Sedari tadi, guyuran hujan di Kota Padang rasanya memanggil-manggil rindu. Di tengah suasana negeri yang lagi kritis akibat Gelombang 411, disusul kemenangan Donald Trump, kerinduan itu kian tak beralamat. Apalagi kalau itu ditujukan untuk mereka yang “terlupakan” baik disengaja maupun tidak.

Tentu tulisan ini tak mencakup banyak, tapi ini bukti aku mengingat, sebagai bentuk penghormatan atas Pahlawan Nasional di negeri ini. Tulisan ini tentang Alimin yang terlupakan.

Meninggal di Jakarta, 24 Juni 1964, Alimin bin Prawirodirdjo adalah seorang pahlawan. Paling tidak begitu yang dicatat oleh Keppres No. 163 tahun 1964, dua hari setelah wafatnya.

Ialah Bung Karno yang memberi gelar itu kepadanya. Kemudian Pak Harto yang membuat dia terlupakan. Siapa sangka pula, sebagai manusia yang menyadari eksistensi Sang Pencipta, Alimin minta diantarkan dengan tahlilan menuju Sang Ilahi.

Alimin dilahirkan di Solo, tahun 1889. Dia adalah bocah gembel yang diangkat sebagai anak oleh G.A.J. Hazeu, seorang penasehat pemerintahan Belanda untuk urusan bumipuetra. Hazeu memberi Alimin beberapa keping uang, dan dia langsung membagi-bagikannya secara rata kepada teman-temannya.

Menurut Hazeu, Alimin sudah punya bibit sosialisme sejak kecil. Ya, barangkali itu sebagai akibat tuntutan nasib, hingga kolektivisme di tengah rakyat miskin lebih menguat ketimbang dalam bentuk masyarakat mana pun.

Sebagai manusia muda, Alimin pernah menimba ilmu bersama HOS Tjokroaminoto, Guru Bangsa, di Gang Peneleh VII, Surabaya. Di tempat itu pula, sejumlah tokoh nasional pernah indekos. Sebut saja, Sukarno, Musso, Semaun, Suherman Kartowisastro, Samanhudi, dan Kartosuwiryo. Bersama dengan Musso, Alimin mendapat kamar depan, sementara Sukarno kamar paling belakang, paling gelap.

Di rumahnya, Tjokroaminoto menghidupkan diskusi ilmiah-dakwah, Ta’mirul Ghofilin. Tentu saja penghuni kos turut terlibat.

Dari diskusi itulah, kelak, anak-anak didik Tjokroaminoto menempuh jalan yang berbeda-beda. Sukarno menjadi nasionalis. Kartosuwiryo berdiri di kelompok Islamis. Sedangkan Alimin, Musso, dan Semaun, gadang sebagai tokoh Komunis. Sejak indekos itu pula, Alimin mulai bersusah-payah menghimpun kaum buruh dan petani.

Revolusi Bolshevik pecah di Rusia pada 1917. Sarekat Islam, organisasi pergerakan yang diketuai oleh Tjokroaminoto sejak 1914, ketika itu banyak dihuni oleh tokoh-tokoh Marxis. Bahkan pada saat pecahnya revolusi itu, Sarekat Islam Semarang diketuai oleh Semaun, yang juga merupakan murid dari Sneevliet, tokoh perintis komunisme di Indonesia. Bayang-bayang kemunculan Sarekat Islam (SI) Merah pun tampak ke permukaan.

Pada tahun 1918, Tjokroaminoto duduk di Volksraad, parlemen yang dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebagai perwakilan Central Sarekat Islam (CSI). Setahun kemudian, terjadi kericuhan di Jawa Barat, dikenal dengan peristiwa Afdeling B. Peristiwa itu merupakan bentuk pembelaan SI terhadap kehidupan petani. Tjokroaminoto dan sejumlah tokoh lain, termasuk Alimin, ditangkap Belanda. Ketika itu hubungan Alimin dengan gurunya masih terbilang harmonis.

