Pencalonan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta sedang mengalami jalan terjal. Sebagian kalangan tanpa berpikir panjang, kerap menjustifikasi Ahok telah menista Agama. Padahal, jika dilihat dari berbagai kebijakannya, Ia sangat peduli dan mencintai umat Islam.

Berikut ini 21 alasan yang menjadi bukti konkrit bahwa Ahok sangat mencintai umat Islam. Satu, sejak era Gubernur Suwirjo tahun 1945 s/d 1951 hingga 15 Gubernur selanjutnya, hanya Ahok yang mau dan berhasil membangun Masjid di Balai Kota yang diberi nama Masjid Fatahillah, dengan dana sebesar Rp. 18.8 miliar.

Dua, dari 16 Gubernur yang telah memimpin Jakarta, hanya Ahok yang membangun Masjid Jakarta dengan anggaran Rp. 170 miliar di lahan 17,8 Hektar dan total bangunan seluas 2 Hektare di Daan Mogot, Jakarta Barat. Masjid yang dibangun oleh Ahok ini juga merupakan Masjid Raya pertama yang dimiliki oleh DKI Jakarta.

Tiga, Ahok telah membangun belasan masjid di rusun-rusun yang dibangun, seperti Masjid al-Hijrah untuk Rusun Marunda, Jakarta Utara dan Masjid al-Muhajirin di Rusun Pesakih, Jakarta Barat. Empat, Ahok telah membangun belasan musholla untuk setiap RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak). Lima, Ahok memajukan Masjid Jakarta Islamic Center (JIC) Jakarta Utara sebagai Etalase Keilmuan keislaman dan Wisata Religi.

Enam, Ahok secara intensif memberikan bantuan ke masjid-masjid, musholla-musholla dan majelis-majelis taklim. Tujuh, Ada 118 musholla, masjid dan mejelis taklim yang mendapat bantuan dengan kisaran bantuan sebesar 15 juta s/d 75 juta rupiah. Hal ini berdasarkan SK Gubernur Nomor 2589 Tahun 2015. Delapan, Ada 125 musholla, masjid dan mejelis taklim yang mendapat bantuan dengan kisaran bantuan sebesar 15 juta s/d 100 juta rupiah. Hal ini berdasarkan SK Gubernur Nomor 308 Tahun 2016.

Sembilan, Ahok membeli tanah-tanah warga di sekitar Masjid untuk dijadikan ruang terbuka hijau (RTH) dan membuat taman yang nyaman. Sepuluh, sejak tahun 2016, Kartu Jakarta Pintar (KJP) diberikan ke pelajar-pelajar sekolah-sekolah Islam: Madrasah (Ibtida’iyah sampai Aliyah), dengan total anggaran KJP 2016 senilai Rp. 2.5 triliun. Sebelas, mulai tahun 2016, Ahok memberikan Kartu Jakarta Mahasiswa unggul kepada penerima KJP yang kuliah di Perguruan Tinggi, dengan memperoleh 18 juta setiap tahun.

Dua belas, Ahok mengumrohkan penjaga masjid/musholla (marbut) dan makam (kuncen). Ahok sudah mengumrohkan 30 orang Marbut dan Kuncen Tahun 2014. Pada tahun 2015, Ahok mengumrohkan 40 orang Marbut dan pada tahun 2016, Ahok mengumrohkan 50 marbut. Sedangkan pada 2017, Ahok berencana akan mengumrohkan 100 marbut.

Tiga belas, DKI Juara Umum Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) tahun 2015 dan diberi bonus Juara 1 dengan Rp. 40 juta, juara 2 Rp. 30 juta, juara harapan 1. Rp 12.5 juta, dan juara harapan 2 senilai Rp. 10 juta. Empat belas, DKI Jakarta juara 2 Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 2016 NTB dan pemenangnya diberi bonus gaji bulanan selama 2 tahun untuk mengajari ngaji.

Lima belas, Ahok memajukan jam pulang PNS selama bulan Ramadhan 2016, dari pukul 15.00 WIB menjadi pukul 14.00 WIB, agar para PNS bisa berbuka puasa bersama keluarga. Enam belas, Ahok sangat perhatian menjelang lebaran Hari Raya. Ketika harga-harga sembako naik, Ahok memberi diskon untuk pemegang KJP, sehingga harga daging yang awalnya mencapai Rp. 120.000/kg menjadi Rp. 39.000/kg.

Tujuh belas, Ahok rutin memberikan infaq, shadaqah dan zakat. Pada tahun 2016, zakat Ahok mencapai Rp. 55 juta. Delapan belas, Ahok peduli pada lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah (Bazis) DKI Jakarta yang setiap tahun menyalurkan zakat. Pada tahun 2016, ia menyalurkan Rp. 6 miliar kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat).

Sembilan belas, Ahok selalu berqurban setiap tahun dari dana pribadi. Pada tahun 2016, Ahok memotong 55 ekor sapi untuk warga Rusun dan dikirimkan ke masjid, musholla dan majelis taklim. Dua puluh, Ahok mengapresiasi guru ngaji degan memberikan gaji di masjid-masjid dengan UMR DKI Rp. 3.1 juta.

Dua puluh, Ahok mempersiapkan beasiswa untuk ribuan santri asal DKI Jakarta yang menuntut ilmu di berbagai Pesantren di luar Jakarta. Duapuluh satu, Ahok berhasil menutup tempat-tempat prostitusi, perdagangan manusia, transaksi narkoba, dan pusat-pusat maksiat seperti Kalijodo, Diskotik Milles dan Stadium.

Dari alasan-alasan ini, tidak mungkin Ahok menista agama. Isu penistaan agama yang dibangun selama ini merupakan retorika yang mencoba membenturkan antara Islam dan non-Islam. Kita mesti menjadi pemilih yang rasional yang fokus pada program, kinerja dan rekam jejak. Jangan sampai menjadi pemilih emosional yang terbelenggu fanatisme primordial, baik terkait ras, etnik maupun agama. Jangan sampai emosi diaduk-aduk oleh mereka yang tidak memiliki argumen rasional yang lebih baik.