Lagu Final Count Down meraung-raung memenuhi segala ruang. Lagu berdurasi 4 menit itu mengudara hingga satu putaran.  Sejenak  berhenti lalu berbunyi lagi seakan mituhu dawuh si empunya perangkat. Seperti ada perintah jangan kau berhenti sebelum si anu bangun.

Sebetulnya tak ingin Sinta memasang nada dering tersebut. Terlalu norak. Namun pernah dia memasang nada dering yang lembut, akibatnya malah seperti musik pengantar tidur yang meninabobokan dirinya. Dia pun terbangun dua jam lebih lambat dari  alarm yang telah disetelnya.

Sedetik dua detik tak ada yang mematikan suara itu. Semua seakan terkena sirep. Beku oleh dinginnya pagi dibalut pekatnya kabut. Entah sudah di menit keberapa Final Count Down itu menggema.

Tiba-tiba Sinta terbangun. Ingin dia melanjutkan peraduannya, sayangnya suara alarm semakin menggila. Yang dia takutkan seisi rumah bakal meledak telinganya, apalagi bila si bungsu terbangun juga. Pasti akan berteriak kencang-kencang. Sinta mencoba mengira-ngira mungkin saat itu masih di kisaran jam empat. Di angka itu kemarin malam dia menyetel alarm.

Dengan mata yang masih lengket, entah lem apa yang sudah menempel di ujung-ujung matanya, dia seret kakinya ke dapur. Di atas kulkas tadi sebelum tidur, dia menaruh ponsel. Dia tak mau meletakkan benda itu di kamar, lebih-lebih di dekat telinga. Bukannya membangunkan melainkan malah membuat tidurnya semakin lelap. Begitu jemarinya  mematikan suara riuh bisa dipastikan sejurus kemudian netranya sudah merem.

Sinta menuju ke arah cahaya yang berpendar-pendar disertai getar dan dering nyaring yang membahana. Benda itu masih tercolok pada stop kontak. Di layar tertulis: baterai penuh. Segera dicabutnya kabel pengisi daya kemudian dia raih ponsel. Dengan sekali sentuh hilanglah kegaduhan itu.

Bukan Sinta bila hanya sekadar mematikan alarm. Apalagi di layar terlihat notifikasi pesan whatsapp masuk. Dengan telapak tangan dia usap layar ponsel itu. Pagi yang tak biasa. Ada pesan whatsapp masuk dari bu Monik. Terkirim jam tiga pagi.

[Selamat pagi bu. Kabar duka. Ibu mertuaku dipanggil Tuhan tadi jam 1]

Sinta mendesah. Baru seminggu, istri pak David kembali ke pangkuan Tuhan, kini sudah ada berita duka lagi.  Manusia memang hanya menjalani. Hidup dan mati hak prerogatif Sang Maha Pencipta.

Tak urung, Sinta mesti menjawab pesan itu sebagai wujud empati atas duka yang sedang dialami, pun menanyakan kapan pemakaman akan dilangsungkan. Pesan disematkan agar bu Monik dan keluarga tabah dan ikhlas dengan cobaan ini.

Sebagai Humas di kantor tempatnya bekerja Sinta harus mengabarkan berita ini. Tentu saja  melalui pesan whatsapp di grup. Dan dia sudah bisa menduga setelahnya akan muncul ucapan keprihatinan dan simpati dari penghuni grup yang saling bersahutan.

Tetapi entahlah pagi itu Sinta merasa begitu penat. Mungkin hari yang seharusnya bisa dia habiskan untuk rehat, bersenda gurau dengan suami dan anak tercinta harus terganggu dengan ritual takziah. Itu sebabnya sehabis salat Subuh, Sinta menggulung selimutnya. Dalam sekejap dia sudah pulas dalam buaian mimpi. Hari libur ingin dimanfaatkannya untuk melemaskan persendian setelah selama sepekan berkutat dengan pekerjaan.

Sinta seperti melihat benda putih kelabu bergulung-gulung. Serupa awan panas yang muncul dari sebuah gunung, lalu membubung tinggi ke angkasa, seperti letusan Merapi beberapa tahun silam. Letusan yang dapat dilihat dengan jelas dari lantai atas rumahnya. Sinta terduduk. Dia mengucak mata. Kotoran sebesar biji pasir menempel di sana. Bukan hujan abu pasir gunung Semeru yang kemarin sore terbatuk. Kiranya itu hanya mimpi. Bukannya Semeru lebih dari seratus kilo dari tempatnya berada, bisik batinnya.

Ah, mungkin aku terbawa oleh berita tik tok, begitu pikirnya. Akhir-akhir ini berita letusan gunung tertinggi di pulau Jawa itu demikian santer terekspos di berbagai media sosial.

"Eh, istriku sudah bangun!"

