sebagai spesies berhasil mendominasi bumi dan menguasainya, menjadikannya sebagai spesies adikuasa.

Dari penjelasan di atas kita bisa mulai bertanya sadarkah kita bahwa dibalik banyak kemudahan yang ditawarkan oleh pendidikan, kita malah terjebak dalam kehidupan yang lebih rumit? Layakkah pendidikan yang membuat hidup kita semakin rumit tetap kita teruskan demi kelangsungan hidup anak cucu kita sebagai spesies penghuni masa depan?

Sudah benar-benar ikhlaskah kita menggadaikan kehidupan kita sebagai individu di masa sekarang demi kesuksesan kehidupan manusia sebagai spesies masa depan yang menolak punah?