Aruna Rai (Dian Sastrowardoyo), perempuan berusia 30-an yang masih melajang, sedang berencana menjalankan rencana tertunda untuk bertualang kuliner bersama Bono (Nicholas Saputra). Bono adalah sahabat Aruna yang berprofesi sebagai chef andal sebuah restoran di Jakarta.

Bersamaan dengan itu, Aruna harus tugas ke luar kota untuk menginvestigasi dugaan kasus flu burung yang sedang merebak. Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang menjadi kota tujuan Aruna dan tentu saja Bono.

Di Surabaya, Bono ternyata mengajak Nadezhda (Hannah Al Rasyid). Nad, panggilannya, adalah perempuan penulis tinjauan kuliner yang sering berkeliling Eropa. Tanpa diduga Aruna, di Surabaya, ternyata ia bertemu Farish (Oka Antara), mantan rekan kerja di masa lalu sekaligus pria yang pernah ditaksirnya.

Mereka berempat pun akhirnya menjelajahi keempat kota tersebut. Mencoba kekayaan kuliner nusantara, terjebak dalam cinta dan kesalahpahaman lewat bahasa tubuh, hingga terjerembab dalam friksi, friksi yang menggoyahkan hubungan mereka berempat.

Aruna dan Lidahnya terinspirasi dari novel berjudul sama karya Laksmi . Oleh karena itu, sangat penting melepaskan film dari novel untuk menilai film ini. Karena film ini adalah interpretasi Titien Wattimena, penulis skenario, dan Edwin, sutradara, terhadap novel.

Tidak adil membandingkan lebih bagus/buruk film atau novel. Membandingkan novel dengan film akan menimbulkan bias subjektif membandingkan tafsir kita sebagai pembaca dengan tafsir penulis skenario dan sutradara film atas sebuah novel.

Oleh karena itu, cukup fair bila melihat film ini dalam kerangka bentuk visual dari interpretasi sutradara atas novel Aruna dan Lidahnya. Alur cerita film ini cukup segar. Bila beberapa film lain menawarkan formula “sahabat jadi cinta”, relasi persahabatan Aruna dan Bono dalam film ini tidak berubah. Sekalipun kedekatan mereka sangat memungkinkan untuk jatuh cinta.

Detail deskripsi kuliner membuat penonton menjadi lapar sekaligus menambah wawasan. Isu flu burung dan korupsi menambah bobot film ini. Semuanya terasa ringan karena disajikan dalam bentuk drama komedi romantis. Beberapa kritik terhadap konstruksi sosial yang sudah mapan ditampilkan dengan segar. 

Humor dalam film ini menarik. Permainan ekspresi wajah, lirikan mata, dan celetukan-celetukan cerdas berhasil mengundang tawa alami. Komedinya jauh lebih baik dibanding Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 2 (2017). Sekalipun Aruna dan Lidahnya bukan murni film komedi.

Namun, film ini tidak bisa disebut sempurna. Penokohan Farish tidak utuh. Farish adalah pria yang tidak ganteng dan tidak kaya. Ia juga tidak terlihat sebagai pria yang punya inner handsome

Farish tak terlihat sebagai intelektual, pria berbudaya yang paham makanan atau yang lainnya. Ia juga tak terlihat romantis. Kerumitan masa lalunya pun hanya sebatas deskripsi yang emosinya tak tergali utuh. Padahal, masa lalu Farish menjadi bagian penting friksi dalam film ini. 

Bono jauh lebih menarik daripada Farish. Bono memahami makanan, cukup romantis dengan memasakkan makanan untuk pasangannya. Sedangkan Farish hanya terlihat sebagai pria yang berdedikasi pada pekerjaannya. Tidak jelas mengapa Aruna, sebagai perempuan berbudaya yang paham makanan, tertarik pada Farish.

Konflik dalam Aruna dan Lidahnya tidak meledak. Potensi konflik kepentingan dalam relasi kuasa tidak seimbang antara Farish dan Mbak Priya (Ayu Azhari) tidak digali lebih dalam. Latar belakang Farish dan Mbak Priya yang sebenarnya cukup kompleks hanya diuraikan lewat pernyataan tanpa dramatisasi lebih.

Aruna pun tidak menerima konsekuensi serius setelah berusaha membuka tabir rekayasa besar. Demikian pula Farish. Setelah desersi dari tugasnya, hidup tampak berjalan seperti biasa baginya. Sekalipun sempat dibumbui konflik.

Terdapat problem bawaan dalam versi novel Aruna dan Lidahnya. Wawasan dan petualangan kuliner serta kasus flu burung yang menjadi hal penting bagi para karakter ternyata bukan menjadi faktor penting pengubah fragmen hidup mereka.

Masalah serupa ternyata tidak mampu diatasi oleh tafsir skenario Titien Wattimena dan sutradara Edwin dalam versi film. Dari awal hingga pertengahan, hidup para karakter dipenuhi oleh petualangan kuliner dan flu burung. Namun ternyata di pertengahan film, isu korupsi dan perselingkuhan yang mengubah fragmen hidup mereka.

