Keluhan tentang karya para akademisi atau para dosen yang hanya mengendap di kampus, khususnya di rak buku perpustakaan bahkan di gudang Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), sudah lama disuarakan oleh masyarakat. Kini, sebenarnya para Dosen pun mulai mengeluh bagaimana cara untuk mempopulerkan karya akademik mereka agar lebih mudah diakses oleh masyarakat banyak di luar kampus. 

Sebelumnya, mungkin para akademisi berpikir bahwa publikasi cukup di jurnal-jurnal ilmiah dan masyarakat yang harus mengakses jurnal-jurnal itu. Selanjutnya, mungkin para akademisi juga merasa cukup dengan menerbitkan buku-buku yang walupun isinya adalah karya ilmiah namun dibahasakan dengan lebih populer. 

Namun karya-karya akademik yang masih menggunakan bahasa akademis (di jurnal) dan sudah menggunakan bahasa populer (di buku) yang dihasilkan para Dosen, ternyata tidak cukup atau belum benar-benar menjadikan karya-karya mereka menjadi populis.

Pertama, jurnal-jurnal memang bukan konsumsi masyarakat umum, namun hanya menjadi instrumen bagi sesama akademisi atau para Dosen untuk berdebat dan berwacana secara tertulis sesama mereka. Meskipun jurnal-jurnal tersebut kadang-kadang didistribusikan secara gratis atau dibagikan kepada masyarakat umum secara cuma-cuma. 

Sering kali hanya para Mahasiswa mereka saja yang membutuhkan jurnal-jurnal itu untuk menambah literatur atau referensi dalam belajar meneliti. Selebihnya, mungkin hanya dikembalikan ke gudang redaksi jurnal atau didistribusikan di perpustakaan, bahkan hanya menjadi laporan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat di LPPM setiap kampus.

Kedua, buku-buku populer sebagai instrumen untuk mentransformasikan karya-karya para Dosen atau akademisi, walaupun sudah dipopulerkan bahasanya, kadang-kadang juga tidak cukup dimengerti oleh sebagian besar masyarakat. Sering kali bahkan ketidakmauan masyarakat mengaksesnya juga karena ketidakmampuan secara ekonomi. 

Kalaupun mampu, mungkin juga bukan menjadi prioritas masyarakat untuk dibeli dan dikonsumsi. Apalagi ketika kita mengaitkannya dengan persoalan kesadaran literasi. Maka bagaimana menyikapi semua permasalahan ini?

Menulis di Media Massa

Salah satu cara yang mungkin bisa digunakan untuk menyebarluaskan gagasan atau karya-karya yang dihasilkan oleh para akademisi atau para Dosen adalah dengan mengirimkannya ke media massa. Ketika dulu hanya ada media massa cetak atau koran, kini juga ada media massa online atau daring. 

Namun harus juga disadari bahwa ada segmentasi yang harus dipahami. Bukan sebagian besar masyarakat di sebuah negara juga yang mampu mengakses media massa cetak atau koran setiap hari, apalagi dengan berlangganan secara langsung. Begitupun, mungkin hanya generasi terkini yang sudah akrab dengan teknologi informasi dan komunikasi yang mampu mengakses karya-karya para akademisi atau para Dosen di media massa on line atau daring tersebut. 

Pertama adalah karena adanya digital gap/digital divide atau kesenjangan kemampuan mengakses teknologi yang harus dipikirkan. Namun ini bisa disiasati dengan adanya teknologi telepon genggam atau telepon seluler yang bisa digunakan untuk mengakses berita maupun karya ilmiah populer para akademisi atau para Dosen. 

Apalagi, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa masyarakat Indonesia termasuk ke dalam masyarakat yang tergolong cukup bahkan sangat tinggi dalam mengonsumsi atau menggunakan ponsel. Ketika masalah ini sudah mungkin bisa teratasi dengan realitas yang ada, maka permasalahan kedua harus dibicarakan solusinya.

Kesadaran Literasi Masyarakat

Masalah kedua adalah kembali ke persoalan kesadaran literasi. Ini bukanlah sekedar kesadaran untuk mau membaca apa saja yang mungkin berguna bahkan dibutuhkan dalam kehidupan keseharian masyarakat. Namun, kesadaran literasi juga mengharuskan kemauan dan kemampuan untuk tidak hanya membaca teks saja. 

Para pembaca teks juga dituntut untuk membaca konteks yang lebih luas dan bahkan lebih dalam akhirnya menghubungkan antara teks dengan konteks tersebut. Artinya, masyarakat pembaca pun juga perlu untuk secara lebih kritis memahami setiap teks atau karya para akademisi atau para dosen yang menulis di media massa, baik cetak/koran maupun on line/daring. 

Mengapa demikian? Selalu ada kemungkinan bahwa tulisan atau teks sebagai karya para akademisi atau para dosen pun untuk tidak tepat, bahkan salah. Hari ini, masyarakat mengenalinya dengan istilah hoax atau fake. Bahkan jika kemungkinan adanya plagiasi yang tidak hanya di ranah akademis atau ilmiah, namun juga menyebar ke ranah yang lebih populer. 

Dengan demikian, jika para pembaca tidak kritis atau bahkan tidak bijaksana, akhirnya hanya mengonsumsi hoax saja dan lebih parah lagi jika kemudian menyebarluaskannya begitu saja.

Ekosistem Literasi

Pada bagian akhir tulisan ini, akan ditutup dengan pesan bahwa ternyata setelah para akademisi atau para dosen mampu untuk mempopulerkan karya-karya mereka dengan mengubah format dari karya ilmiah akademis menjadi karya ilmiah popluer, ditandai dengan mengubat format tulisan dari jurnal ke buku dan kemudian ke media cetak, masih ada tantangan yang harus dihadapi jika para akademisi atau para dosen jika benar-benar mau dan mampu mengabdi kepada masyarakat. Yaitu para akademis atau para dosen juga harus mau untuk terlibat bahkan menginisiasi gerakan literasi masyarakat.

Gerakan literasi seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa tidak hanya ditandai dengan kemauan dan kemampuan masyarakat mengakses dan membaca setiap teks sebagai karya para akademisi. Namun juga kemauan dan kemampuan masyarakat untuk memahami konteks yang menghasilkan teks-teks tersebut. 

Bahkan jika memungkinkan masyarakat juga mampu memahami narasi yang ada pada teks dan konteks secara beriringan atau bersamaan. Dengan demikian, sesungguhnya para akademisi dan para dosen juga sedang berupaya untuk menjaga etika akademis dan ilmiah, selain menghidupkan etos untuk menghasilkan karya-karya yang baik dan benar. 

Ketika sinergi tersebut terbentuk, antara kampus, media massa, dan masyarakat menjadi ekosistem literasi, maka kemajuan bangsa bisa dicapai dengan lebih cepat. Ekosistem literasi secara sederhana adalah sebuah lingkungan yang secara sistemik dikonstruksi kesadaran dan kebenaran literasinya agar mewujudkan masyarakat yang baik secara menyeluruh dalam membangun peradaban bangsa.