Pada hujan yang jatuh seharian ini, cemas, takut dan benci hilir mudik di kepala. Jam di pergelangan tanganku menunjuk angka sembilan lewat duapuluh. .

”Mau kopi, Ing?” tanyamu tiba-tiba. 

“Ya, aku butuh kewarasan malam ini,” jawabku sambil memandang jalanan. 

“Dua sendok kopi, satu sendok gula. Minumlah, Ing, bersamaku,” katamu pelan. 

Aku menoleh, menatapmu dalam-dalam.. “Kau ingin bersamaku?" 

“Iya, kenapa? Ada yang salah?" 

"Emm... tidak, sama sekali tidak. Aku, aku hanya memastikan kata-katamu itu bukan mimpi." 

"Kau tidak sedang bermimpi, Ing." 

Aku diam, memandang lekat matanya. Sekuat tenaga menahan genangan air mata yang nyaris tumpah. Kau melihatku, tersenyum. Kau mungkin mengira aku berlebihan. Tapi tidak, ini benar. Sejak bertemu denganmu ingatan seperti terkunci, tak bisa pergi.

Tiba-tiba kau mengusap rambutku, memeluk lalu berkata, "Malam ini aku akan bersamamu. Maafkan aku yang tak bisa memberi apa yang seharusnya kau terima. Maafkan." Pelukan semakin erat, aku tenggelam di dadamu. .

*

Aku terbangun oleh dering ponsel yang tergeletak di atas meja makan, dan aroma kopi. Secangkir kopi hitam terhidang, begitu wangi. 

"Halo, selamat pagi." 

"Halo, Inge? Saya Astuti, ibunya Raka. Ibu hanya menyampaikan pesan seperti yang tertulis di surat yang ditinggalkannya. Raka mencintaimu, Ing, sangat. Raka pergi kemarin sore, kecelakaan di jalan utara menuju rumahmu." 

Lalu terdengar isak tangis. Lalu ponsel dimatikan. Lalu semua gelap. 


Kopi Terakhir 

Hampir tengah malam, di kedai kopi. Dua cangkir kopi latte, kue cokelat, dan gelisah tersaji di meja kayu. Baru akan menelpon, Vino sudah berdiri di pintu. Senyumnya kaku. Sejenak sepi, sibuk dengan pikiran sendiri. 

"Aku tak bisa menunggu, San, ini menyiksaku." Matanya basah, bibirnya bergetar. "Vino, aku mencintaimu." Vino menangis, memelukku dan berbisik, "Aku mencintaimu, San, pergilah dalam damai. Aku segera menyusulmu." 

Aku mengangguk. Bersama gelegar guntur dan deras hujan, sebuah peluru menembus jantungku. Vino tersedu lalu menyusulku pergi, dengan satu tembakan di dada. 


Tujuh

Tujuh hari berturut-turut Nadia mendapat kiriman paket tanpa nama pengirimnya. Di paket terakhir dua bungkus kopi Aceh datang bersama sebuah surat tulisan tangan... 

"Nad, menunggu itu menyebalkan ya. Kadang aku lelah, merasa payah. 

Sebelum menulis ini kuseduh dua cangkir kopi Aceh, satu untukku satu lagi untuk bayang-bayangmu. Kita berbincang tentang cinta yang sempurna, sesempurna pernikahan kita nanti." 
Jo~

*

Tujuh hari setelahnya, Nadia ditemukan tewas dengan baju pengantin di kompleks pekuburan pinggiran kota. Ia memeluk sebuah nisan bertuliskan, Jonas ~ 05 April 1997. 


Marni 

"Marniiii!!!! Kopi apa ini??!!!"  Dibantingnya cangkir ke lantai.
"Maaf, nyonya. Saya..." Beberapa tamparan keras di pipi, aku limbung, jatuh di meja, pecah segala.

"Siaaal kau Marniiiiii!!!!
Nyonya Rastri kesetanan, memaki dan memukul. Aku diam tak melawan, menahan dendam.

Larut malam seusai pesta sosialita. 

"Marniiiii!!! Kopiiiii!!!" 

"Iya nyonya."
Dalam sekali tegukan, kopi di tangan tandas. 
Sejak itu nyonya Rastri tak perlu memaki dan menamparku lagi. Kopi sianida membuatnya tidur panjang. Sedang tuan besar, masih tertidur pulas di ranjang kamarku. 


Sebelum Tidur

Kau merencanakan mimpi
Di suatu malam yang hujan 
Obrolan melebar ke kapel tua 
Kesedihan mungkin rintihan doa di depan pintu yang tak sempat bersuara

Rindu ini laut, katamu, tak jua surut
Jejak timbul tenggelam di pasir pantai
Karang-karang menghitam, tajam 
Melebamkan dada
Menyayat lengan, pelipis, kaki
Sedikit nyeri
Banyak perih

Pada puisi yang berpasir waktu, percakapan akan menemukan ujungnya di nada terendah pianomu.
Kekasih, kelak sudikah kau iringi saat aku pergi? 

Solo, 31 Oktober 2017 


1 November 2017 

23.46

Pikirku hari ini akan berjalan seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Sederhana, hanya bekerja dan menghabiskan malam dengan isi kepalaku hingga pagi datang. Rabu ini terlalu banyak mendung tanpa hujan, padahal aku menginginkannya ada. Entahlah, aku begitu menyukai hujan, ada nyeri yang kurindukan di sana. 

Pikirku aku telah menjadi begitu terbiasa bersanding dengan sepi, tak ingin menghindar apalagi pergi. Sebab aku bisa menemukanmu, mengajakmu berbincang, atau duduk bersisihan meski tanpa bicara apa-apa. Pada sepi kau adalah awal dan akhir cerita. 

Pikirku sejenak terhenti di kalimat ini...

"Loving can hurt, loving can hurt sometimes. But it's the only thing that I know. When it gets hard, you know it can get hard sometimes. It is the only thing that makes us feel alive…”   Ed Sheeran – Photograph

Kupikir mungkin memang harus seperti ini, satu-satunya yang membuat kita hidup adalah mengalami lalu menyimpannya untuk diri sendiri. Tak perlu menunggu seseorang menyadari betapa rindu-rindu telah membatu dalam waktu. 

Tak perlu menunggu seseorang mengajakmu bertemu di kedai kopi. Tak perlu menunggu seseorang menuliskan sebuah pesan… Aku berharap bisa menikmati hari denganmu, hari kita. Tidak, tidak perlu menunggu. 

Kupikir aku hanya harus terbiasa menerima hal ini; saat kau ragu, kembalilah pada yang pertama kau pikirkan. Maka kembali kubangun sepi yang lebih dari biasanya, untuk memilikimu utuh.