Erwan menyambut Sinta di pintu kamar. Sinta tersenyum mendengar gurauan suaminya. "Aku sudah belanja." Erwan menunjuk dua kantung plastik di atas meja

Sinta melongo. Tak mengira suaminya pagi-pagi sudah pergi ke pasar. Berbelanja kebutuhan rumah tangga. Sayuran dan bumbu dapur dibelinya.

Sinta melengos. Demi membayar rasa malu di hatinya segera dia keluarkan barang belanjaan dan mereka-reka menu terlezat untuk hari itu. Sop iga dan goreng tempe serta sambal kecap, pekiknya dalam hati

"Habis masak ‘ntar aku diantar takziah ya," ucap Sinta dari dapur, "malas juga sih sebenarnya. Tapi gimana. Gak enak juga."

Seperti biasa Erwan hanya diam dan mengiyakan keinginan Sinta. Bukan karena manja tetapi memang Sinta tak bisa berkendara. 

Usai memasak, Sinta mandi cepat. Dia tak ingin tertinggal upacara pemberangkatan mayat. Dia sungguh ingin memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang sama sekali belum pernah dikenal dan ditemui.

Sinta mematut wajahnya di cermin. Dia rapikan dengan polesan bedak tipis. Tak lupa dia oleskan lip balm agar bibirnya lembab dan tidak pecah-pecah. Lipstik warna peach lalu dia sapukan di bibir agar tak nampak  pucat.

Sinta lantas mengambil dua amplop. Satu amplop kecil untuk takziah pribadi dan satu amplop besar yang akan diisi dengan uang dari dana kas sosial. Dana itu dikumpulkan dari iuran yang telah ditentukan besarannya. Per bulan bendahara akan menyetor sejumlah uang padanya. Sinta bertanggungjawab penuh atas segala tetek bengek berkaitan dengan masalah sosial. Yang sunatanlah, kawinanlah, lahiran, sakit hingga meninggal dunia.

Sinta membuka tas ransel. Tas yang biasa dia bawa saat bekerja. Tas yang nyaman di punggung dan besar daya tampungnya. Segala macam benda dapat dia angkut. Termasuk dompet kas dana sosial. Tak seharusnya dia membawa dompet itu setiap hari.  Selain menambah beban di pundak, tidak tiap hari juga ada kegiatan bernuansa sosial. Namun dia tidak mau berspekulasi bila tiba-tiba ada kejadian serupa berita dukacita yang tak bisa direncanakan sebelumnya. Lebih sering bersifat dadakan dan harus hari itu juga diselesaikan.

Perlahan dia tarik ritsleting tas berwarna hitam polos. Dia buka bagian demi bagian. Jantungnya berdesir. Kok tidak ada sih, gumamnya. Detak jantungnya terasa makin cepat. Kepanikan memburu. Dia sangat yakin dompet itu ada di sana. Dia buka sekali lagi. Nihil. Dia tetap tidak bisa menemukan benda itu. Lalu dia beralih ke tas coklat. Tas yang dia bawa saat melayat di rumah David. Tak ada juga.

"Dompet ... Dompet ... Mana dompet?"

Sinta spontan berteriak. Erwan yang sedang mencari kontak mobil terlonjak.

"Lah, kau taruh di mana?" sambung Erwan.

Sinta masih sibuk mengaduk isi tasnya. Bahkan hingga ke keranjang anyam mungil tempat dia menaruh bekal makan siang. Benda yang dicarinya tak juga ditemukan.

Sinta menghitung prakiraan uang sosial yang tersimpan di sana. Kemarin tanggal lima dia baru saja menerima setoran dana sosial dari bendahara. Dana sosial bulan lalu juga tersimpan di sana. Satu. Dua. Ah. Lima jutaan.

Apabila dompet tersebut benar-benar hilang, itu artinya Sinta harus menggantinya dengan nominal yang sama. Oh My God! Alamat gak makan satu bulan, batinnya dalam hati.

Mana usaha Erwan sedang sepi. Orderan taksi online dari hari ke hari kian menyusut tak seperti saat awal dia memulai usaha tersebut. Sejak pandemi sepertinya banyak orang beralih profesi akibat PHK  besar-besaran. Ojek online menjadi salah satu alternatif. Namun imbasnya pemasukan menjadi berkurang.

Kemana dompetku, desisnya. Sinta mencoba mengingat terakhir kali dia mengempit benda berbentuk persegi tersebut.

Pikirannya mengembara. Dia mencoba mengaitkan dendrit yang ada di otaknya. Terakhir kali dia menaruh benda itu di meja Ana. Saat itu dia sedang berdiskusi tentang donasi peduli Semeru. Mungkinkah dompet itu di sana? Sinta mencoba mencari jawaban.

Segera dia kirim pesan whatsapp kepada Ana. [Sori, Na. Tadi ada dompet ketinggalan di mejamu, gak]

Semenit. Dua menit. Ana tak juga membalas. Membaca pun tidak. Bahkan tidak tampak informasi bila dia sedang online.

