Di tengah pesta reuni, Mamet (Dennis Adhiswara) berdiri di pojok sendiri. Ia bermimpi menjadi laki-laki yang dihormati semua orang dan digilai banyak peremuan. Slamet lalu menghampiri geng Cinta (Dian Sastrowardoyo), Maura (Titi Kamal), Carmen (Adinia Wirasti) dan Milly (Sissy Priscilla). Lengkap dengan segala keluguan dan kebodohan Mamet, nama panggilan Slamet. Itulah adegan pembuka Milly dan Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (M&M).

Mamet dan Milly akhirnya menikah. Mereka memiliki satu anak. Mamet dewasa, kini bertanggung jawab sebagai ayah dan suami. Ia harus mengubur mimpi menjadi chef di sebuah restoran. Mamet harus mengelola usaha konveksi Sony (Roy Marthen). Sony adalah ayah Milly, mertua Mamet.

Demikian juga Milly. Sebagai ibu balita, ia harus meredam hasrat menjadi pekerja kantoran. Rutinitas yang dulu membuatnya bosan kini ia rindukan. Milly kini harus bergelut dengan rengekan bayinya tiap hari. Apalagi ia bertetangga dengan perempuan muda yang berkarir, Jojo (Eva Celia).

Tawaran Alexandra (Julie Estelle) pada Mamet untuk menjadi chef restoran yang dilanjutkan intervensi dan kemarahan Sony, menjadi titik dinamika film ini. Alexandra adalah teman lama Mamet. Bagaimanakah Milly dan Mamet menyelesaikan problem mereka sebagai pasangan muda?

Alur kisah M&M, cukup aman. Jalinan dari satu adegan ke adegan lain relatif tertata logis. Ritme drama dan komedi dalam film ini mengalir lancar. Penonton tidak akan merasakan keterpisahan mencolok unsur drama dan unsur komedi dalam film ini.

Di satu sisi, film ini berhasil menyajikan pelesetan kebodohan dan keluguan dalam bentuk komedi segar dan ringan. Usaha film ini memancing tawa penonton tidak sampai merusak akal sehat. Unsur komedi dalam M&M jauh lebih baik dibanding Warkop Reborn: Jangkrik Bos Part 2.

Di sisi lain, aspek drama dalam film ini tidak kalah kuat. Emosi-emosi seperti rasa tertekan, kesedihan dan kemarahan dapat dirasakan dengan alami. Unsur komedi dalam film ini tidak merusak narasi utama drama pergulatan keluarga muda dalam film ini. Semuanya teramu seimbang.

Para penonton yang belum menonton dua seri film Ada Apa Dengan Cinta? (2001 dan 2015) masih dapat menikmati M&M sebagai film terpisah. Namun cara sutradara Ernest Prakasa mengaitkan M&M dan Ada Apa Dengan Cinta terasa pas. Geng Cinta tetap tampil dengan karakter khasnya masing-masing. Meskipun demikian, mereka tidak tampil dominan. M&M tetap menjadi panggung utama bagi Milly dan Mamet.   

Dennis Adhiswara dan Sissy Priscilla menampilkan kematangan akting mereka. Deni dan Sissy tidak hanya memerankan sosok lugu, bodoh dan lucu seperti dalam Ada Apa Dengan Cinta? (2001). Mereka juga sukses menyuguhkan rentang emosi yang luas pada penonton dalam M&M. Rentang emosi dari lucu, lugu, marah hingga menangis.

Para pemeran pendukung bermain sangat meyakinkan. Julie Estelle dan Roy Marthen memenuhi standar mereka sebagai pemeran papan atas. Untuk ukuran penyanyi, kualitas peran Isyana Saraswati (Rika) dan Eva Celia cukup mengejutkan penonton.

Peran-peran yang dimainkan DInda Kanyadewi (Lela), Ernest Prakasa (Yongki), Arafah Rianti (Sari), Aci Resti (Iin) dan Mamah Itje (Melly Goeslaw) berhasil memancing tawa penonton lewat komedi ringan dan sederhana.  