Pada Oktober 1920, Semaun dan Darsono bertikai dengan Tjokroaminoto. Alimin ikut ke dalam barisan Semaun. Tiga kritikus ini menyampaikan serangannya di surat kabar Sinar Hindia, yang sesekali dibalas oleh Tjokroaminoto di Oetoesan Hindia, media massa milik CSI. Pun begitu, nama Alimin dianggap setara dengan Semaun dan Darsono sebagai pendiri SI Merah.

Haluan politik Alimin yang memilih Marxisme tidak lepas dari Henk Sneevliet, tokoh komunis Belanda yang datang ke Indonesia, tepatnya Surabaya, pada 1913. Setahun kemudian dia mendirikan Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang.

Alimin tercatat sebagai anggota organisasi tersebut dan menjadi rekan Sneevliet dalam penyebaran ajaran Marxisme di dalam tubuh SI. Pun orang Belanda, Sneevliet dinilai tidak seperti seorang kolonial.

Bebas dari penjara, pada tahun 1923 Alimin bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang didirikan oleh kolega lamanya, Semaun, pada 1920.

Setahun setelah bergabungnya Alimin, PKI mulai bergerak untuk melawan penjajahan Belanda. Desember 1925, PKI menyusun pemberontakan dalam rapat rahasia di Prambanan. Menurut rencana, pemberontakan akan dimulai di Padang, basis utama PKI, sebelum meluas ke Jawa.

Ketika itu sejumlah tokoh PKI, seperti Musso dan Alimin, adalah buron. Mereka bersembunyi di Singapura sembari menyusun pemberontakan.

Pun begitu, ada rasa khawatir kalau pemberontakan gagal, hingga dukungan Tan Malaka, mantan ketua PKI, di saat-saat seperti ini sangat diperlukan. Terutama karena posisi Tan sebagai perwakilan Komintern di Asia Tenggara. Lewat Tan, diharapkan Moskow merestui aksi PKI.

Februari 1926, Alimin diutus oleh Musso ke Manila, Filipina, untuk menemui Tan. Namun, Tan menilai PKI belum siap, belum matang untuk melakukan revolusi. Alimin tidak mengatakan Tan menolak. Dia seolah sengaja untuk tetap melanjutkan pemberontakan. Sementara kepada Tan, dibilangnya Musso menolak putusan Tan.

Maret 1926, Alimin bersama dengan Musso menuju Kanton, Tiongkok, dan kemudian ke Moskow, Uni Soviet, tanpa sepengetahuan Tan. Menduga Alimin menipunya, Tan bertolak ke Singapura pada bulan Juni.

 Tentu saja, Alimin tidak ada di sana. Tan berusaha untuk mencegah pemberontakan di Indonesia. Sedangkan di Moskow, Stalin menolak rencana Musso dan Alimin. Ironisnya, Musso diam-diam mengirim pesan agar revolusi tetap dilanjutkan, pada bulan Oktober.

Tragedi itu pun terjadi pada 12 November 1926. Sekitar 300 orang bersenjata berkeliaran di Jakarta dan Tangerang. Mereka menyerang penjara Glodok, menyerbu barak polisi, dan memutus jalur komunikasi. Konon, orang-orang yang melintasi jalan raya di Jatinegara, ditembaki. Pun begitu, benar, bahwa gerakan tersebut tak terorganisir, hingga dengan cepat padam.

Pergolakan berlanjut di Silungkang, Sumatera Barat pada 4 Januari 1927, sebelum dipadamkan Belanda, dan sebelum PKI dibekukan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Bagaimanapun, aksi 12 November 1926, tepat 90 tahun silam, yang dilakukan PKI merupakan bentuk nyata pemberontakan fisik pertama yang dilakukan oleh organisasi pergerakan dalam menentang Belanda.

Alimin ketika itu memang tak tahu rimbanya, sampai ia mendengar kabar kemerdekaan Indonesia, dan pulang pada 1946. Dia aktif lagi mengorganisir PKI dan menulis refleksinya, Analisis, pada 1947. Namun, Alimin setidaknya tercatat sebagai bagian dari anak negeri ini yang bertindak menentang bentuk-bentuk imperialisme asing di Indonesia.

Selamat Hari Pahlawan. Semoga kau tak lagi terlupakan, Alimin. Masih ada sepotong doa untukmu, atas jasa memperjuangkan kemanusiaan dan kemerdekaan, Amin.