Tak sabar Sinta mencoba menelpon Bang Miko, tenaga sekuriti kantor yang kerjanya mondar-mandir untuk memastikan situasi dan kondisi selalu terkendali. Ah, kemana juga Bang Miko. Telepon tersambung tapi tak juga diangkat.

Sinta menggerutu. Bagaimana aku harus mengisi amplop dansos, batinnya. Paling tidak dia harus menyediakan sepuluh lembaran kertas berwarna merah.

Tangannya mulai bergerilya di antara ruang-ruang tasnya. Dia mencoba mengais sisa rupiah yang terselip. Selembar dua ribuan. Sinta tak putus asa. Dia korek-korek lagi. Selembar lima puluh ribuan. Dua lembar seratus ribuan. Keringat mulai membasah jidatnya.

"Yah, minjem duitnya. Ayah masih ada duit kan?"

Takut-takut Sinta mendekati Erwan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya. Cipratan air dari rambut membuat Sinta memundurkan tubuhnya.

"Apa?"

"Minjem duit," bisik Sinta mesra. "Delapan ratus."

Tanpa berganti baju Erwan mencari dompetnya.

"Ayah beneran masih punya duit?"

Erwan tidak mengacuhkan ucapan Sinta, sebaliknya dia malah mengeluarkan isi dompet satu per satu. Delapan lembaran rupiah berwarna merah dia jajar di atas meja. Tanpa memerhatikan binar-binar wajah istrinya Erwan segera mengambil baju.

"Ah, telat. Jenazah baru saja dimakamkan. Untungnya, aku sempat ketemu Bu Monik. Dia gak ikut ke makam. Lagi gak enak badan katanya. Eh, Ayah kok masih punya duit, sih," tanya Sinta usai melayat. Erwan memang memilih menjadi sopir daripada ikut bertandang ke rumah duka. Dia paling anti berbasa-basi.

Senyum Erwan mengembang. Sejenak kemudian tertawa. "BSU-ku cair. Dua minggu lalu aku dapat notifikasi kalau dapat BSU dan wajib  buka rekening. Eh tadi pagi cair. Untung langsung kuambil. Bila tidak?"

"Ya, aku gak bisa takziah."

Sinta diam-diam berpikir bagaimana dia harus mengembalikan duit kas sosial yang hilang.

Apakah dia harus mengarang cerita bila uangnya dicuri orang? Dompetnya jatuh? Dicopet? Tasnya sobek?

Dia menggaruk kepalanya. Dia tak habis pikir kenapa dia bisa ceroboh. Bagaimana bisa dia begitu pelupa? Di mana dia menaruh dompet itu?

Sinta menatap titik-titik gerimis siang itu. Tiba-tiba kepalanya berdenyut-denyut. Dia tak sanggup menghadapi teror Bu Angel yang suka nyinyir. Pasti Sinta akan disalahkan dalam hal ini. Pasti semua orang akan mengata-ngatai bahwa ini murni kesalahannya. Dia harus bertanggungjawab penuh atas apa yang telah dilakukan.

"Aku tak sanggup," desis Sinta.

"Ada apa, Mah?"

Erwan yang fokus pada kemudi dan jalanan terkejut melihat istrinya diam dan tak menjawab saat diajak bicara. Dia lalu meminggirkan kendaraan. Mesin dimatikan namun AC dibiarkan tetap menyala. Ditepuk-tepuknya pipi Sinta.

"Eh, Mamah kenapa?"

Sinta bergeming. Matanya menutup pun bibirnya. Keringat dingin bercucuran.

Erwan segera sigap. Dia keluar dari mobil lalu mencari kayu putih di kantung pelapis jok. Dari satu jok ke jok lainnya.

Dia terkesiap. "Dompet," ucapnya dalam hati. Dibukanya dompet sovenir kondangan di tempat saudara beberapa bulan yang lalu. Lembaran-lembaran merah bertengger di sana. Inikah dompet yang dia cari, batinnya dalam hati.

Segera dia beranjak menuju ke tempat Sinta. Dia buka tutup botol minyak kayu putih. Dengan perlahan sekali dia oleskan minyak itu ke hidungnya.

"Dompet. Apakah ini dompet yang kau cari?" kata Erwan bak psikiater memainkan pendulum menghipnotis pasiennya.

"Bangun. Bangunlah bila ini adalah dompet yang kaucari."

Perlahan Sinta membuka mata dan menggosok hidungnya. Mungkin terlalu banyak minyak menempel di sana. Panas dan pedih hingga ke mata. Ada bayangan kabur yang semakin lama semakin nyata. Jelas.

Tangan Sinta meraih dompet yang disodorkan padanya.

"Ini dompetku. Yah ...ini dompetku," teriaknya yang tak lebih dari sekadar bisikan.

Tubuhnya masih terasa lemah meski beban berat yang tadi menghimpit lenyap sudah.

 Dompet itu kini dipeluknya erat-erat. Tak dihiraukannya pesan whatsapp yang masuk.