Lagu-lagu tema dalam film ini juga terasa berkelas. Daur ulang “Kita” milik Sheila On 7 jelas menunjukkan target pasar film ini. Ernest berusaha memancing nostalgia penonton Ada Apa Dengan Cinta. “Kita” diluncurkan Sheila On 7 tahun 1999, sezaman dengan Ada Apa Dengan Cinta? (2001). Sissy Priscilla yang membawakan versi baru “Kita”.

Musikalitas kakak beradik Rara Sekar dan Isyana Saraswati dalam “Luruh” tidak perlu dipertanyakan lagi. “Berdua Bersama” yang dibawakan Jaz alias Aziz Hayat juga layak menjadi lagu tema utama. Pendeknya, lagu-lagu tema dalam film ini tidak ada yang murahan dan merusak telinga.

Meskipun demikian, sudut pandang cerita ini masih mengambil persepsi relasi suami istri yang kental bias patriarki. Film ini tidak menawarkan perspektif yang baru. Padahal karakter Mamet sangat memungkinkan film ini menghadirkan perspektif relasi rumah tangga yang lebih setara dengan cara segar.

Mamet punya karakter yang bisa dieksplorasi untuk menegaskan model suami dengan etika kepedulian tinggi. Hasrat Mamet pada masakan dan kejujuran bukan maskulinitas kuno, seperti harta dan kekuasaan semata, sebenarnya potensi emas untuk menghadirkan model suami yang punya kesadaran gender.

Beberapa dialog menegaskan pesan domestifikasi perempuan dan ketidaknyamanan khas laki-laki patriarkis yang perlu menegaskan otoritasnya. Padahal, M&M sangat berpelung menghadirkan perspektif peran gender baru dalam relasi rumah tangga. Perspektif baru yang disajikan dalam bentuk komedi satir.

Kehadiran Rama (Surya Saputra) tidak maksimal dimanfaatkan. Rama adalah mantan pacar Milly yang sukses menjadi bankir. Padahal, kehadiran Rama bisa memicu drama pergulatan ego patriarki Mamet. Namun potensi tersebut tidak digali Ernest Prakasa.

Demikian pula kehadiran Alexandra. Daya sihir Julie Estelle memang tak tertahankan. Pesonanya sebagai perempuan yang memahami masakan, akan mengingatkan penonton pada perannya sebagai penilai kualitas kopi, El (Filosofi Kopi, 2015).

Walaupun Alexandra sempat menjadi pemicu konflik bagi Milly, friksi tersebut tidak dikembangkan lebih cerdas. Ada isu body-positive feminism yang bisa digali lalu ditampilkan dalam komedi segar. Konflik Milly dengan Alexandra sudah bisa tertebak sejak awal.

Humor pada film ini sangat memanjakan para penggemar komedi sederhana. Eksploitasi kebodohan dan keluguan sebagai pemancing tawa, cukup berhasil. Setidaknya, banyak penonton yang terbahak-bahak saat saya menonton.

Namun, komedi pada film ini tidak cukup mengesankan bagi penggemar dark comedy. Sebuah genre komedi yang mengkritik problem masyarakat, seperti patriarki, dalam bentuk satir dan sarkasme segar. Walaupun terdapat beberapa pelesetan witty dalam M&M.

Secara umum, Milly dan Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga berhasil menghibur penonton lewat drama komedi keluarga muda. Humor ringan yang berasal dari pelintiran kebodohan dan keluguan akan membayar lunas tiket bioskop Anda.

Namun, bila Anda berharap menonton film drama komedi yang menawarkan satir dan sarkasme terhadap isu patriarki dalam relasi suami istri, M&M bukan film yang berkesan. Milly dan Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga cuma menyuguhkan perspektif klise dalam relasi rumah tangga.

Cuplikan Resmi Milly dan Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (2018)