Beberapa orang menggali tanah dengan tangan mereka dengan wajah-wajah bengis dan penuh emosi.

Beberapa saat kemudian beberapa orang yang lain datang dengan membawa mayat sebelum lubang selesai digali. Mereka datang dengan mengucapkan mantra aneh dan wajah kesal. “ealah, e mboh” begitu kedengarannya.

Beberapa penggali tanah kemudian pergi begitu saja tanpa berkata apapun, dan mayat itu pun diletakkan begitu saja di atas galian yang belum cukup lebar dan dalam. Semuanya lantas pergi begitu saja meninggalkan mayat itu sendirian. Mulut mereka tetap bersuara seperti mantra, sambil mereka pergi, kemudian mantra itu semakin tidak terdengan bersama hilangnya orang-orang tersebut.

Lima detik kemudian seseorang muncul dari belakang seakan terbuang atau terlempar dari suatu tempat. Dalam keadaan bingung ia sendiri di atas panggung. Ia adalah gambaran duniawi yg dibungkus dalam kain seperti mayat dalam keranda. Ia berwajah gelap dengan kostum yang entah bertema apa.

Duniawi : ha… ha… hahahaha

Ia tertawa sebentar kemudian kembali dikejutkan dengan hadirnya dua sosok berwajah lebih cerah, membawa tongkat yang diketuk-ketukkan bersamaan dengan langkah kakinya. Mereka berhenti di samping kanan dan kiri Duniawi.

Sosok 1 : ternyata kau yang membuat dunia kehilangan jiwanya, hah! (sambil menodongkan tongkatnya ke arah Duniawi yang belum sempat berdiri)

Duniawi : hei… singkirkan itu dariku (menepis tongkat yang diarahkan kepadanya)

Lalu Duniawi berdiri dan melihat dua sosok di sebelah kanan kirinya.

Duniawi : siapa kaliah? (sambil melihat salah satu sosok di sebelahnya, lalu membersihkan bajunya dari debu)

Sosok 2 : apakah bertahun-tahun kau hidup hanya memanjakan matamu? Mencari apa yang kau lihat, menikmatinya, dan… (sosok 1 menyela perkataannya)

Sosok 1 : hei, lihat badanmu, penuh dengan debu, kosong, seperti gedung-gedung yang kau bangun dan kau hancurkan sendiri kenyamanannya. Cuih… hahaha

Sosok 2 : nah, itulah yang kumaksud. Dunia ini bukan kumpulan barang-barang yang orang beli di mall. Kau ingat, orang dulu pernah bicara tentang ideologi? (Duniawi menyela bicaranya)

Duniawi : cukup! Kalian ini tau apa tentang dunia? Dan… (berfikir sejenak)

Duniawi : jangan-jangan kalian tidak pernah hidup? Jangan-jangan kalian hanya mimpi yang Cuma bisa menutup mata-mata yang lelah. Kemudian ketika mereka bangun dengan cahaya matahari, kalian hilang, seperti dongen dan legenda…. Saya ini sudah hidup bertahun-tahun. Dan asal kalian tahu. Apa yang kalian sebut Tuhan itu… Dia menciptakan aku! Aku! Menciptakan aku, ya! Bukan kalian! (menunjuk dua sosok)

Sosok 2 : pohon juga hidup, hewan juga hidup.

Sosok 1 : ya… kau ini hewan. Atau kau pohon? Bukan, rumput alang-alang yang tumbuh tanpa diminta. Hahaha

Sosok 2 : Tuhan memang menciptakan kau, Tuhan juga menciptakan aku. Tuhan menciptakan semua ini, Dia memang pencipta. Namusia tau itu. Tapi karena kau mereka lupa. Kursi-kursimu yang kau tata rapi selalu diperebutkan. Apalagi lembar-lembar kertas kusut itu, kau tawarkan dengan kata-kata manis, kau bungkus dengan kesejahteraan.

Sosok 1 : aku heran. Apa yang mereka sebut sejahtera? Kaya? Ijazah bertumpuk setinggi kepalanya? Kursi tinggi hingga kaki-kakinya tidak punya pijakan.