Di tengah film, para penonton baru tersadar bahwa petualangan kuliner dan kasus flu burung, hanya menjadi latar belakang bagi kehidupan keempat karakter. Kemewahan kuliner dan keunikan isu flu burung jadi terasa hanya sebagai penghibur dan pengantar. Cara menggiring penonton pada isu korupsi bertaut perselingkuhan yang menjadi titik didih relasi mereka berempat kurang mulus.

Akting para pemain cukup memukau. Dian Sastrowardoyo boleh dibilang bermain nyaris sempurna. Aruna berhasil direpresentasikan Dian sebagai perempuan yang kadang lucu, kadang jutek. Aruna dalam wujud Dian adalah sahabat yang menyenangkan, berwawasan, sekaligus punya sikap.

Bahasa tubuh dan cara Dian mengenalkan sop buntut, mie kepiting Pontianak, dan berbagai makanan Indonesia lain benar-benar berhasil membuat penonton menelan liur. Konon, ada total 21 makanan dan minuman yang ditampilkan dalam film ini. Masuk akal bila setelah menonton film, banyak penonton yang langsung pergi jajan.

Nicholas Saputra berhasil “berganti wajah”. Citra sebagai pria dingin, cerdas, dan serius seperti dalam Rangga (Ada Apa Dengan Cinta?) dan Gie (2005) berhasil diubah total. Dalam Aruna dan Lidahnya, Nicholas Saputra adalah Bono yang kasual, bisa melempar humor tapi tetap berwawasan. Cara Bono menjelaskan makanan benar-benar menggugah selera makan.

Trio Aruna, Bono dan Nadezhda dalam Aruna dan Lidahnya jauh lebih sukses membuat selera jajan penonton bangkit dibanding usaha Jody dan Ben memperkenalkan kopi dalam dua seri Filosofi Kopi (2015 dan 2018). Dialog-dialog ringan Aruna, Bono, dan Nadezhda pun lebih berbobot dalam mengenalkan tradisi kuliner Indonesia dibanding interaksi Jody dan Ben mengenalkan kopi.

Relasi Dian Sastrowardoyo sebagai Aruna dan Nicholas Saputra sebagai Bono dalam film ini benar-benar mengalir untuk dinikmati. Konon sebenarnya, hubungan mereka dalam kehidupan nyata, kurang lebih seperti dalam film ini. Hubungan persahabatan yang penuh dengan canda dan ledekan. Bukan hubungan romantis ala Cinta dan Rangga dalam dua seri Ada Apa Dengan Cinta?.

Hannah Al Rasyid tidak kalah memikat. Nadezhda alias Nad, benar-benar mempesona sebagai perempuan kelas atas penulis kuliner yang berkeliling Eropa. Kecerdasan Nad tidak hanya ditunjukkan lewat wawasan kuliner, tapi juga lewat perspektifnya tentang konstruksi sosial yang sudah mapan soal hubungan dan fanatisme.

Kecerdasan Nadezhda juga ditampilkan lewat humor-humor cerdas. Sekalipun begitu, sisi manusiawi Nad tetap berhasil ditampilkan Hannah. Hidup Nad yang tampaknya ceria sempurna, ternyata menyimpan kerapuhan. Seluruh sisi karakter Nad, mulus ditampilkan Hannah Al Rasyid.

Chemistry Hannah dengan Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra dan Oka Antara pun cukup mengalir alami meyakinkan. Hannah mampu membaur ke dalam relasi Dian dan Nicholas yang sudah terbina matang sejak 17 tahun silam di Ada Apa Dengan Cinta? (2001). Seolah-olah mereka memang bersahabat di dunia nyata.

Oka Antara menampilkan Farish sesuai proporsinya. Oka bermain cukup aman, tidak buruk tapi juga tidak istimewa. Perannya sebagai Khudori dalam Perempuan Berkalung Sorban (2009) terasa lebih menggugah. Mungkin karena naskah cerita Aruna dan Lidahnya tidak mampu meledakkan potensi aktingnya.

Secara umum, Aruna dan Lidahnya berhasil menyajikan kisah cinta renyah dan menghibur sekaligus berbobot. Di satu sisi, usaha memikirkan kembali persepsi mapan tentang fanatisme serta relasi cinta dan seksual berhasil disajikan dengan santai, lucu tapi tetap cerdas.

Di sisi lain, film ini gagal membangun tokoh Farish dan membuat penonton berdebar oleh konflik yang meledak. Namun jika kita ingin menonton film yang membuat lapar, menambah wawasan kuliner dan perspektif tentang hubungan sambil tetap tertawa, Aruna dan Lidahnya boleh dibilang sukses. [B] 

Aruna dan Lidahnya Official Trailer