Duniawi : kalian tidak tau manusia. saya yang tau. Dan saya yang mereka butuhkan. Ya… MANUSIA… (hening sejenak, beberapa manusia datang dengan langkah lembut tanpa ekspresi. Tangannya dipersenjatai dengan alat-alat yang mereka gunakan untuk bekerja)

Duniawi dan dua sosok menatap manusia, sesaat kemudian…

Duniawi : mereka takut mati… (manusia ketakutan) mereka takut hidupnya berhenti sampai disini… (manusia ketakutan) dan untuk itu, aku memberi mereka kehidupan… (manusia merasa senang) karena aku mereka ada sampai saat ini (manusia senang) hahaha

Duniawi : oh, aku hampir lupa. Apa yang kalian katakana tentang tuhan (menunjuk dua sosok) adalah hayalan orang tertindas. Dan aku bukan yang tertindas. Aku penguasa! Aku penuhi apa yang mereka (menunjuk manusia) cari. Mereka relakan, kau bilang apa tadi? (bertanya pada sosok)

Sosok 1 : ideologi?

Duniawi : ya! Mereka tidak punya ideologi. Bagi mereka, itu adalah aku! Uang, jabatan, kedudukan, dan… Tempat mereka tidur yang nyenyak, merangkai mimpi indah yang akan mereka jalani esok. Ya! Mimpi itu adalah aku. Mereka memimpikan aku setiap malam.

(manusia merasa cita-citanya untuk kaya, berkedudukan, dan memiliki jabatan, akan segera tercapai)

Sosok 1 : kau gila…!!! (menunjukkan tongkatnya pada duniawi) manusia punya pikiran. Mereka bukan hewan yang hanya berinsting. Mereka tau etika. Mereka tau nilai.

(manusia berfikir tentang nilai dan etika)

Sosok 2 : kau… selamanya tidak akan pernah tau apa itu nilai. Bahkan kau sendiri menganggap dirimu adalah benar adalah nilai. batu itu keras, itu adalah nilai. kau pun keras, seperti batu. Dunia ini akan menangis, dan saat itu, tetes-tetes air matanya akan melubangi tubuhmu yang keras itu, sampai burlubang dan hancur!!!

(manusia bersorak, ya!!! Seperti sedang berdemonstrasi)

Duniawi : itu hukum alam!!! Dan alam memang sekarang adalah hukum.

(manusia bersorak, ya!!! Seperti sedang berdemonstrasi)

Sosok 1 : tidak tidak, kau tidak benar! Justru karena akal manusia hukum tumbuh, seperti ladang yang mereka pupuk dan akan mereka rasakan hasilnya. Kita adalah akal, kita adalah akal budi dan nilai etika.

(manusia bersorak, ya!!! Seperti sedang berdemonstrasi)

Sosok 2 : kita adalah nilai manusiawi!

(manusia bersorak, ya!!! Seperti sedang berdemonstrasi)

Duniawi : apa kalian? (bertanya kepada manusia)

Duniawi : apa yang kalian dapatkan dari kepalamu? Tidak ada kan?

(manusia bingung)

Duniawi : kepalamu selalu merindukanku, hanya itu. Kau sendiri pekerjakan tangan kakimu demi apa? Aku!!! (manusia mengangguk)

Duniawi : hei, (menunjuk sosok) nilai manusiawi hanya sampai pada batok kepala. Kau tau, dunia ini real. Kau ini sedang mimpi. Hahaha

(manusia tertawa)

Sosok 1 : tidak ada yang tidak mungkin, bahkan untuk menyatakan sesuatu yang abadi adalah nilai, kau penghuni neraka!

Duniawi : itu adalah surgaku, hahaha

Sosok 2 : benar, dan bukan untuk kehidupan manusia, mereka yang akan memilih karena kehendak hatinya. Mereka akan bersamaku!

Sosok 1 : bersamaku!

Sosok 1,2 : bersamaku! bersamaku! bersamaku! ………!!!

Manusia : tunggu! (berkata kepada sesama manusia)

Manusia : kita punya kehendak bebas. Karena kita punya pikiran!

(manusia yang lain berkata, benar! Seperti sedang berdemonstrasi. Dua sosok kemudian menunduk dan menghadap kebelakang)

Manusia : kita adalah pikiran.

Manusia : kita adalah kebebasan.

Manusia : kita adalah landasan nilai.

(manusia serentak berkata, ya! Kemudian mereka menghancurkan mayat dengan alat-alat yang mereka bawa, dengan berkata. Bunuh penindasan! Bunuh penindasan! Bunuh penindasan! ………!!!)

Duniawi : tidak… tidak…!! (lalu terjatuh dan tersungkur)

Setelah manusia selesai menghancurkan mayat, mereka lantas pergi sambil tetap berkata “Bunuh penindasan!” berkali-kali hingga tak terdengan lagi.

Duniawi mencoba bangkit dan mengatakan satu kalimat sebelum benar-benar mati, “manusia! kau, bukan, Tuhan!”